Jumat, 26 Maret 2021

 TUGAS SISWA




Pelajari gambar-gambar di bawah dan jelaskan apa yang kamu lihat melalui gambar-gambar tersebut terutama dalam kaitannya dengan kemajemukan bangsa kita! 




Kamu boleh mengembangkan imajinasimu dalam mendalami gambar-gambar tersebut! Boleh juga mengaitkannya dengan pengalamanmu. Dengan melihat gambar-gambar tersebut kamu lebih memahami keadaan nyata bangsa kita yang amat beragam dan tersebar di seluruh tanah air. Gambar-gambar itu juga menyadarkanmu bahwa kamu adalah anak Kristen Indonesia yang hidup berdampingan dengan saudara-saudara sebangsa dari berbagai latar belakang yang berbeda tetapi kita diikat oleh cita-cita bersama untuk menjadi anak Indonesia yang turut serta berjuang dan membangun solidaritas serta berkarya untuk mewujudkan rasa cinta kepada bangsa dan negara kita.

kirim cerita mu di google classroom!

Selamat belajar, Tuhan memberkati

 Membangun Solidaritas di Tengah Masyarakat Majemuk (Bahan Alkitab: Mazmur 133; Matius 25:31-46, dan Matius 22: 37-39)



K.D 3.4 Menceritakan bentuk solidaritas sosial yang dilakukan bagi sesama mengacu pada ajaran Yesus Kristus

TUJUAN :
1. Siswa memilih sikap yang benar dalam kaitannya dengan solidaritas dalam masyarakat majemuk
2. Siswa mampu menceritakan pengalaman hidup bersama dalam masyarakat majemuk.
3. Siswa mampu merancang kegiatan sebagai wujud solidaritas  dalam masyarakat majemuk.

Pengantar

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk atau beragam yang terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, budaya,  agama maupun kelas sosial. Hal itu merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Negara  Indonesia merupakan negara kepulauan, yang terdiri dari ribuan pulau kecil dan sejumlah pulau besar. Letak, jarak dan jumlah pulau yang  banyak, mempengaruhi kebudayaan masyarakat Indonesia, sehingga wilayah Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam. Keberagaman ini jika tidak dikelola dengan baik, maka konflik akan mudah terjadi dan dapat memecah persatuan bangsa Indonesia. Untuk itu solidaritas antarmasyarakat perlu dikembangkan sehingga masyarakat dapat menerima perbedaan satu sama lain. 
Persentuhan antarbudaya dan prasangka sosial akan selalu terjadi karena permasalahan yang senantiasa terkait erat dengan hubungan antarmasyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.  Berbagai prasangka atau prejudis dapat menjadi pemicu konflik dan perpecahan. Oleh karena itu dibutuhkan kearifan tersendiri untuk mengelola berbagai perbedaan yang ada. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting yang dapat diharapkan memberikan pencerahan pada masyarakat supaya mampu membangun solidaritas dan tenggang rasa di antara sesama bangsa. Dalam hal ini peran generasi muda termasuk remaja amat besar untuk membangun rasa kebersamaan dalam berbagai perbedaan yang ada. 

Materi

Kitab Mazmur 133 berbicara tentang persaudaraan yang rukun. Alangkah indahnya jika semua orang dari berbagai latar belakang yang berbeda dapat hidup bersama-sama dengan rukun. Pemazmur melihat bahwa kehidupan yang rukun akan membawa kebahagiaan dan ketenteraman, sebaliknya kehidupan yang kacau dan penuh pertikaian membawa penderitaan. 

Apa yang tertulis dalam Kitab Mazmur memang indah, namun dalam kenyataannya, semua tidak dapat tercipta dengan sendirinya. Apalagi di negara kita isu-isu mengenai perbedaan suku dan  agama sering dijadikan alasan timbulnya konflik dan kekerasan. Ada berbagai peristiwa di mana terjadi amuk massa yang disebabkan karena salah pengertian kemudian dikaitkan dengan perbedaan suku dan  agama. Akar dari semua peristiwa itu karena masyarakat tertentu tidak terlatih untuk membangun solidaritas di tengah perbedaan yang ada. Atau karena sebagian orang sudah terlanjur memiliki prasangka buruk terhadap orang lain yang berbeda  agama dan suku, apalagi berbeda kelas sosial (antara yang kaya dengan yang miskin). Ada juga yang berpikir, mengapa harus saya yang mulai memikirkan mengenai solidaritas dan kebersamaan? Mengapa bukan pihak lain dulu baru saya menanggapinya? Atau selama ini saya membangun pemikiran dan sikap positif terhadap mereka yang berbeda dengan saya, tetapi mereka tidak pernah berubah, tetap bersikap tidak baik terhadap saya, jadi mengapa saya harus bersikap baik, toh tidak ada gunanya. 

Pemikiran-pemikiran seperti ini keliru,  ketika kita belajar tentang nilai-nilai kristiani, kita akan mengerti bahwa tiap orang Kristen terpanggil untuk mewujudkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran dan keadilan dalam hidupnya sebagaimana tercantum dalam buah Roh (Galatia 5:22). 

Jadi, kebaikan yang kita lakukan tidak boleh berpatokan pada apa yang dilakukan oleh orang lain terhadap kita. Kita harus proaktif atau terlebih dahulu mengambil inisiatif untuk “berbuat.” Semua harus datang dari dalam hati dan merupakan keputusan hati nurani seseorang. 

Sebagai remaja, justru inilah saat yang paling penting untuk belajar dan menumbuhkan sikap dan tindakan solidaritas sebagai kebiasaan yang dilakukan dalam hidup. Semua yang dilakukan merupakan wujud tanggapan dan tanggung jawab sebagai remaja Kristen yang telah diselamatkan oleh Allah di dalam Yesus Kristus. Semua orang beriman diminta untuk mengasihi sesama manusia tanpa kecuali.

 Bentuk-bentuk solidaritas di tengah masyarakat majemuk yang dapat diwujudkan sebagai remaja, antara lain sebagai berikut: 

1. Menghargai  teman dan orang lain  dalam berbagai perbedaan. 

2. Menghargai penganut  agama lain dan semua aturan  agamanya termasuk ibadahnya. 

3. Berteman dengan seseorang tanpa memandang perbedaan yang ada. 

4. Dapat bekerja sama dan menolong teman dan sesama tanpa memandang perbedaan  agama, suku dan status sosial (kaya ataupun miskin). 


Untuk melihat tugas silahkan klik di sini

Rabu, 24 Maret 2021

Belajar Dari Para Martir Bahan Alkitab: Matius 24: 8 -13

 Belajar Dari Para Martir Bahan Alkitab: Matius 24: 8 -13


KOMPETENSI DASAR:

3.1.1. Memahami arti sikap hidup beriman dan berpengharapan relasi dengan sesama. 

3.1.2. Menceritakan wujud kejujuran, rendah hati, percaya diri, dan kasih terhadap sesama sebagai bentuk hidup beriman. 

3.2. Menjelaskan peran Roh Kudus dalam proses hidup beriman. 

3.4. Menceritakan pengalaman rela berkorban seperti yang diajarkan Tuhan Yesus. 

MATERI

Remaja awal, mulai usia 10 tahun, mulai memperlihatkan ketertarikan terhadap pahlawan dan tindakan heroik yang mereka lakukan. Dalam sejarah Kristen, mereka yang tergolong sebagai pahlawan adalah tokoh-tokoh yang disebutkan di dalam Alkitab (misalnya Abraham, Musa, para nabi, para rasul) mau pun yang mengorbankan nyawa karena menunjukkan kesetiaan terhadap Yesus Kristus pada zaman setelah para rasul. Walau pun nama mereka tidak tercantum di Alkitab, tetapi apa yang mereka perjuangkan ternyata menjadi hal penting yang memperkuat pemahaman iman umat Kristen, bukan hanya di lingkungan tempat tinggal mereka, tetapi di seluruh dunia. Tokoh-tokoh yang dibahas dalam bab ini adalah yang memang ada di dunia Barat.

Setelah kita belajar tentang Roh Kudus, kini kita mengkaji bagaimana kuasa Roh Kudus ternyata memberdayakan hamba-hamba Tuhan untuk mampu melakukan hal-hal yang menurut perhitungan manusia tidak mungkin. Mungkin kamu pernah mendengar ada orang yang mati karena mempertahankan iman percayanya. Apakah ini kematian yang sia-sia atau percuma? Mari kita mulai dengan memikirkan tentang hal yang paling berharga dalam hidup ini.

Kisah Para Martir 

Kisah-kisah di bawah ini adalah kisah mengenai orang-orang yang menganggap bahwa Tuhan Yesus begitu berharga buat dirinya sehingga mati demi Tuhan Yesus pun mereka rela. 

• Polikarpus

Polikarpus adalah murid Yohanes (murid Tuhan Yesus) yang melayani di kota Smirna (sekarang Izmir, Turki) sebagai seorang uskup. Dia hidup di zaman kaisar Romawi Marcus Aurelius Antonius (162-180 M). Walaupun Marcus Aurelius dikenal sebagai kaisar yang baik, tetapi sejarah mencatat bahwa di masa pemerintahannya terjadi penganiayaan terhadap orangorang Kristen. Pada zaman itu banyak orang Kristen yang dibunuh oleh pemerintah Romawi karena menolak untuk menyembah kaisar dan dewadewa Romawi. Orang-orang Kristen yang memilih untuk menyembah Tuhan Yesus akhirnya dikejar-kejar dan dianiaya secara kejam karena mereka dianggap sebagai orang-orang kafir. Dan salah satu korban dari penganiayaan tersebut adalah Polikarpus.

Polikarpus adalah uskup yang disegani dan dihormati pada saat itu. Oleh sebab itu, banyak dari temannya yang meminta dia bersembunyi, agar kematiannya tidak mempengaruhi iman gereja. Pada akhirnya Polikarpus pun ditangkap. Ada kejadian menarik ketika Polikarpus ditangkap. Dia tidak memberontak atau melawan melainkan menyambut para prajurit bak tamu yang agung, menjamu mereka dengan makanan dan meminta diri agar diizinkan berdoa terlebih dahulu. Perlakuan Polikarpus kepada prajurit Romawi tersebut membuat mereka miminta maaf kepadanya karena mereka harus menangkapnya. Bahkan sang kepala prajurit sempat mengatakan “Apa salahnya menyebut Tuhan Kaisar dan mempersembahkan bakaran kemenyan?” Maksudnya, agar Polikapus diselamatkan dari penganiayaan. Setelah Polikarpus ditangkap dan diserahkan kepada gubernur Romawi beberapa kali dia ditantang agar meninggalkan imannya. “Celalah Kristus dan aku akan melepaskanmu!” “Hormatilah usiamu, Pak Tua,” seru gubernur Romawi itu. “Bersumpahlah demi berkat Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, “Enyahkan orang-orang kafir!” “Angkatlah sumpah dan saya akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!” Polikarpus bisa saja pada saat itu menyangkal Kristus tetapi dia tidak mau melakukannya. Dia berkata “Delapan puluh enam tahun saya telah mengabdi dan melayani Kristus; Dia tidak pernah berbuat salah dan menyakitiku. Bagaimana mungkin saya mengkhianati Raja yang telah menyelamatkan saya?” Akhirnya, Polikarpuspun dibakar hidup-hidup di tengah pasar. Dia tewas sebagai seorang martir bagi Kristus pada usia 87 tahun.

• John Wycliffe 

John Wycliffe, lahir di sebuah desa kecil di Yorkshire Inggris tahun 1325 dan menempuh studi teologinya di Universitas Oxford. Dia melayani dan berjuang demi Kristus, tetapi ironisnya dia ditolak dan dianiaya oleh gereja dan bukan oleh orang-orang yang tidak mengenal Kristus. John Wycliffe berjuang melawan pengajaran-pengajaran yang salah dalam gereja. Dia melihat begitu banyak orang yang sedang mengalami kebutaan rohani. Mereka melakukan berbagai upacara keagamaan tetapi tidak memiliki hubungan dengan Kristus. Bagi Wycliffe hal ini disebabkan karena banyak orang Kristen yang tidak dapat memahami Alkitab secara langsung. 

Pada saat itu semua Alkitab memakai bahasa Latin yang hanya dapat digunakan oleh para imam. Sedangkan banyak orang Kristen di Inggris tidak memahami bahasa Latin sehingga mereka hanya mendapatkan pengajaran dari para imam yang justru mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan Alkitab. Perjuangan Wycliffe dilakukan dengan cara menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris, karena baginya setiap orang harus diberi keleluasaan membaca Alkitab dalam bahasanya sendiri. Kemudian diapun mengajarkan doktrin-doktrin yang sesuai dengan pengajaran Alkitab. Apa yang John Wycliffe lakukan ternyata tidak disukai oleh gereja. Pihak gereja meminta Wycliffe untuk tidak mengajarkan doktrin-doktrinnya. Kedudukannya sebagai pengajar di Oxford dicopot. Bahkan Wycliffe sempat diasingkan oleh gereja. Tetapi semuanya tidak meruntuhkan semangat Wycliffe. Dia tetap teguh untuk menyatakan kebenaran firman Tuhan sampai pada akhirnya dia meninggal dunia pada tanggal 31 Desember 1384 dalam usia 56 tahun. Tiga puluh satu tahun setelah Wycliffe meninggal dunia, gereja mengadakan rapat yang disebut sebagai konsili Constance dan memutuskan bahwa John Wycliffe adalah seorang yang sesat sehingga jenazahnya harus dilemparkan jauh dari gereja. Melalui keputusan konsili tersebut maka jenasah Wycliffe diangkat dari kubur, dibakar dan abunya dibuang ke sungai Rhine.

Matius 24: 4 -13 berisi nubuatan yang Yesus berikan tentang kondisi zaman akhir. Di dalamnya disebutkan tentang beberapa kondisi yang akan terjadi (bahkan kini sudah terjadi), yaitu, 

1. Banyak orang akan datang dan mengaku sebagai Mesias atau Penyelamat, padahal nyatanya mereka malah menyesatkan. Sejak zaman Kristus sudah banyak muncul agama-agama baru yang menjadikan pendirinya sebagai Penyelamat tetapi ternyata ajaran mereka malah menyesatkan, artinya, tidak ada jaminan keselamatan untuk kehidupan akhirat. 

2. Banyak terjadi perang, antar berbagai bangsa dengan negara (di Alkitab tertulis kerajaan). Sejarah menunjukkan bahwa pertikaian antara golongan, suku bangsa, negara, bahkan antar sesama umat beragama berlangsung seakan tidak pernah berhenti. Banyak pertemuan difasilitasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meredakan pertikaian ini, terutama bila menyangkau antar suku bangsa dan negara, namun belum tentu pertiakaian itu mereda. Umumnya pertikaian dan peperangan terjadi karena memperebutkan kekuasaan di suatu daerah tertentu. 

3. Terjadi bahaya kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Dari berita, kita tahu bahwa gempa bumi terjadi di berbagai tempat di seluruh dunia. Indonesia adalah negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak sedunia. Bergantian gunung berapi ini meletus dan biasanya didahului oleh gempa. Masih jelas dalam ingatan kita tentang tsunami yang terjadi di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, dan mengakibatkan lebih dari 100 ribu jiwa melayang. Dalam catatan National Geography edisi Januari 2005, tsunami ini dinyatakan sebagai yang paling banyak memakan korban jiwa dalam sepanjang sejarah (news.nationalgeographic.com/news, 2010).Tsunami terjadi ketika ada gempa di laut. Bencana-bencana seperti ini mengakibatkan penduduk di sekitarnya mengungsi ke tempat yang lebih aman. Bahaya kelaparan biasanya menyusul. Namun, jangan dilupakan bahaya kelaparan yang terjadi karena daerah-daerah tertentu mengalami kekeringan yang luar biasa, atau karena peperangan yang tidak kunjung berhenti sehingga aliran pangan juga terganggu.

4. Kebencian terhadap pengikut Kristus yang bisa mengakibatkan pembunuhan. Topik bahasan kita berkisar di hal ini. 

5. Pemurtadan dari pengikut Kristus, apa pun juga alasannya. Mereka yang semula sudah mengenal Kristus, ternyata kemudian memungkiri atau menyangkal-Nya. Mungkin saja karena mereka diiming-imingi hal yang nampaknya lebih berharga, misalnya kedudukan, kekuasaan, kekayaan, dan sebagainya. 

6. Munculnya nabi palsu yang mengajak orang mengikuti ajaran mereka namun ternyata menyesatkan. Ini hampir sama dengan butir 1 di atas tentang mereka yang mengaku sebagai Mesias. 

7. Banyak yang menjadi undur dalam kasih dan iman percaya karena banyaknya godaan dalam kehidupan mereka. Mungkin saja mereka tetap mengaku sebagai murid Kristus, tetapi kehidupan iman mereka hanya suam-suam kuku (istilah yang dipakai di Wahyu 3: 16 tentang kondisi pada jemaat di Laodikia sehingga sebagai akibatnya, Tuhan memuntahkan mereka). 

  Yesus menyampaikan nubuatan ini kepada para murid dan pengikutnya sebelum Ia akhirnya diadili dan disalibkan. Jadi, para murid sudah tahu bahwa penderitaan sebagai murid Kristus akan mereka alami. Ajaran Yesus ini sering dipakai oleh para penganut ateisme untuk menunjukkan bahwa Allah tidak ada (Foh, 2010). Argumen mereka, kalau betul Allah ada, tentu Ia tidak membiarkan kejahatan merajalela. Jadi kesimpulan tentang Allah adalah Ia tidak Maha Kuasa (tidak sanggup membasmi kejahatan) dan tidak Maha Kasih (membiarkan penderitaan tetap ada, bahkan dialami oleh anak-anak-Nya). Terhadap argumen ini, kita dapat memberikan sanggahan bahwa kejahatan adalah bukti bahwa dosa memang merusak kehidupan baik yang Allah berikan kepada manusia (bandingkan dengan Kejadian 1: 31 dan Kejadian 3:16-19). Jadi, tidak perlu menyalahkan Allah karena justru manusia pertama lah (Adam dan Hawa) yang membawa dosa masuk ke dalam kehidupan di alam semesta ini melalui pemberontakan mereka melawan Allah. Tetapi karya penyelamatan Allah melalui Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus menjadi jaminan keselamatan manusia yang tidak lagi dihukum karena melanggar perintah Allah. Walau pun begitu, dalam keseharian kita masih harus berjuang menunjukkan iman percaya kita kepada lingkungan di sekitar kita. Kenyataannya, ada saja pengikut Kristus yang kemudian beralih menjadi pengikut kepercayaan lain. Dengan kata lain, kita tetap melakukan bagian kita. Kepada jemaat di Filipi, Rasul Paulus meminta mereka untuk “... tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,” (Filipi 2:12). Keselamatan bukanlah sesuatu yang kita terima pada saat kita bertobat saja dan mengakui Yesus sebagai Juru Selamat kita dan setelah itu menjadi miliki kita selamanya. (Ini dapat diibaratkan seperti kita membeli keselamatan dengan pengakuan ucapan bibir kita bahwa Yesus adalah Juru Selamat.) Iman kita tidaklah bersikap pasif seperti itu, melainkan harus dikerjakan secara aktif. Hal penting yang harus kita lakukan adalah, menunjukkan iman percaya kita termasuk saat kita digoda bahkan diancam untuk mati karena mempertahankan kesetiaan terhadap Yesus. 

Hal lain yang menakjubkan adalah, Rasul Petrus melihat penderitaan yang kita tanggung sebagai pengikut Kristus sebetulnya merupakan kasih karunia (1 Petrus 2: 19). Artinya, ketika seseorang mengalami penderitaan seperti ini, ia menjalaninya karena menyadari bahwa ini adalah kehendak Allah. Petrus menuliskan ini karena ini memiliki pengalaman menyangkal Yesus di hadapan orang banyak (Matius 26: 69-75; Markus 14: 66-72; Lukas 22: 56-62; Yohanes 18: 15- 18,25-27). 

Namun kemudian Petrus menyesali penyangkalannya ini, dan untuk membuktikan kesetiaannya kepada Kristus, Petrus bersedia dihukum mati dengan cara disalibkan dengan posisi terbalik, yaitu kepalanya berada di bawah. Dalam konteks pemahaman penderitaan inilah peserta didik diajak untuk mempelajari tokoh-tokoh lainnya yang juga berani mengorbankan nyawa karena mempertahankan iman percaya mereka kepada Kristus yang dikenal sebagai Juru Selamat pribadi.

Untuk melihat tugas, silahkan klik di sini

Selasa, 23 Maret 2021

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK(LKPD)


Kompetensi Dasar 3.1. Mengampuni dan menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus.

 

Anak-anak, cermatilah materi yang terdapat pada modul tersebut, selanjutnya kerjakan latihan-latihan di bawah ini dengan cara memilih jawaban yang paling benar. Apabila kalian kesulitan dalam mengerjakan tugas, kalian bisa berdiskusi dengan bapak, ibu, saudara, ataupun teman kalian.

 

I.     Berilah tanda silang (x) pada huruf A, B, C atau D untuk jawaban yang tepat !

1.       Memaafkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya dan tidak mengungkit kesalahan itu lagi disebut ....


A.     Mengharapkan

B.      Mengampuni

C.      Menyembuhkan

D.     Melupakan


 

2.       Menganggap diri paling benar sedangkan orang lain selalu salah merupakan sifat....


A.     Amarah

B.      Sombong

C.      Egois

D.     Emosional


 

3.       Mengampuni kesalahan orang lain sama halnya membebaskan diri dari kebencian dan hal ini akan membuat hati kita merasa ....


A.     Damai

B.      Sedih

C.      Bimbang 

D.     Biasa saja


 

4.       Yusuf memastikan bahwa saudara-saudaranya telah berubah dan dia tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya. Sikap yusuf ini berarti ....

A.     Hidup pasrah dengan apa yang akan dialami

B.      Menyerahkan diri untuk disakiti orang lain lagi 

C.      bersedia disakiti untuk kedua kalinya

D.     tidak bersedia terluka untuk kedua kalinya

 

5.       Kisah Yusuf dan saudara-saudaranya, ia sadar bahwa dahulu ayah terlalu menyayangi dan mengistimewakan yusuf. Hal ini menyebabkan saudara-saudaranya merasa ....


A.     Sedih

B.      Senang

C.      iri hati

D.     Gembira


 

6.       Kebencian yang dialami saudara-saudara yusuf kepadanya membuat saudara-saudaranya merencanakan hal jahat kepada Yusuf yaitu rencana untuk ....

A.     menjual kambing domba yusuf

B.      menjual yusuf menjadi budak di mesir

C.      membuang jubah yusuf yang paling indah 

D.     membohongi yusuf

 

7.       Pengampunan yang kita berikan kepada orang yang bersalah kepada kita hendaknya lahir dari niat baik dan ....


A.     ketegangan hati

B.      ketulusan hati 

C.      keteguhan hati

D.     keraguan hati


 

8.       Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan setelah mengampuni orang lain adalah dengan ....

A.     Memulihkan hubungan

B.      Membuat kesalahan kembali

C.      Membicarakan kesalahannya kepada orang lain

D.     Memusuhi orang yang lain

 

9.       Mengampuni orang lain tidak bisa kita lakukan apabila kita hanya mengandalkan ....


A.     Tuntunan Tuhan

B.      Kemampuan diri sendiri

C.      Kuasa Roh Kudus

D.     Iman kepada Tuhan


 

10.   Tuhan Yesus berjanji kepada kita, mintalah kepada Tuhan maka engkau akan ....


A.     Mendapatkanya

B.      Tidak akan mendapat

C.      Pintu akan dibukakan bagimu

D.     Dibinasakan


 

II. Uraian

 

Buatlah rangkaian doa yang berisi permohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat !

 

 

 

Setelah selesaikan mengerjakan tugas, periksa kembali jawaban kalian barangkali masih ada yang harus diperbaiki. Tugas Kegiatan Belajar 1 ini harus selesai pada hari ................. Kumpulkan tugas kalian kepada guru PABP pada pertemuan berikutnya


Indahnya Mengampuni (Bahan Alkitab: Kejadia 45:1-14; Matius 6:14-15 dan Matius 18: 22-35)

 

                    MODUL PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN BUDI PEKERTI
KELAS VII SEMESTER 1

Mata Pelajaran

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti

Kelas/Semester

VII/Gasal

Tema

Indahnya Mengampuni (Bahan Alkitab: Kejadia 45:1-14; Matius 6:14-15 dan Matius 18: 22-35)

Pengantar

Shalom, selamat berjumpa dalam pembelajaran PABP. Pada modul 1 ini kita akan belajar tentang Indahnya Mengampuni. Namun, sebelumnya marilah kita berdoa terlebih dahulu. Mengingatkan kepada peserta didik sekalian tetap mengenakan protokol kesehatan untuk menjaga kesehatan diri.

Apakah kamu pernah mendengar nama Nelson Mandela? Ia adalah seorang tokoh pejuang Afrika Selatan yang memperjuangkan keadilan bagi kaum kulit hitam di Afrika Selatan yang ditindas dan diperlakukan secara tidak adil. Demi memperjuangkan nasib kaumnya, ia dipenjara lebih dari 20 tahun. Setelah Nelson Mandela dibebaskan dan memenangkan pemilihan umum di Afrika Selatan dan terpilih sebagai presiden, orang pertama yang diundang untuk makan malam bersamanya adalah kepala penjara. Padahal dalam masa hukumannya, kepala penjara itu banyak merugikan dirinya. Ketika para wartawan mengajukan pertanyaan kepadanya: mengapa Anda memberi prioritas pada kepala penjara yang sering menyakiti Anda? Maka jawab Mandela:”Kamu harus terlebih dahulu mengampuni seseorang yang berada di dekatmu dan paling banyak menyakitimu. Jika kamu mampu melakukannya, kamu dapat mengampuni semua orang yang melakukan kejahatan padamu”.

 

Mengampuni berarti membebaskan dirimu dari kebencian dan membiarkan perasaan damai menguasai hatimu. Sikap yang luar biasa, bukan? Pernahkah kamu mengampuni atau diampuni seseorang? Coba ceritakan pengalamanmu itu secara berkelompok atau kamu dapat berbagi dengan teman sebangku  tentang bagaimana kamu mengampuni ataupun diampuni oleh seseorang. Apa yang kamu rasakan setelah mengampuni atau diampuni olehnya? Sebaliknya, adakah pengalaman ketika kamu tidak bersedia mengampuni orang lain ataupun tidak diampuni oleh orang lain, bagaimana perasaanmu?

Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:

 

1.      Mendiskripsikan arti mengampuni

2.      Mengidentifikasi tokoh yang bernama Nelson Mandela

3.      Menganalisa dampak dari mengampuni bahi hidup manusia melalui cerita Yusuf

4.      Mengemukakan cara Allah menyelamatkan manusia berdosa

5.      Membuat doa permohonan pengampunan dosa dengan benar

Kegiatan Pembelajaran :

 

Kegiatan Awal :

1.      Diawali dengan berdoa

2.      Menyanyikan lagu “Dihapuskan dosaku”

Kegiatan Inti:

1.      Peserta didik membaca (literasi) pada buku siswa halaman 2

2.      Peserta didik membaca rangkaian materi pada pokok bahasan pada buku siswa halaman 3 s/d 5

 

Kegiatan Penutup :

Peserta didik mengerjakan latihan soal pilihan ganda dan membuat rangkaian doa yang isinya memohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat .

 

Materi

 

Mengampuni artinya kita memaafkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya dan tidak mengungkit kesalahan itu lagi. Pada kenyataannya cukup sulit untuk melakukannya. Mengapa? Karena tiap orang memiliki sifat egois atau keakuan yang cenderung menempatkan dirinya sebagai orang yang paling benar sedangkan orang lain selalu menjadi pihak yang salah. Mengapa demikian? Karena kita selalu tergoda untuk hanya melihat ke dalam diri kita saja, kita berpikir dari sudut diri sendiri, dan lupa untuk berpikir dari sudut orang lain. Contohnya, jika terjadi masalah atau pertikaian dengan teman, kita cenderung menyalahkan teman tanpa mau bersusah payah mencari tahu mengapa dia marah pada kita. Padahal kemungkinan ada perbuatan kita yang tidak berkenan baginya. Banyak orang mengira mengampuni berarti melupakan masalah, merelakan kesalahan orang lain, membebaskan diri dari kebencian, dendam dan marah. Sebenarnya mengampuni itu adalah  perbuatan yang terutama kita lakukan untuk diri kita sendiri tanpa melupakan orang yang menyakiti kita.

 

Dengan mengampuni kita melepaskan diri kita dari amarah dan dendam, bukan melepaskan orang lain dari pikiran kita. Namun seberapa dalam pun luka yang telah terjadi, kita tidak akan sembuh dari luka itu sampai kita mengampuni kesalahan orang yang bersangkutan. Pengampunan adalah sebuah keputusan dari hati dan mengampuni tidaklah mengubah masa lalu, melainkan mencerahkan masa depan. Artinya, pengampunan yang diberikan tidak berarti menghapus masa lalu karena semua sudah terjadi. Dengan mengampuni, seseorang dibebaskan dari beban kebencian, dan hati terasa damai. Dengan begitu langkah ke depan menjadi cerah.

 

Apakah Mudah untuk Melupakan Rasa Sakit Hati Kita?

Dalam beberapa kasus sangat sulit untuk menyembuhkan luka hati dan rasa benci, tetapi  perlu diingat bahwa pengampunan itu dapat berarti hal seperti berikut ini.

1.  Membebaskan diri dari beban kebencian dan menggantinya dengan damai sejahtera. Coba kamu ambil air putih dan tuangkan kopi kental atau teh sedikit demi sedikit. Lama kelamaan air putih akan  berubah menjadi kuning untuk teh  dan hitam untuk kopi. Seperti itulah hatimu diubah dari putih menjadi hitam. Kamu tidak ingin hatimu pekat seperti kopi, bukan?

2.  Tidak berarti kita bersedia terluka untuk kedua kalinya. Yusuf memastikan bahwa saudara-saudaranya telah berubah dan dia tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya. Jadi, kamu dapat mengampuni tetapi tidak menyerahkan dirimu untuk menjadi korban kemarahan ataupun tindakan negatif lainnya.

 

Bagaimana Mengampuni?

 

Kamu pernah dipermalukan oleh seseorang dan hal itu selalu tersimpan di dalam ingatanmu. Makin kamu mengingatnya, makin dalam rasa benci. Coba kamu berpikir, mengapa dia melakukan hal itu padamu! Kemudian, cobalah membuat daftar penyebabnya. Misalnya, karena kamu pintar dan tekun belajar, atau karena kamu cenderung tidak mau bergaul sehingga teman-teman memiliki pemahaman yang salah tentang dirimu. Mungkin karena kecerobohanmu menyebarkan rahasia yang dipercayakan padamu, atau karena kamu lalai mengundangnya ke pesta ulang tahunmu, atau karena kamu punya teman baru. Jika dirunut, selalu ada hubungan sebab akibat dalam rusaknya sebuah hubungan yang berakhir dengan pertengkaran dan kebencian, juga dendam. Jika kita bersikap objektif, kita akan temukan bahwa kedua belah pihak turut menyebabkan rusaknya hubungan antarteman atau saudara.

 

Dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya, ia sadar bahwa dahulu ayahnya terlalu mencintai dan mengistimewakan dirinya. Hal itu menyebabkan saudara-saudaranya iri hati dan mereka membencinya. Wujud dari kebencian itu, mereka menjualnya sebagai budak. Namun, dia tidak membenci mereka, tetapi juga Yusuf tidak secara otomatis mengampuni saudara-saudaranya. Dia menguji saudara-saudaranya dengan cara menyelipkan piala ke dalam karung adik mereka yang paling kecil. Yusuf ingin menguji saudarasaudaranya apakah mereka telah berubah, atau mereka akan mengorbankan adiknya seperti dahulu ketika mereka membenci dan menjualnya sebagai budak. Ternyata, saudara-saudaranya telah berubah. Mereka membela adiknya Benyamin serta menangisinya, bahkan kakak tertua rela ditahan untuk menggantikan adiknya.  Dengan cara itu, Yusuf mengetahui  bahwa kini saudara-saudaranya telah berubah dan karena itu, sudah waktunya dia menyatakan dirinya pada mereka dan memaafkan mereka. Yusuf tidak menanti supaya saudara-saudaranya ketakutan dan mengemis untuk dimaafkan, tetapi dialah yang mengambil inisiatif untuk mendatangi mereka.

 

Jadi, pengampunan yang kita berikan pada seseorang hendaknya lahir dari niat baik dan ketulusan hati kita. Yusuf pada dasarnya memiliki hati pemaaf. Sejak dia melihat mereka, dia sudah mulai berupaya menciptakan pemulihan hubungan persaudaraan mereka. Amatlah penting untuk menghubungkan pengampunan atau memaafkan dengan memulihkan hubungan. Mengapa demikian? Jika kita mengampuni seseorang, upaya kita tidak berhenti hanya pada sekadar mengampuni, kita juga berupaya memulihkan hubungan kita dengan orang itu. Jika mengandalkan kemampuanmu sendiri, tentu sangat  sulit untuk mengampuni sesama. Mintalah Tuhan membantu kamu untuk memberi hikmat supaya dapat mengampuni orang lain dan juga bersedia mohon maaf pada orang lain atas kesalahanmu.

 

Matius 18:22-35 yang berisi perumpamaan mengenai orang yang kesalahannya telah diampuni, tetapi dia tidak mau mengampuni kesalahan orang lain. Sang raja adalah Tuhan, sedangkan yang berutang adalah umat Tuhan. Simpulan perumpamaan ini terdapat dalam (ayat 35).



SENI TARI KELAS 9

Tari Kreasi kelas 9