Rabu, 15 September 2021

BAB III Gereja yang Hidup di Dunia Bahan Alkitab: Matius 28:16-20; Kisah 2:44-47; 6:1-6; 1 Korintus 11:20-34

 BAB III

Gereja yang Hidup di Dunia Bahan Alkitab: Matius 28:16-20; Kisah 2:44-47; 6:1-6; 1 Korintus 11:20-34


Mata pelajaran: PABP

Kelas: IX (Sembilan)

Guru: Vita Ria P., S.Pd


Kompetensi Dasar

3.2

Menjelaskan karya Allah melalui perubahan-perubahan baru yang dihadirkan gereja di tengah-tengah dunia

4.2

Membuat refleksi terhadap perubahan-perubahan baru yang dihadirkan  gereja di tengah-tengah dunia

   Menyanyikan lagu NKB 200: 1-3 ”Di Jalan Hidup yang Lebar, Sempit”.

Sebaliknya, patut disayangkan bahwa ada gereja yang tidak mengembangkan kreativitasnya untuk menghadirkan program-program untuk orang muda dan remaja. Kegiatan-kegiatan yang disediakan hanyalah persekutuan remaja berupa kebaktian remaja, persekutuan doa, vocal group, dan kegiatan-kegiatan sejenis itu. Di banyak kota besar gereja-gereja yang tidak mengembangkan pelayanan yang kreatif untuk orang muda seringkali kehilangan orang-orang muda dan remajanya yang lari ke gereja-gereja lain.

  

Materi

B.     

Sumber: Dok. Kemdikbud Gambar

 3.1 Petrus berkhotbah pada hari Pentakosta

         Gereja yang Memberitakan

      Dalam Kisah Para Rasul pasal 2 digambarkan bahwa pada hari Pentakosta yang pertama, tiga ribu orang mengaku percaya dan dibaptiskan. Semua ini dimulai ketika Petrus memberitakan tentang Yesus yang bangkit kepada orang banyak yang ada di Yerusalem. Dalam Kisah 2:14 dikatakan, “Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: ‘Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.’

Tugas yang mereka laksanakan disebut dalam bahasa Yunani sebagai kerugma atau “pemberitaan”. Kerugma sendiri sebetulnya berarti “pengumuman”, seperti yang biasanya disampaikan oleh petugas kerajaan yang menyampaikan berita-berita penting pada masa itu, karena saat itu belum ada surat kabar atau media massa lainnya.

       pemberitaan apa yang disampaikan oleh gereja? Dalam contoh dari Kisah 2:14 kita melihat bahwa Petrus memberitakan tentang siapa Yesus itu dan apa makna kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Di dalam kebaktian-kebaktian kita sekarang mungkin kita mendengar berbagai pemberitaan yang lain. Misalnya khotbah yang berisi penghiburan untuk jemaat yang sedang berduka cita, atau pengajaran tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai orang Kristen, atau tentang tanggung jawab orang Kristen dalam kehidupan di masyarakat dan bagaimana menjalin hubungan dengan orang-orang lain yang berbeda keyakinan, dan lain-lain.

  C.      Gereja yang Bersekutu

Di atas sudah dijelaskan bahwa pemberitaan atau kerugma disampaikan dalam konteks ibadah. Itulah yang terjadi dalam kehidupan orang Kristen perdana dan yang biasa kita sebut sebagai “khotbah” sekarang. Dalam Alkitab Perjanjian Baru, kita dapat menemukan 106 kata “memberitakan”.

     Dalam 1 Korintus 1:23 kita menemukan ucapan Rasul Paulus tentang apa atau siapa yang ia beritakan, yaitu, “tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan…” Bagaimana bentuk ibadah yang dilakukan orang-orang Kristen perdana? Apakah ibadah mereka sama dengan ibadah gereja kita sekarang? Ternyata tidak! Ibadah mereka sangat berbeda dengan ibadah yang kita kenal sekarang. Ibadah yang umumnya terdapat di gereja-gereja sekarang sudah berkembang jauh karena berkembangnya pemahaman tentang arti liturgi yang dimiliki oleh masing-masing gereja.

D.      Gereja yang Tidak Membeda-bedakan

            kisah Para Rasul melukiskan kehidupan umat Kristen perdana yang indah. Mereka tidak egois melainkan membagi-bagikan harta mereka kepada semua orang dan hidup dengan secukupnya, sehingga setiap orang dapat hidup dengan cukup pula. Tidak mengherankan apabila dalam ay. 47 dikatakan bahwa “… mereka disukai semua orang”. Orang-orang yang bukan Kristen, yang ada di sekitar mereka dan melihat kehidupan kelompok baru ini, tampak senang dengan mereka.

        Dalam Perjamuan Kasih ini tergambar persekutuan yang sangat erat dan mendalam antara orang-orang Kristen perdana ini. Tidak ada pembeda-bedaan di antara mereka. Orang-orang dari kelas atas bergabung dengan mereka yang dari kelas bawah. Orang seperti Onesimus, seorang budak yang melarikan diri dari rumah tuannya, disapa 71 sebagai anak dan buah hati oleh Rasul Paulus (lih.: Flm.). Dalam Galatia 3:28, Paulus mengatakan, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Sekat-sekat yang memisahkan manusia berdasarkan ras (Yahudi dan Yunani), kelas (hamba dan orang merdeka), maupun jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), kini dihapuskan oleh kasih Yesus Kristus yang mendamaikan kita semua.

E.       Pdt. Dr. Martin Luther King, Jr. dan Perjuangannya

Pdt. Dr. Martin Luther King, Jr. (1929-1968),seorang pendeta Gereja Baptis, adalah seorang tokoh pejuang hak asasi manusia dari Amerika Serikat. Ia berjuang untuk hak-hak orang-orang kulit hitam yang tidak dianggap sebagai manusia yang setara dengan orang-orang kulit putih, karena mereka adalah keturunan budak. Seseorang yang dilahirkan dari pasangan campuran, akan melahirkan keturunan yang selamanya dianggap “cacat”, karena darah pasangan yang berkulit hitam. Ini disebut sebagai “Aturan Setetes Darah”. Artinya, bila ada setetes saja darah orang kulit hitam pada diri seseorang, maka hal itu akan membuatnya tidak layak digolongkan sebagai orang kulit putih.

       Pada masa itu, orang-orang kulit hitam dilarang masuk ke tempat-tempat umum, restoran-restoran yang disediakan khusus untuk orang-orang kulit putih. Gereja mereka pun dipisahkan oleh warna kulit mereka. Ada gereja-gereja yang dikhususkan untuk orang kulit putih yang tidak boleh dimasuki oleh orang kulit hitam. Bila mereka naik bus, mereka harus duduk di belakang. Apabila ada orang kulit putih yang naik ke dalam bus itu, mereka harus berdiri dan memberikan tempat duduk mereka kepada orang itu, Rosa Parks in Montgomery Bus – Iconic Photosmeskipun misalnya yang naik itu seorang laki-laki muda yang sehat dan kuat, dan orang kulit hitam itu seorang perempuan tua rentah dan sakit.

         Pada suatu malam yang dingin di kota Montgomery, Alabama, Amerika Serikat, pada bulan Desember 1955, Rosa Parks, seorang p e r e m p u a n k u l i t hitam, menolak untuk menyerahkan kursinya di bus kepada orang kulit putih yang baru naik. Hari itu ia sangat lelah setelah bekerja seharian Karena itu ia menolak untuk berdiri. “Kamu tidak mau berdiri?” tanya sang sopir. Rosa Parks menatap lurus pada wajahnya dan berkata, “Tidak.” “Kalau begitu,” kata Blake, sopir itu, “saya akan lapor ke polisi dan kamu akan ditahan.” Dan Parks menjawab perlahan, “Silakan.”

 Gambar 3.2 Rosa Parks di bus yang tersegregasi di Montgomer

          Parks ditahan dan didenda $10. Hal ini kemudian memicu gerakan antidiskriminasi besar-besaran di seluruh AS. Pdt. Dr. Martin Luther King, Jr., mengorganisasikan sebuah boikot bus yang kemudian menyebar di seluruh wilayah selatan AS. Selain itu, Pdt. King juga menggerakkan gereja dan orang-orang kulit hitam untuk melawan undang-undang yang menjadikan mereka bukan warga negara. Pada 28 Agustus 1963, ia mengadakan “Mars di Washington”, sebuah unjuk rasa untuk menuntut hak-hak orang kulit hitam untuk pekerjaan dan kemerdekaan. Unjuk rasa ini diikuti antara 200.000 hingga 250.000 orang, kebanyakan orang kulit hitam, tetapi juga ada beberapa ribu orang kulit putih yang bersimpati dengan perjuangan mereka. Dalam “Mars di Washington” itu, Pdt. King menyampaikan pidatonya yang sangat terkenal, yang berjudul “Aku Bermimpi”. Dalam pidatonya itu, ia antara lain mengatakan,

    Pdt. King dibunuh pada 4 April 1968 oleh orang yang membencinya. Namun menjelang ajalnya, King berkata, “Saya memaafkan orang itu.” Perjuangan Pdt. King pada tahun 1950-an hingga 1960-an itu baru terlihat buahnya ketika Barrack Obama, seorang berdarah campuran kulit putih (ibunya) dan Afrika (ayahnya), terpilih menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat terpilih pada tahun 2008. Semua ini rasanya tidak mungkin terjadi apabila Pdt. King tidak berjuang untuk hak-hak asasi orangorang kulit hitam. Ini pun tidak mungkin terjadi, apabila Pdt. King tidak terinspirasi oleh ajaran Tuhan Yesus.

G.     Nyanyian Penutup:

 “Mengasihi Lebih Sungguh” Lewat lagu ini, siswa diajak untuk lebih bersungguh-sungguh lagi dalam mengasihi, mengampuni dan melayani sesama. Ini bukan perintah yang sederhana dan mudah, sebab Tuhan Yesus sendiri mengatakan, “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.

H.     Doa Penutup

Tuhan, ajarlah agar kami rela melakukan kehendak-Mu, apapun yang mungkin terjadi. Tambahkanlah jumlah orang-orang yang berkehendak baik dan yang memiliki kepekaan moral. Berikan kami keyakinan yang diperbarui akan prinsip antikekerasan, dan jalan kasih seperti yang diajarkan oleh Kristus. Amin

Rabu, 01 September 2021

Tugas dan Tanggung Jawab Gereja

Pengertian dan Fungsi Panggilan Gereja 

SMP Kanaan Ungaran
sumber:https://www.google.com/search?q=tri+tugas+gereja+yaitu&sxsrf=AOaemvLd3XFdD8226JOWFNUmK5ITO6ZuHA:1630541784093&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwj329O-gd_yAhXSfn0KHdlyAD0Q_AUoAnoECAEQBA&biw=1242&bih=597#imgrc=8BfarHLviWrQPM


Gereja berasal dari bahasa Portugis, “igreya.” Dalam Perjanjian Baru gereja sebagai tempat persekutuan orang beriman yang disebut ekklesia. Istilah ini umumnya untuk jemaat yang dipanggil berkumpul atau melakukan pertemuan. Panggilan itu ditujukan kepada orang-orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus atau kepada orang-orang yang telah berada dalam persekutuan keselamatanNya. Karena mereka mempunyai tujuan yang khusus, yaitu memberikan atau menyatakan recana keselamatan yang dilakukan oleh Kristus.[1] Setiap orang-orang yang telah dipanggil memiliki tugas dan tanggung jawab di dunia ini. Oleh sebab itu, gereja adalah adalah gereja yang melayani, bersaksi keluar mengenai perbuatan-perbuatan Allah yang meneyelamatkan dengan rendah hati.[2]

Landasan hidup gereja adalah pelayanan yang penuh cinta kasih persaudaraan di antara sesama manusia (Kisah. 4:32). [3] Panggilan dan fungsi gereja bukan hanya mengenai spiritual saja tetapi gereja juga harus mampu menyikapi tantangan jaman ditengah realita kehidupan, politik, ekonomi, kekerasan, hak azasi, gender, ekologi, globalisasi, dan sebagainya.

Tugas dan Tanggung Jawab Gereja

Dalam menjalankan misinya, gereja terpanggil dalam tri tugas yakni koinonia, marturia, dan diakonia. Dalam menjalankan tri tugas gereja tersebut, diharapan akan dapat menyentuh semua aspek umat dan tidak ada yang tertinggal, itulah yang disebut dengan pelayanan holistik. Ketiga tugas gereja tersebut tidak dapat dipisahkan dalam mendukung hakekat gereja yang kudus. Artinya tidak ada yang lebih penting dari antara ketiganya tetapi sama-sama penting dan harus samasama dijalankan dalam menjalankan tugas panggilan gereja.

Koinonia

 Koinonia merupakan hidup kebersamaan orang-orang di dalam iman yang sama yakni pada Yesus Kristus. Dalam persekutuan itu mereka menerima anugerah dari Kristus yang kemudian diteruskan kepada seluruh ciptaan. Koinonia itu adalah Tubuh Kristus yang sekaligus menunjukkan manifestasi karya penyelamatan Allah bagi yang bersekutu. Kononia itu dibentuk oleh pengikut Kristus yang selalu menghadapi hal-hal yang diketahui. Persekutuan yang dimaksud bukanlah persekutuan biasa, seperti yang kita lihat dan kenal dalam masyarakat. Persekutuan ialah persekutuan “yang penuh” yang timbul oleh iman bersama dari anggotaanggotanya kepada Kristus.[4] 

Marturia

Marturia berarti kesaksian, saksi itu dipanggil untuk memberi kesaksian. Sebagai saksi, maka bukanlah orang yang memberi kesaksian tersebut menjadi pusat perhatian, tetapi Dia yang disaksikan. Tujuan memberi kesaksian bukanlah untuk kemuliaan atau kepentingan diri sendiri, bukan pula untuk kebenaran atau keadaan diri sendiri, tetapi siapa yang disaksikan. Dalam dunia Kristen modern ‘kesaksian’ berarti menceritakan tentang apa yang dikerjakan Kristus atas hidup seseorang menjadi pengalaman orang lain.[5]

Tugas marturia sering dipahami dalam arti sempit sebagai penginjilan kepada non-kristen. Tetapi merujuk pada makna marturia dalam Perjanjian Baru, penginjilan hanyalah salah satu bagian dari marturia. Tugas panggilan marturia mencakup kesaksian dalam ajaran yang benar dan tindakan yang benar-benar mengacu pada firman Tuhan. Tugas marturia juga menyangkut keterbukaan gereja secara positif, kritis dan teologis terhadap berbagai kenyataan kehidupan.[6]

Diakonia (Pelayanan)

Diakonia mencakup arti yang luas, yaitu semua pekerjaan yang dilakukan dalam pelayanan bagi Kristus di jemaat, untuk membangun dan memperluas jemaat, oleh mereka yang dipanggil sebagai pejabat dalam tugas-tugas gereja dan oleh anggota jemaat biasa. Dalam diakonia secara luas ini terdapat tempat diakonia dalam arti khusus, yaitu memberi bantuan kepada semua orang yang mengalami kesulitan dalam kehidupan masyarakat. [7]Apa yang kita pahami dari bahasan ini menjadi jelas maksud dari melayani di dalam jemaat. Setiap karunia atau kharisma merupakan pemberian yang dipercayakan kepada setiap orang dengan maksud supaya mereka yang mendapat karunia itu memamfaatkannya dan menggunakan karunia yang Tuhan berikan untuk melayani Tuhan. Yesus menyimpulkan: “bahwa Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberi nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28).



[1] Herman Cremer, Biblico-Theological Lexicon of the New Testament Greek (Edinburrgh & New York: T&T Clark & Charles Sribner’s Sons, 1891), 332

[2] Anreas A. Yewangoe, Tidak Ada Gheto: Gereja di dalam Dunia (Jakarta: BPK-Gunung Mulia & Litkom PGI, 2009), 4

[3] T. Kacobs, Dinamika Gereja (Yogyakarta: Kanisius dan Nusa Indah, 1979), 36.

[4] 5 J.L. Ch. Abineno, Pedoman Praktis Untuk Pelayanan Pastoral (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 71.

[5] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini” (Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF, 1996), 340.

[6] Viktor Tinambunan, Gereja & Orang Percaya (Pematang Siantar, LSAPA STT HKBP, 2006), 65.

[7] A. Noordegrraaf, Orientasi Diakonia Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 34.


SENI TARI KELAS 9

Tari Kreasi kelas 9