PELAJARAN 1
Bertumbuh
dan Semakin Berhikmat
1 Samuel 3:19; 2:26; 1 Korintus 3:1-9
Oleh : Vita Ria Pratiwi, S.Pd
Kelas : X MM-OTKP
Semester : Ganjil
KD. 3.1 Menganalisis ciri-ciri
pribadi yang terus bertumbuh menjadi dewasa
4.1 membuat karya yang
berkaitan dengan ciri-ciri pribadi yang terus
bertumbuh menjadi dewasa
Indikator:
· Menjelaskan bahwa kedewasaan fisik harus diikuti oleh kematangan emosional
· Menyebutkan minimal tiga hal yang menunjukkan kematangan emosional dirinya, serta sikapnya yang
menunjukkan kedewasaan dan tanggung jawab
Pendahuluan
SUMBER: https://sabr.org/bioproj/person/chili-davis/
Chili
Davis, seorang pelatih
bisbol Amerika Serikat
pernah mengatakan, “Growing old is mandatory; growing up is optional.” Dalam bahasa Indonesia ungkapan ini dapat
diterjemahkan demikian, “Bertambah umur sudah
seharusnya terjadi. Namun menjadi
dewasa adalah pilihan.” Maksudnya, setiap orang pasti
bertambah usianya. Setiap
hari, minggu, bulan,
dan tahun, usia
kita terus berjalan. Kita
tidak mungkin menghentikannya sampai tiba waktunya ketika kita menutup mata dan meninggal dunia kelak. Namun
bertumbuh menjadi dewasa dalam
pemikiran, sikap, dan perilaku, adalah pilihan. Tidak setiap
orang yang dewasa umurnya juga dewasa pemikiran, sikap dan perilakunya. Setiap orang
harus memutuskan untuk
berubah menjadi dewasa
dalam hal-hal tersebut, sehingga ia menjadi
bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan di dalam
hidupnya.
Abraham Lincoln, presiden Amerika
Serikat yang terkenal itu, pernah mengatakan, “Yang
penting bukanlah tahun-tahun di dalam hidupmu, melainkan hidup
yang kamu jalani
di dalam tahun-tahun usiamu itu.” Di sini kembali kita melihat bahwa
bukan panjangnya usia,
atau sejauh mana umur
kita sekarang, melainkan bagaimana kita mengisi
tahun-tahun usia itu dengan
hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri
maupun orang lain.
Kematangan Pribadi
dan Emosi
Salah
satu cara yang paling mudah untuk menilai kematangan pribadi seseorang adalah
dengan mengamati ekspresi emosinya. Emosi adalah
pengalaman sadar yang subyektif, yang terutama sekali dicirikan oleh
ungkapan-ungkapan psiko-fisiologis, reaksi
biologis, dan keadaan
mental. Dalam kehidupan sehari-hari, emosi seringkali terlepas
begitu saja ketika seseorang tidak mampu mengendalikan dirinya. Akibatnya, perkataan dan tindakannya pun jadi
tidak terkendali. Contohnya, apa yang dilakukan oleh Tonya Harding
dan kawan-kawannya. Setelah
semuanya terjadi dan mereka
dinyatakan
bersalah, lalu dijatuhi
hukuman, mungkin mereka
baru menyesali apa yang telah mereka
lakukan.
Ekspresi Emosi
Emosi
seseorang biasanya bisa
dilihat melalui bahasa
tubuh, mimik, atau suara orang tersebut. Gerakan-gerakan atau intonasi
suara, walaupun tidak sama persis dengan orang lain tetap bisa kita lihat.
Ada orang yang ingin memperlihatkan
ekspresi emosinya kepada orang lain supaya orang lain memahami apa yang dirasakannya. Tetapi, ada juga orang yang berusaha menyembunyikan emosinya
supaya tidak diketahui orang lain, tentu
dengan berbagai pertimbangan yang dimiliki oleh
orang tersebut.
Sepanjang perjalanan hidup ini, kita akan berhadapan dengan bermacam- macam orang. Selama itu pula kita akan banyak menerima pendapat-
pendapat tentang diri kita atau tentang apa yang kita lakukan. Ada yang memberi pandangan positif, namun
ada juga yang negatif. Pendapat
atau pandangan orang lain itu sedikit
banyak memberi pengaruh
pada bagaimana cara kita
memandang diri kita
sendiri. Bukan hanya
pendapat orang lain
yang mempengaruhi diri kita, pandangan kita terhadap diri sendiri juga dapat mempengaruhi cara kita memandang
atau menilai diri kita sendiri. Pada akhirnya,
hal itu akan
berpengaruh pada perkembangan emosi kita.
Triantoro Safaria dan Nofrans Eka
Saputra dalam bukunya Manajemen Emosi, memberikan contoh
tentang bermacam-macam ekspresi
jasmani yang bisa muncul
dari emosi seseorang, misalnya:
·
Emosi marah: wajahnya memerah, nafasnya menjadi
sesak, otot-otot tangan
akan menegang, dan energi tubuhnya
memuncak.
·
Emosi takut:
mukanya menjadi pucat,
jantungnya berdebar-debar.
Ekman dan Friesen seperti dikutip
oleh B. Walgito
dalam buku Pengantar
Psikologi Umum (1994), menyebutkan tiga macam emosi
yang dikenal dengan display rules (penampilannya pada wajah atau tubuh manusia), yaitu:
1. Masking: keadaan seseorang yang dapat menyembunyikan atau menutupi emosi yang dialaminya. Misalnya, seorang perawat
marah karena sikap pasien yang menyepelekan pekerjaannya. Kemarahannya diredam atau ditutupi sehingga
gejala kejasmaniannya tidak
tampak.
2. Modulation: keadaan seseorang yang dapat mengurangi emosi yang dialaminya. Misalnya, karena
marah, ia mengomel-ngomel (gejala jasmani) tetapi kemarahannya tidak meledak-ledak.
3. Simulation: orang tidak mengalami emosi, tetapi seolah-olah mengalami emosi dengan menampakkan gejala-gejala kejasmanian.
Berdasarkan pembagian emosi di atas,
faktor yang paling
penting dalam mengembangkan emosi yang sehat adalah pengenalan yang benar tentang
diri sendiri serta kesediaan untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang matang dan bertanggung jawab. Matang, artinya tidak berpikir kekanak-kanakan, hanya peduli akan
kepentingan dan keuntungan dirinya sendiri. Bertanggung
jawab, artinya memperhitungkan setiap tindakannya, apa untung
rugi dari tindakan
yang akan saya ambil ini? Apakah saya akan
menyakiti orang lain dengan keputusan yang saya ambil?

Rangkuman
Masa remaja adalah masa yang
menyenangkan sekaligus menyulitkan karena ini adalah masa transisi. Akan tiba masanya
kamu akan bertumbuh dan menjadi dewasa.
Seiring dengan perkembangan menuju kedewasaan itu,
kamu juga akan mengalami perkembangan emosi dan menemukan jati
diri kamu. Itulah sebabnya
kamu perlu menemukan dan mengenal terlebih dahulu akan konsep diri kita. Kamu
harus memiliki konsep
diri yang positif
dan berusaha mengubah dirimu
serta cara pandangmu terhadap persoalan di dalam hidup sehingga kamu akan dapat menanggapi segala permasalahan dengan cara yang positif pula.
Kita sudah
melihat bagaimana sifat
kekanak-kanakan, egoisme, emosi,
bisa menyebabkan
kita mengambil keputusan-keputusan yang keliru dan bahkan merugikan kita. Kita sudah
melihat bahwa pemahaman tentang diri sendiri yang kadang-kadang harus
berani menerima kekurangan dan kekalahan justru adalah sikap
yang penting sebagai
ciri-ciri kedewasan kita.
Kita juga sudah melihat betapa pentingnya hidup
bersama dengan firman
Tuhan setiap hari supaya kita bisa bertumbuh menjadi dewasa, matang,
dan bertanggung jawab dalam hidup kalian.
Kesetiaan mempelajari dan menjalankan firman Tuhan dalam hidup kita
– bahkan sejak kita masih kanak-kanak – akan membimbing kita ke dalam kehidupan yang berhikmat, seperti
yang diperlihatkan oleh Samuel dan Salomo.
Tuhan Yesus memberkati