TUGAS SISWA
kirim cerita mu di google classroom!
Selamat belajar, Tuhan memberkati
kirim cerita mu di google classroom!
Selamat belajar, Tuhan memberkati
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk atau beragam yang terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, budaya, agama maupun kelas sosial. Hal itu merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Negara Indonesia merupakan negara kepulauan, yang terdiri dari ribuan pulau kecil dan sejumlah pulau besar. Letak, jarak dan jumlah pulau yang banyak, mempengaruhi kebudayaan masyarakat Indonesia, sehingga wilayah Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam. Keberagaman ini jika tidak dikelola dengan baik, maka konflik akan mudah terjadi dan dapat memecah persatuan bangsa Indonesia. Untuk itu solidaritas antarmasyarakat perlu dikembangkan sehingga masyarakat dapat menerima perbedaan satu sama lain.
Persentuhan antarbudaya dan prasangka sosial akan selalu terjadi karena permasalahan yang senantiasa terkait erat dengan hubungan antarmasyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. Berbagai prasangka atau prejudis dapat menjadi pemicu konflik dan perpecahan. Oleh karena itu dibutuhkan kearifan tersendiri untuk mengelola berbagai perbedaan yang ada. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting yang dapat diharapkan memberikan pencerahan pada masyarakat supaya mampu membangun solidaritas dan tenggang rasa di antara sesama bangsa. Dalam hal ini peran generasi muda termasuk remaja amat besar untuk membangun rasa kebersamaan dalam berbagai perbedaan yang ada.
Kitab Mazmur 133 berbicara tentang persaudaraan yang rukun. Alangkah indahnya jika semua orang dari berbagai latar belakang yang berbeda dapat hidup bersama-sama dengan rukun. Pemazmur melihat bahwa kehidupan yang rukun akan membawa kebahagiaan dan ketenteraman, sebaliknya kehidupan yang kacau dan penuh pertikaian membawa penderitaan.
Apa yang tertulis dalam Kitab Mazmur memang indah, namun dalam kenyataannya, semua tidak dapat tercipta dengan sendirinya. Apalagi di negara kita isu-isu mengenai perbedaan suku dan agama sering dijadikan alasan timbulnya konflik dan kekerasan. Ada berbagai peristiwa di mana terjadi amuk massa yang disebabkan karena salah pengertian kemudian dikaitkan dengan perbedaan suku dan agama. Akar dari semua peristiwa itu karena masyarakat tertentu tidak terlatih untuk membangun solidaritas di tengah perbedaan yang ada. Atau karena sebagian orang sudah terlanjur memiliki prasangka buruk terhadap orang lain yang berbeda agama dan suku, apalagi berbeda kelas sosial (antara yang kaya dengan yang miskin). Ada juga yang berpikir, mengapa harus saya yang mulai memikirkan mengenai solidaritas dan kebersamaan? Mengapa bukan pihak lain dulu baru saya menanggapinya? Atau selama ini saya membangun pemikiran dan sikap positif terhadap mereka yang berbeda dengan saya, tetapi mereka tidak pernah berubah, tetap bersikap tidak baik terhadap saya, jadi mengapa saya harus bersikap baik, toh tidak ada gunanya.
Pemikiran-pemikiran seperti ini keliru, ketika kita belajar tentang nilai-nilai kristiani, kita akan mengerti bahwa tiap orang Kristen terpanggil untuk mewujudkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran dan keadilan dalam hidupnya sebagaimana tercantum dalam buah Roh (Galatia 5:22).
Jadi, kebaikan yang kita lakukan tidak boleh berpatokan pada apa yang dilakukan oleh orang lain terhadap kita. Kita harus proaktif atau terlebih dahulu mengambil inisiatif untuk “berbuat.” Semua harus datang dari dalam hati dan merupakan keputusan hati nurani seseorang.
Sebagai remaja, justru inilah saat yang paling penting untuk belajar dan menumbuhkan sikap dan tindakan solidaritas sebagai kebiasaan yang dilakukan dalam hidup. Semua yang dilakukan merupakan wujud tanggapan dan tanggung jawab sebagai remaja Kristen yang telah diselamatkan oleh Allah di dalam Yesus Kristus. Semua orang beriman diminta untuk mengasihi sesama manusia tanpa kecuali.
Bentuk-bentuk solidaritas di tengah masyarakat majemuk yang dapat diwujudkan sebagai remaja, antara lain sebagai berikut:
1. Menghargai teman dan orang lain dalam berbagai perbedaan.
2. Menghargai penganut agama lain dan semua aturan agamanya termasuk ibadahnya.
3. Berteman dengan seseorang tanpa memandang perbedaan yang ada.
4. Dapat bekerja sama dan menolong teman dan sesama tanpa memandang perbedaan agama, suku dan status sosial (kaya ataupun miskin).
Untuk melihat tugas silahkan klik di sini
KOMPETENSI DASAR:
3.1.1. Memahami arti sikap hidup beriman dan berpengharapan relasi dengan sesama.
3.1.2. Menceritakan wujud kejujuran, rendah hati, percaya diri, dan kasih terhadap sesama sebagai bentuk hidup beriman.
3.2. Menjelaskan peran Roh Kudus dalam proses hidup beriman.
3.4. Menceritakan pengalaman rela berkorban seperti yang diajarkan Tuhan Yesus.
MATERI
Remaja awal, mulai usia 10 tahun, mulai memperlihatkan ketertarikan terhadap pahlawan dan tindakan heroik yang mereka lakukan. Dalam sejarah Kristen, mereka yang tergolong sebagai pahlawan adalah tokoh-tokoh yang disebutkan di dalam Alkitab (misalnya Abraham, Musa, para nabi, para rasul) mau pun yang mengorbankan nyawa karena menunjukkan kesetiaan terhadap Yesus Kristus pada zaman setelah para rasul. Walau pun nama mereka tidak tercantum di Alkitab, tetapi apa yang mereka perjuangkan ternyata menjadi hal penting yang memperkuat pemahaman iman umat Kristen, bukan hanya di lingkungan tempat tinggal mereka, tetapi di seluruh dunia. Tokoh-tokoh yang dibahas dalam bab ini adalah yang memang ada di dunia Barat.
Setelah kita belajar tentang Roh Kudus, kini kita mengkaji bagaimana kuasa Roh Kudus ternyata memberdayakan hamba-hamba Tuhan untuk mampu melakukan hal-hal yang menurut perhitungan manusia tidak mungkin. Mungkin kamu pernah mendengar ada orang yang mati karena mempertahankan iman percayanya. Apakah ini kematian yang sia-sia atau percuma? Mari kita mulai dengan memikirkan tentang hal yang paling berharga dalam hidup ini.
Kisah Para Martir
Kisah-kisah di bawah ini adalah kisah mengenai orang-orang yang menganggap bahwa Tuhan Yesus begitu berharga buat dirinya sehingga mati demi Tuhan Yesus pun mereka rela.
• Polikarpus
Polikarpus adalah murid Yohanes (murid Tuhan Yesus) yang melayani di kota Smirna (sekarang Izmir, Turki) sebagai seorang uskup. Dia hidup di zaman kaisar Romawi Marcus Aurelius Antonius (162-180 M). Walaupun Marcus Aurelius dikenal sebagai kaisar yang baik, tetapi sejarah mencatat bahwa di masa pemerintahannya terjadi penganiayaan terhadap orangorang Kristen. Pada zaman itu banyak orang Kristen yang dibunuh oleh pemerintah Romawi karena menolak untuk menyembah kaisar dan dewadewa Romawi. Orang-orang Kristen yang memilih untuk menyembah Tuhan Yesus akhirnya dikejar-kejar dan dianiaya secara kejam karena mereka dianggap sebagai orang-orang kafir. Dan salah satu korban dari penganiayaan tersebut adalah Polikarpus.
Polikarpus adalah uskup yang disegani dan dihormati pada saat itu. Oleh sebab itu, banyak dari temannya yang meminta dia bersembunyi, agar kematiannya tidak mempengaruhi iman gereja. Pada akhirnya Polikarpus pun ditangkap. Ada kejadian menarik ketika Polikarpus ditangkap. Dia tidak memberontak atau melawan melainkan menyambut para prajurit bak tamu yang agung, menjamu mereka dengan makanan dan meminta diri agar diizinkan berdoa terlebih dahulu. Perlakuan Polikarpus kepada prajurit Romawi tersebut membuat mereka miminta maaf kepadanya karena mereka harus menangkapnya. Bahkan sang kepala prajurit sempat mengatakan “Apa salahnya menyebut Tuhan Kaisar dan mempersembahkan bakaran kemenyan?” Maksudnya, agar Polikapus diselamatkan dari penganiayaan. Setelah Polikarpus ditangkap dan diserahkan kepada gubernur Romawi beberapa kali dia ditantang agar meninggalkan imannya. “Celalah Kristus dan aku akan melepaskanmu!” “Hormatilah usiamu, Pak Tua,” seru gubernur Romawi itu. “Bersumpahlah demi berkat Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, “Enyahkan orang-orang kafir!” “Angkatlah sumpah dan saya akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!” Polikarpus bisa saja pada saat itu menyangkal Kristus tetapi dia tidak mau melakukannya. Dia berkata “Delapan puluh enam tahun saya telah mengabdi dan melayani Kristus; Dia tidak pernah berbuat salah dan menyakitiku. Bagaimana mungkin saya mengkhianati Raja yang telah menyelamatkan saya?” Akhirnya, Polikarpuspun dibakar hidup-hidup di tengah pasar. Dia tewas sebagai seorang martir bagi Kristus pada usia 87 tahun.
• John Wycliffe
John Wycliffe, lahir di sebuah desa kecil di Yorkshire Inggris tahun 1325 dan menempuh studi teologinya di Universitas Oxford. Dia melayani dan berjuang demi Kristus, tetapi ironisnya dia ditolak dan dianiaya oleh gereja dan bukan oleh orang-orang yang tidak mengenal Kristus. John Wycliffe berjuang melawan pengajaran-pengajaran yang salah dalam gereja. Dia melihat begitu banyak orang yang sedang mengalami kebutaan rohani. Mereka melakukan berbagai upacara keagamaan tetapi tidak memiliki hubungan dengan Kristus. Bagi Wycliffe hal ini disebabkan karena banyak orang Kristen yang tidak dapat memahami Alkitab secara langsung.
Pada saat itu semua Alkitab memakai bahasa Latin yang hanya dapat digunakan oleh para imam. Sedangkan banyak orang Kristen di Inggris tidak memahami bahasa Latin sehingga mereka hanya mendapatkan pengajaran dari para imam yang justru mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan Alkitab. Perjuangan Wycliffe dilakukan dengan cara menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris, karena baginya setiap orang harus diberi keleluasaan membaca Alkitab dalam bahasanya sendiri. Kemudian diapun mengajarkan doktrin-doktrin yang sesuai dengan pengajaran Alkitab. Apa yang John Wycliffe lakukan ternyata tidak disukai oleh gereja. Pihak gereja meminta Wycliffe untuk tidak mengajarkan doktrin-doktrinnya. Kedudukannya sebagai pengajar di Oxford dicopot. Bahkan Wycliffe sempat diasingkan oleh gereja. Tetapi semuanya tidak meruntuhkan semangat Wycliffe. Dia tetap teguh untuk menyatakan kebenaran firman Tuhan sampai pada akhirnya dia meninggal dunia pada tanggal 31 Desember 1384 dalam usia 56 tahun. Tiga puluh satu tahun setelah Wycliffe meninggal dunia, gereja mengadakan rapat yang disebut sebagai konsili Constance dan memutuskan bahwa John Wycliffe adalah seorang yang sesat sehingga jenazahnya harus dilemparkan jauh dari gereja. Melalui keputusan konsili tersebut maka jenasah Wycliffe diangkat dari kubur, dibakar dan abunya dibuang ke sungai Rhine.
Matius 24: 4 -13 berisi nubuatan yang Yesus berikan tentang kondisi zaman akhir. Di dalamnya disebutkan tentang beberapa kondisi yang akan terjadi (bahkan kini sudah terjadi), yaitu,
1. Banyak orang akan datang dan mengaku sebagai Mesias atau Penyelamat, padahal nyatanya mereka malah menyesatkan. Sejak zaman Kristus sudah banyak muncul agama-agama baru yang menjadikan pendirinya sebagai Penyelamat tetapi ternyata ajaran mereka malah menyesatkan, artinya, tidak ada jaminan keselamatan untuk kehidupan akhirat.
2. Banyak terjadi perang, antar berbagai bangsa dengan negara (di Alkitab tertulis kerajaan). Sejarah menunjukkan bahwa pertikaian antara golongan, suku bangsa, negara, bahkan antar sesama umat beragama berlangsung seakan tidak pernah berhenti. Banyak pertemuan difasilitasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meredakan pertikaian ini, terutama bila menyangkau antar suku bangsa dan negara, namun belum tentu pertiakaian itu mereda. Umumnya pertikaian dan peperangan terjadi karena memperebutkan kekuasaan di suatu daerah tertentu.
3. Terjadi bahaya kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Dari berita, kita tahu bahwa gempa bumi terjadi di berbagai tempat di seluruh dunia. Indonesia adalah negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak sedunia. Bergantian gunung berapi ini meletus dan biasanya didahului oleh gempa. Masih jelas dalam ingatan kita tentang tsunami yang terjadi di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, dan mengakibatkan lebih dari 100 ribu jiwa melayang. Dalam catatan National Geography edisi Januari 2005, tsunami ini dinyatakan sebagai yang paling banyak memakan korban jiwa dalam sepanjang sejarah (news.nationalgeographic.com/news, 2010).Tsunami terjadi ketika ada gempa di laut. Bencana-bencana seperti ini mengakibatkan penduduk di sekitarnya mengungsi ke tempat yang lebih aman. Bahaya kelaparan biasanya menyusul. Namun, jangan dilupakan bahaya kelaparan yang terjadi karena daerah-daerah tertentu mengalami kekeringan yang luar biasa, atau karena peperangan yang tidak kunjung berhenti sehingga aliran pangan juga terganggu.
4. Kebencian terhadap pengikut Kristus yang bisa mengakibatkan pembunuhan. Topik bahasan kita berkisar di hal ini.
5. Pemurtadan dari pengikut Kristus, apa pun juga alasannya. Mereka yang semula sudah mengenal Kristus, ternyata kemudian memungkiri atau menyangkal-Nya. Mungkin saja karena mereka diiming-imingi hal yang nampaknya lebih berharga, misalnya kedudukan, kekuasaan, kekayaan, dan sebagainya.
6. Munculnya nabi palsu yang mengajak orang mengikuti ajaran mereka namun ternyata menyesatkan. Ini hampir sama dengan butir 1 di atas tentang mereka yang mengaku sebagai Mesias.
7. Banyak yang menjadi undur dalam kasih dan iman percaya karena banyaknya godaan dalam kehidupan mereka. Mungkin saja mereka tetap mengaku sebagai murid Kristus, tetapi kehidupan iman mereka hanya suam-suam kuku (istilah yang dipakai di Wahyu 3: 16 tentang kondisi pada jemaat di Laodikia sehingga sebagai akibatnya, Tuhan memuntahkan mereka).
Yesus menyampaikan nubuatan ini kepada para murid dan pengikutnya sebelum Ia akhirnya diadili dan disalibkan. Jadi, para murid sudah tahu bahwa penderitaan sebagai murid Kristus akan mereka alami. Ajaran Yesus ini sering dipakai oleh para penganut ateisme untuk menunjukkan bahwa Allah tidak ada (Foh, 2010). Argumen mereka, kalau betul Allah ada, tentu Ia tidak membiarkan kejahatan merajalela. Jadi kesimpulan tentang Allah adalah Ia tidak Maha Kuasa (tidak sanggup membasmi kejahatan) dan tidak Maha Kasih (membiarkan penderitaan tetap ada, bahkan dialami oleh anak-anak-Nya). Terhadap argumen ini, kita dapat memberikan sanggahan bahwa kejahatan adalah bukti bahwa dosa memang merusak kehidupan baik yang Allah berikan kepada manusia (bandingkan dengan Kejadian 1: 31 dan Kejadian 3:16-19). Jadi, tidak perlu menyalahkan Allah karena justru manusia pertama lah (Adam dan Hawa) yang membawa dosa masuk ke dalam kehidupan di alam semesta ini melalui pemberontakan mereka melawan Allah. Tetapi karya penyelamatan Allah melalui Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus menjadi jaminan keselamatan manusia yang tidak lagi dihukum karena melanggar perintah Allah. Walau pun begitu, dalam keseharian kita masih harus berjuang menunjukkan iman percaya kita kepada lingkungan di sekitar kita. Kenyataannya, ada saja pengikut Kristus yang kemudian beralih menjadi pengikut kepercayaan lain. Dengan kata lain, kita tetap melakukan bagian kita. Kepada jemaat di Filipi, Rasul Paulus meminta mereka untuk “... tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,” (Filipi 2:12). Keselamatan bukanlah sesuatu yang kita terima pada saat kita bertobat saja dan mengakui Yesus sebagai Juru Selamat kita dan setelah itu menjadi miliki kita selamanya. (Ini dapat diibaratkan seperti kita membeli keselamatan dengan pengakuan ucapan bibir kita bahwa Yesus adalah Juru Selamat.) Iman kita tidaklah bersikap pasif seperti itu, melainkan harus dikerjakan secara aktif. Hal penting yang harus kita lakukan adalah, menunjukkan iman percaya kita termasuk saat kita digoda bahkan diancam untuk mati karena mempertahankan kesetiaan terhadap Yesus.
Hal lain yang menakjubkan adalah, Rasul Petrus melihat penderitaan yang kita tanggung sebagai pengikut Kristus sebetulnya merupakan kasih karunia (1 Petrus 2: 19). Artinya, ketika seseorang mengalami penderitaan seperti ini, ia menjalaninya karena menyadari bahwa ini adalah kehendak Allah. Petrus menuliskan ini karena ini memiliki pengalaman menyangkal Yesus di hadapan orang banyak (Matius 26: 69-75; Markus 14: 66-72; Lukas 22: 56-62; Yohanes 18: 15- 18,25-27).
Namun kemudian Petrus menyesali penyangkalannya ini, dan untuk membuktikan kesetiaannya kepada Kristus, Petrus bersedia dihukum mati dengan cara disalibkan dengan posisi terbalik, yaitu kepalanya berada di bawah. Dalam konteks pemahaman penderitaan inilah peserta didik diajak untuk mempelajari tokoh-tokoh lainnya yang juga berani mengorbankan nyawa karena mempertahankan iman percaya mereka kepada Kristus yang dikenal sebagai Juru Selamat pribadi.
Untuk melihat tugas, silahkan klik di sini
Kompetensi Dasar 3.1. Mengampuni dan menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus.
Anak-anak, cermatilah materi yang terdapat pada modul tersebut,
selanjutnya kerjakan latihan-latihan di bawah ini dengan cara memilih jawaban yang paling benar.
Apabila kalian kesulitan
dalam mengerjakan tugas, kalian bisa berdiskusi dengan bapak, ibu, saudara,
ataupun teman kalian.
I.
Berilah
tanda silang (x) pada huruf A, B, C atau D untuk jawaban yang tepat !
1. Memaafkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya
dan tidak mengungkit kesalahan itu lagi disebut ....
A.
Mengharapkan
B.
Mengampuni
C.
Menyembuhkan
D.
Melupakan
2.
Menganggap
diri paling benar sedangkan orang lain selalu salah merupakan sifat....
A.
Amarah
B.
Sombong
C.
Egois
D.
Emosional
3.
Mengampuni
kesalahan orang lain sama halnya membebaskan diri dari kebencian dan hal ini
akan membuat hati kita merasa ....
A.
Damai
B.
Sedih
C.
Bimbang
D.
Biasa saja
4.
Yusuf
memastikan bahwa saudara-saudaranya telah berubah dan dia tidak akan menjadi
korban untuk kedua kalinya. Sikap yusuf ini berarti ....
A.
Hidup
pasrah dengan apa yang akan dialami
B.
Menyerahkan
diri untuk disakiti orang lain lagi
C.
bersedia
disakiti untuk kedua kalinya
D.
tidak
bersedia terluka untuk kedua kalinya
5.
Kisah
Yusuf dan saudara-saudaranya, ia sadar bahwa dahulu ayah terlalu menyayangi dan
mengistimewakan yusuf. Hal ini menyebabkan saudara-saudaranya merasa ....
A.
Sedih
B.
Senang
C.
iri hati
D.
Gembira
6.
Kebencian
yang dialami saudara-saudara yusuf kepadanya membuat saudara-saudaranya
merencanakan hal jahat kepada Yusuf yaitu rencana untuk ....
A.
menjual
kambing domba yusuf
B.
menjual
yusuf menjadi budak di mesir
C.
membuang
jubah yusuf yang paling indah
D.
membohongi
yusuf
7.
Pengampunan
yang kita berikan kepada orang yang bersalah kepada kita hendaknya lahir dari
niat baik dan ....
A.
ketegangan
hati
B.
ketulusan
hati
C.
keteguhan
hati
D.
keraguan
hati
8.
Langkah
selanjutnya yang bisa dilakukan setelah mengampuni orang lain adalah dengan
....
B.
Membuat
kesalahan kembali
C.
Membicarakan
kesalahannya kepada orang lain
D.
Memusuhi
orang yang lain
9.
Mengampuni
orang lain tidak bisa kita lakukan apabila kita hanya mengandalkan ....
10.
Tuhan
Yesus berjanji kepada kita, mintalah kepada Tuhan maka engkau akan ....
II. Uraian
Buatlah rangkaian doa yang
berisi permohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat !
Setelah selesaikan mengerjakan tugas,
periksa kembali jawaban kalian barangkali masih ada yang harus diperbaiki. Tugas
Kegiatan Belajar 1 ini harus selesai pada hari ................. Kumpulkan tugas kalian kepada guru PABP
pada pertemuan berikutnya
MODUL PENDIDIKAN
AGAMA KRISTEN DAN BUDI PEKERTI
|
|
|
Mata Pelajaran |
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti |
|
Kelas/Semester |
VII/Gasal |
|
Tema |
Indahnya Mengampuni (Bahan Alkitab: Kejadia 45:1-14; Matius
6:14-15 dan Matius 18: 22-35) |
|
Pengantar |
Shalom, selamat berjumpa dalam pembelajaran PABP. Pada modul 1 ini kita akan belajar
tentang Indahnya Mengampuni. Namun, sebelumnya marilah kita berdoa terlebih dahulu.
Mengingatkan kepada peserta didik sekalian tetap mengenakan protokol
kesehatan untuk menjaga kesehatan diri.
Mengampuni
berarti membebaskan dirimu dari kebencian dan membiarkan perasaan damai
menguasai hatimu. Sikap yang luar biasa, bukan? Pernahkah kamu mengampuni
atau diampuni seseorang? Coba ceritakan pengalamanmu itu secara berkelompok
atau kamu dapat berbagi dengan teman sebangku
tentang bagaimana kamu mengampuni ataupun diampuni oleh seseorang. Apa
yang kamu rasakan setelah mengampuni atau diampuni olehnya? Sebaliknya,
adakah pengalaman ketika kamu tidak bersedia mengampuni orang lain ataupun
tidak diampuni oleh orang lain, bagaimana perasaanmu? |
|
Tujuan Pembelajaran |
Setelah
mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:
1. Mendiskripsikan arti mengampuni 2. Mengidentifikasi tokoh yang bernama Nelson Mandela 3. Menganalisa dampak dari mengampuni bahi hidup
manusia melalui cerita Yusuf 4. Mengemukakan cara Allah menyelamatkan manusia
berdosa 5.
Membuat doa permohonan
pengampunan dosa dengan benar |
|
Kegiatan Pembelajaran :
|
Kegiatan
Awal :
1.
Diawali dengan
berdoa 2.
Menyanyikan lagu
“Dihapuskan dosaku” Kegiatan Inti: 1.
Peserta didik
membaca (literasi) pada buku siswa halaman 2 2.
Peserta didik
membaca rangkaian materi pada pokok bahasan pada buku siswa halaman 3 s/d 5
Kegiatan Penutup : Peserta
didik mengerjakan latihan soal pilihan ganda dan membuat rangkaian doa yang
isinya memohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat . |
|
Materi
Mengampuni
artinya kita memaafkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya dan tidak
mengungkit kesalahan itu lagi. Pada kenyataannya cukup sulit untuk
melakukannya. Mengapa? Karena tiap orang memiliki sifat egois atau keakuan
yang cenderung menempatkan dirinya sebagai orang yang paling benar sedangkan
orang lain selalu menjadi pihak yang salah. Mengapa demikian? Karena kita
selalu tergoda untuk hanya melihat ke dalam diri kita saja, kita berpikir
dari sudut diri sendiri, dan lupa untuk berpikir dari sudut orang lain.
Contohnya, jika terjadi masalah atau pertikaian dengan teman, kita cenderung
menyalahkan teman tanpa mau bersusah payah mencari tahu mengapa dia marah
pada kita. Padahal kemungkinan ada perbuatan kita yang tidak berkenan
baginya. Banyak orang mengira mengampuni berarti melupakan masalah, merelakan
kesalahan orang lain, membebaskan diri dari kebencian, dendam dan marah.
Sebenarnya mengampuni itu adalah
perbuatan yang terutama kita lakukan untuk diri kita sendiri tanpa
melupakan orang yang menyakiti kita.
Dengan
mengampuni kita melepaskan diri kita dari amarah dan dendam, bukan melepaskan
orang lain dari pikiran kita. Namun seberapa dalam pun luka yang telah
terjadi, kita tidak akan sembuh dari luka itu sampai kita mengampuni
kesalahan orang yang bersangkutan. Pengampunan adalah sebuah keputusan dari
hati dan mengampuni tidaklah mengubah masa lalu, melainkan mencerahkan masa
depan. Artinya, pengampunan yang diberikan tidak berarti menghapus masa lalu
karena semua sudah terjadi. Dengan mengampuni, seseorang dibebaskan dari
beban kebencian, dan hati terasa damai. Dengan begitu langkah ke depan
menjadi cerah.
Apakah Mudah
untuk Melupakan Rasa Sakit Hati Kita? Dalam
beberapa kasus sangat sulit untuk menyembuhkan luka hati dan rasa benci,
tetapi perlu diingat bahwa pengampunan
itu dapat berarti hal seperti berikut ini. 1. Membebaskan diri dari
beban kebencian dan menggantinya dengan damai sejahtera. Coba kamu ambil air
putih dan tuangkan kopi kental atau teh sedikit demi sedikit. Lama kelamaan
air putih akan berubah menjadi kuning
untuk teh dan hitam untuk kopi.
Seperti itulah hatimu diubah dari putih menjadi hitam. Kamu tidak ingin
hatimu pekat seperti kopi, bukan? 2. Tidak berarti kita
bersedia terluka untuk kedua kalinya. Yusuf memastikan bahwa
saudara-saudaranya telah berubah dan dia tidak akan menjadi korban untuk
kedua kalinya. Jadi, kamu dapat mengampuni tetapi tidak menyerahkan dirimu
untuk menjadi korban kemarahan ataupun tindakan negatif lainnya.
Bagaimana Mengampuni?
Kamu pernah
dipermalukan oleh seseorang dan hal itu selalu tersimpan di dalam ingatanmu.
Makin kamu mengingatnya, makin dalam rasa benci. Coba kamu berpikir, mengapa
dia melakukan hal itu padamu! Kemudian, cobalah membuat daftar penyebabnya.
Misalnya, karena kamu pintar dan tekun belajar, atau karena kamu cenderung
tidak mau bergaul sehingga teman-teman memiliki pemahaman yang salah tentang
dirimu. Mungkin karena kecerobohanmu menyebarkan rahasia yang dipercayakan
padamu, atau karena kamu lalai mengundangnya ke pesta ulang tahunmu, atau
karena kamu punya teman baru. Jika dirunut, selalu ada hubungan sebab akibat
dalam rusaknya sebuah hubungan yang berakhir dengan pertengkaran dan
kebencian, juga dendam. Jika kita bersikap objektif, kita akan temukan bahwa
kedua belah pihak turut menyebabkan rusaknya hubungan antarteman atau
saudara.
Dalam kisah
Yusuf dan saudara-saudaranya, ia sadar bahwa dahulu ayahnya terlalu mencintai
dan mengistimewakan dirinya. Hal itu menyebabkan saudara-saudaranya iri hati
dan mereka membencinya. Wujud dari kebencian itu, mereka menjualnya sebagai
budak. Namun, dia tidak membenci mereka, tetapi juga Yusuf tidak secara
otomatis mengampuni saudara-saudaranya. Dia menguji saudara-saudaranya dengan
cara menyelipkan piala ke dalam karung adik mereka yang paling kecil. Yusuf
ingin menguji saudarasaudaranya apakah mereka telah berubah, atau mereka akan
mengorbankan adiknya seperti dahulu ketika mereka membenci dan menjualnya
sebagai budak. Ternyata, saudara-saudaranya telah berubah. Mereka membela
adiknya Benyamin serta menangisinya, bahkan kakak tertua rela ditahan untuk
menggantikan adiknya. Dengan cara itu,
Yusuf mengetahui bahwa kini
saudara-saudaranya telah berubah dan karena itu, sudah waktunya dia
menyatakan dirinya pada mereka dan memaafkan mereka. Yusuf tidak menanti
supaya saudara-saudaranya ketakutan dan mengemis untuk dimaafkan, tetapi
dialah yang mengambil inisiatif untuk mendatangi mereka.
Jadi,
pengampunan yang kita berikan pada seseorang hendaknya lahir dari niat baik
dan ketulusan hati kita. Yusuf pada dasarnya memiliki hati pemaaf. Sejak dia
melihat mereka, dia sudah mulai berupaya menciptakan pemulihan hubungan
persaudaraan mereka. Amatlah penting untuk menghubungkan pengampunan atau
memaafkan dengan memulihkan hubungan. Mengapa demikian? Jika kita mengampuni
seseorang, upaya kita tidak berhenti hanya pada sekadar mengampuni, kita juga
berupaya memulihkan hubungan kita dengan orang itu. Jika mengandalkan
kemampuanmu sendiri, tentu sangat
sulit untuk mengampuni sesama. Mintalah Tuhan membantu kamu untuk
memberi hikmat supaya dapat mengampuni orang lain dan juga bersedia mohon
maaf pada orang lain atas kesalahanmu. Matius
18:22-35 yang berisi perumpamaan mengenai orang yang kesalahannya telah
diampuni, tetapi dia tidak mau mengampuni kesalahan orang lain. Sang raja
adalah Tuhan, sedangkan yang berutang adalah umat Tuhan. Simpulan perumpamaan
ini terdapat dalam (ayat 35). |
|
Tari Kreasi kelas 9