MODUL PENDIDIKAN
AGAMA KRISTEN DAN BUDI PEKERTI
|
|
|
Mata Pelajaran |
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti |
|
Kelas/Semester |
VII/Gasal |
|
Tema |
Indahnya Mengampuni (Bahan Alkitab: Kejadia 45:1-14; Matius
6:14-15 dan Matius 18: 22-35) |
|
Pengantar |
Shalom, selamat berjumpa dalam pembelajaran PABP. Pada modul 1 ini kita akan belajar
tentang Indahnya Mengampuni. Namun, sebelumnya marilah kita berdoa terlebih dahulu.
Mengingatkan kepada peserta didik sekalian tetap mengenakan protokol
kesehatan untuk menjaga kesehatan diri.
Mengampuni
berarti membebaskan dirimu dari kebencian dan membiarkan perasaan damai
menguasai hatimu. Sikap yang luar biasa, bukan? Pernahkah kamu mengampuni
atau diampuni seseorang? Coba ceritakan pengalamanmu itu secara berkelompok
atau kamu dapat berbagi dengan teman sebangku
tentang bagaimana kamu mengampuni ataupun diampuni oleh seseorang. Apa
yang kamu rasakan setelah mengampuni atau diampuni olehnya? Sebaliknya,
adakah pengalaman ketika kamu tidak bersedia mengampuni orang lain ataupun
tidak diampuni oleh orang lain, bagaimana perasaanmu? |
|
Tujuan Pembelajaran |
Setelah
mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:
1. Mendiskripsikan arti mengampuni 2. Mengidentifikasi tokoh yang bernama Nelson Mandela 3. Menganalisa dampak dari mengampuni bahi hidup
manusia melalui cerita Yusuf 4. Mengemukakan cara Allah menyelamatkan manusia
berdosa 5.
Membuat doa permohonan
pengampunan dosa dengan benar |
|
Kegiatan Pembelajaran :
|
Kegiatan
Awal :
1.
Diawali dengan
berdoa 2.
Menyanyikan lagu
“Dihapuskan dosaku” Kegiatan Inti: 1.
Peserta didik
membaca (literasi) pada buku siswa halaman 2 2.
Peserta didik
membaca rangkaian materi pada pokok bahasan pada buku siswa halaman 3 s/d 5
Kegiatan Penutup : Peserta
didik mengerjakan latihan soal pilihan ganda dan membuat rangkaian doa yang
isinya memohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat . |
|
Materi
Mengampuni
artinya kita memaafkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya dan tidak
mengungkit kesalahan itu lagi. Pada kenyataannya cukup sulit untuk
melakukannya. Mengapa? Karena tiap orang memiliki sifat egois atau keakuan
yang cenderung menempatkan dirinya sebagai orang yang paling benar sedangkan
orang lain selalu menjadi pihak yang salah. Mengapa demikian? Karena kita
selalu tergoda untuk hanya melihat ke dalam diri kita saja, kita berpikir
dari sudut diri sendiri, dan lupa untuk berpikir dari sudut orang lain.
Contohnya, jika terjadi masalah atau pertikaian dengan teman, kita cenderung
menyalahkan teman tanpa mau bersusah payah mencari tahu mengapa dia marah
pada kita. Padahal kemungkinan ada perbuatan kita yang tidak berkenan
baginya. Banyak orang mengira mengampuni berarti melupakan masalah, merelakan
kesalahan orang lain, membebaskan diri dari kebencian, dendam dan marah.
Sebenarnya mengampuni itu adalah
perbuatan yang terutama kita lakukan untuk diri kita sendiri tanpa
melupakan orang yang menyakiti kita.
Dengan
mengampuni kita melepaskan diri kita dari amarah dan dendam, bukan melepaskan
orang lain dari pikiran kita. Namun seberapa dalam pun luka yang telah
terjadi, kita tidak akan sembuh dari luka itu sampai kita mengampuni
kesalahan orang yang bersangkutan. Pengampunan adalah sebuah keputusan dari
hati dan mengampuni tidaklah mengubah masa lalu, melainkan mencerahkan masa
depan. Artinya, pengampunan yang diberikan tidak berarti menghapus masa lalu
karena semua sudah terjadi. Dengan mengampuni, seseorang dibebaskan dari
beban kebencian, dan hati terasa damai. Dengan begitu langkah ke depan
menjadi cerah.
Apakah Mudah
untuk Melupakan Rasa Sakit Hati Kita? Dalam
beberapa kasus sangat sulit untuk menyembuhkan luka hati dan rasa benci,
tetapi perlu diingat bahwa pengampunan
itu dapat berarti hal seperti berikut ini. 1. Membebaskan diri dari
beban kebencian dan menggantinya dengan damai sejahtera. Coba kamu ambil air
putih dan tuangkan kopi kental atau teh sedikit demi sedikit. Lama kelamaan
air putih akan berubah menjadi kuning
untuk teh dan hitam untuk kopi.
Seperti itulah hatimu diubah dari putih menjadi hitam. Kamu tidak ingin
hatimu pekat seperti kopi, bukan? 2. Tidak berarti kita
bersedia terluka untuk kedua kalinya. Yusuf memastikan bahwa
saudara-saudaranya telah berubah dan dia tidak akan menjadi korban untuk
kedua kalinya. Jadi, kamu dapat mengampuni tetapi tidak menyerahkan dirimu
untuk menjadi korban kemarahan ataupun tindakan negatif lainnya.
Bagaimana Mengampuni?
Kamu pernah
dipermalukan oleh seseorang dan hal itu selalu tersimpan di dalam ingatanmu.
Makin kamu mengingatnya, makin dalam rasa benci. Coba kamu berpikir, mengapa
dia melakukan hal itu padamu! Kemudian, cobalah membuat daftar penyebabnya.
Misalnya, karena kamu pintar dan tekun belajar, atau karena kamu cenderung
tidak mau bergaul sehingga teman-teman memiliki pemahaman yang salah tentang
dirimu. Mungkin karena kecerobohanmu menyebarkan rahasia yang dipercayakan
padamu, atau karena kamu lalai mengundangnya ke pesta ulang tahunmu, atau
karena kamu punya teman baru. Jika dirunut, selalu ada hubungan sebab akibat
dalam rusaknya sebuah hubungan yang berakhir dengan pertengkaran dan
kebencian, juga dendam. Jika kita bersikap objektif, kita akan temukan bahwa
kedua belah pihak turut menyebabkan rusaknya hubungan antarteman atau
saudara.
Dalam kisah
Yusuf dan saudara-saudaranya, ia sadar bahwa dahulu ayahnya terlalu mencintai
dan mengistimewakan dirinya. Hal itu menyebabkan saudara-saudaranya iri hati
dan mereka membencinya. Wujud dari kebencian itu, mereka menjualnya sebagai
budak. Namun, dia tidak membenci mereka, tetapi juga Yusuf tidak secara
otomatis mengampuni saudara-saudaranya. Dia menguji saudara-saudaranya dengan
cara menyelipkan piala ke dalam karung adik mereka yang paling kecil. Yusuf
ingin menguji saudarasaudaranya apakah mereka telah berubah, atau mereka akan
mengorbankan adiknya seperti dahulu ketika mereka membenci dan menjualnya
sebagai budak. Ternyata, saudara-saudaranya telah berubah. Mereka membela
adiknya Benyamin serta menangisinya, bahkan kakak tertua rela ditahan untuk
menggantikan adiknya. Dengan cara itu,
Yusuf mengetahui bahwa kini
saudara-saudaranya telah berubah dan karena itu, sudah waktunya dia
menyatakan dirinya pada mereka dan memaafkan mereka. Yusuf tidak menanti
supaya saudara-saudaranya ketakutan dan mengemis untuk dimaafkan, tetapi
dialah yang mengambil inisiatif untuk mendatangi mereka.
Jadi,
pengampunan yang kita berikan pada seseorang hendaknya lahir dari niat baik
dan ketulusan hati kita. Yusuf pada dasarnya memiliki hati pemaaf. Sejak dia
melihat mereka, dia sudah mulai berupaya menciptakan pemulihan hubungan
persaudaraan mereka. Amatlah penting untuk menghubungkan pengampunan atau
memaafkan dengan memulihkan hubungan. Mengapa demikian? Jika kita mengampuni
seseorang, upaya kita tidak berhenti hanya pada sekadar mengampuni, kita juga
berupaya memulihkan hubungan kita dengan orang itu. Jika mengandalkan
kemampuanmu sendiri, tentu sangat
sulit untuk mengampuni sesama. Mintalah Tuhan membantu kamu untuk
memberi hikmat supaya dapat mengampuni orang lain dan juga bersedia mohon
maaf pada orang lain atas kesalahanmu. Matius
18:22-35 yang berisi perumpamaan mengenai orang yang kesalahannya telah
diampuni, tetapi dia tidak mau mengampuni kesalahan orang lain. Sang raja
adalah Tuhan, sedangkan yang berutang adalah umat Tuhan. Simpulan perumpamaan
ini terdapat dalam (ayat 35). |
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar