BAB III
Gereja yang Hidup di Dunia Bahan Alkitab: Matius 28:16-20; Kisah 2:44-47; 6:1-6; 1 Korintus 11:20-34
Mata pelajaran: PABP
Kelas: IX (Sembilan)
Guru: Vita Ria P., S.Pd
Kompetensi Dasar
|
3.2 |
Menjelaskan karya Allah melalui perubahan-perubahan baru yang
dihadirkan gereja di tengah-tengah dunia |
|
4.2 |
Membuat refleksi terhadap perubahan-perubahan baru yang
dihadirkan gereja di tengah-tengah
dunia |
Menyanyikan
lagu NKB 200: 1-3 ”Di Jalan Hidup yang Lebar, Sempit”.
Sebaliknya,
patut disayangkan bahwa ada gereja yang tidak mengembangkan kreativitasnya
untuk menghadirkan program-program untuk orang muda dan remaja.
Kegiatan-kegiatan yang disediakan hanyalah persekutuan remaja berupa kebaktian
remaja, persekutuan doa, vocal group, dan kegiatan-kegiatan sejenis itu. Di
banyak kota besar gereja-gereja yang tidak mengembangkan pelayanan yang kreatif
untuk orang muda seringkali kehilangan orang-orang muda dan remajanya yang lari
ke gereja-gereja lain.
Materi
B.
Sumber: Dok. Kemdikbud Gambar
3.1 Petrus berkhotbah pada hari Pentakosta
Gereja
yang Memberitakan
Dalam Kisah Para Rasul pasal 2 digambarkan bahwa pada hari Pentakosta yang pertama, tiga ribu orang mengaku percaya dan dibaptiskan. Semua ini dimulai ketika Petrus memberitakan tentang Yesus yang bangkit kepada orang banyak yang ada di Yerusalem. Dalam Kisah 2:14 dikatakan, “Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: ‘Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.’
Tugas yang mereka laksanakan
disebut dalam bahasa Yunani sebagai kerugma atau “pemberitaan”. Kerugma sendiri
sebetulnya berarti “pengumuman”, seperti yang biasanya disampaikan oleh petugas
kerajaan yang menyampaikan berita-berita penting pada masa itu, karena saat itu
belum ada surat kabar atau media massa lainnya.
pemberitaan apa yang disampaikan oleh
gereja? Dalam contoh dari Kisah 2:14 kita melihat bahwa Petrus memberitakan
tentang siapa Yesus itu dan apa makna kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya.
Di dalam kebaktian-kebaktian kita sekarang mungkin kita mendengar berbagai
pemberitaan yang lain. Misalnya khotbah yang berisi penghiburan untuk jemaat
yang sedang berduka cita, atau pengajaran tentang bagaimana menjalani kehidupan
sebagai orang Kristen, atau tentang tanggung jawab orang Kristen dalam
kehidupan di masyarakat dan bagaimana menjalin hubungan dengan orang-orang lain
yang berbeda keyakinan, dan lain-lain.
C. Gereja yang Bersekutu
Di atas sudah dijelaskan bahwa
pemberitaan atau kerugma disampaikan dalam konteks ibadah. Itulah yang terjadi
dalam kehidupan orang Kristen perdana dan yang biasa kita sebut sebagai
“khotbah” sekarang. Dalam Alkitab Perjanjian Baru, kita dapat menemukan 106
kata “memberitakan”.
Dalam 1 Korintus 1:23 kita menemukan
ucapan Rasul Paulus tentang apa atau siapa yang ia beritakan, yaitu, “tetapi
kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu
sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan…” Bagaimana bentuk
ibadah yang dilakukan orang-orang Kristen perdana? Apakah ibadah mereka sama
dengan ibadah gereja kita sekarang? Ternyata tidak! Ibadah mereka sangat
berbeda dengan ibadah yang kita kenal sekarang. Ibadah yang umumnya terdapat di
gereja-gereja sekarang sudah berkembang jauh karena berkembangnya pemahaman
tentang arti liturgi yang dimiliki oleh masing-masing gereja.
D. Gereja yang Tidak Membeda-bedakan
kisah Para Rasul melukiskan
kehidupan umat Kristen perdana yang indah. Mereka tidak egois melainkan
membagi-bagikan harta mereka kepada semua orang dan hidup dengan secukupnya,
sehingga setiap orang dapat hidup dengan cukup pula. Tidak mengherankan apabila
dalam ay. 47 dikatakan bahwa “… mereka disukai semua orang”. Orang-orang yang
bukan Kristen, yang ada di sekitar mereka dan melihat kehidupan kelompok baru
ini, tampak senang dengan mereka.
Dalam Perjamuan Kasih ini tergambar
persekutuan yang sangat erat dan mendalam antara orang-orang Kristen perdana
ini. Tidak ada pembeda-bedaan di antara mereka. Orang-orang dari kelas atas
bergabung dengan mereka yang dari kelas bawah. Orang seperti Onesimus, seorang
budak yang melarikan diri dari rumah tuannya, disapa 71 sebagai anak dan buah
hati oleh Rasul Paulus (lih.: Flm.). Dalam Galatia 3:28, Paulus mengatakan,
“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau
orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah
satu di dalam Kristus Yesus.” Sekat-sekat yang memisahkan manusia berdasarkan
ras (Yahudi dan Yunani), kelas (hamba dan orang merdeka), maupun jenis kelamin
(laki-laki dan perempuan), kini dihapuskan oleh kasih Yesus Kristus yang
mendamaikan kita semua.
E.
Pdt.
Dr. Martin Luther King, Jr. dan Perjuangannya
Pdt. Dr. Martin Luther King, Jr.
(1929-1968),seorang pendeta Gereja Baptis, adalah seorang tokoh pejuang hak
asasi manusia dari Amerika Serikat. Ia berjuang untuk hak-hak orang-orang kulit
hitam yang tidak dianggap sebagai manusia yang setara dengan orang-orang kulit
putih, karena mereka adalah keturunan budak. Seseorang yang dilahirkan dari
pasangan campuran, akan melahirkan keturunan yang selamanya dianggap “cacat”,
karena darah pasangan yang berkulit hitam. Ini disebut sebagai “Aturan Setetes
Darah”. Artinya, bila ada setetes saja darah orang kulit hitam pada diri
seseorang, maka hal itu akan membuatnya tidak layak digolongkan sebagai orang
kulit putih.
Pada masa itu, orang-orang kulit hitam
dilarang masuk ke tempat-tempat umum, restoran-restoran yang disediakan khusus
untuk orang-orang kulit putih. Gereja mereka pun dipisahkan oleh warna kulit
mereka. Ada gereja-gereja yang dikhususkan untuk orang kulit putih yang tidak
boleh dimasuki oleh orang kulit hitam. Bila mereka naik bus, mereka harus duduk
di belakang. Apabila ada orang kulit putih yang naik ke dalam bus itu, mereka
harus berdiri dan memberikan tempat duduk mereka kepada orang itu,
meskipun
misalnya yang naik itu seorang laki-laki muda yang sehat dan kuat, dan orang
kulit hitam itu seorang perempuan tua rentah dan sakit.
Pada suatu malam yang dingin di kota
Montgomery, Alabama, Amerika Serikat, pada bulan Desember 1955, Rosa Parks,
seorang p e r e m p u a n k u l i t hitam, menolak untuk menyerahkan kursinya
di bus kepada orang kulit putih yang baru naik. Hari itu ia sangat lelah
setelah bekerja seharian Karena itu ia menolak untuk berdiri. “Kamu tidak mau
berdiri?” tanya sang sopir. Rosa Parks menatap lurus pada wajahnya dan berkata,
“Tidak.” “Kalau begitu,” kata Blake, sopir itu, “saya akan lapor ke polisi dan kamu
akan ditahan.” Dan Parks menjawab perlahan, “Silakan.”
Parks ditahan dan didenda $10.
Hal ini kemudian memicu gerakan antidiskriminasi besar-besaran di seluruh AS.
Pdt. Dr. Martin Luther King, Jr., mengorganisasikan sebuah boikot bus yang
kemudian menyebar di seluruh wilayah selatan AS. Selain itu, Pdt. King juga
menggerakkan gereja dan orang-orang kulit hitam untuk melawan undang-undang
yang menjadikan mereka bukan warga negara. Pada 28 Agustus 1963, ia mengadakan
“Mars di Washington”, sebuah unjuk rasa untuk menuntut hak-hak orang kulit
hitam untuk pekerjaan dan kemerdekaan. Unjuk rasa ini diikuti antara 200.000
hingga 250.000 orang, kebanyakan orang kulit hitam, tetapi juga ada beberapa
ribu orang kulit putih yang bersimpati dengan perjuangan mereka. Dalam “Mars di
Washington” itu, Pdt. King menyampaikan pidatonya yang sangat terkenal, yang
berjudul “Aku Bermimpi”. Dalam pidatonya itu, ia antara lain mengatakan,
Pdt. King dibunuh pada 4 April 1968 oleh orang yang membencinya. Namun menjelang ajalnya, King berkata, “Saya memaafkan orang itu.” Perjuangan Pdt. King pada tahun 1950-an hingga 1960-an itu baru terlihat buahnya ketika Barrack Obama, seorang berdarah campuran kulit putih (ibunya) dan Afrika (ayahnya), terpilih menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat terpilih pada tahun 2008. Semua ini rasanya tidak mungkin terjadi apabila Pdt. King tidak berjuang untuk hak-hak asasi orangorang kulit hitam. Ini pun tidak mungkin terjadi, apabila Pdt. King tidak terinspirasi oleh ajaran Tuhan Yesus.
G.
Nyanyian Penutup:
“Mengasihi Lebih Sungguh” Lewat lagu ini,
siswa diajak untuk lebih bersungguh-sungguh lagi dalam mengasihi, mengampuni
dan melayani sesama. Ini bukan perintah yang sederhana dan mudah, sebab Tuhan
Yesus sendiri mengatakan, “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia
akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan
karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
H.
Doa
Penutup
Tuhan, ajarlah agar kami rela
melakukan kehendak-Mu, apapun yang mungkin terjadi. Tambahkanlah jumlah
orang-orang yang berkehendak baik dan yang memiliki kepekaan moral. Berikan
kami keyakinan yang diperbarui akan prinsip antikekerasan, dan jalan kasih
seperti yang diajarkan oleh Kristus. Amin
