Jumat, 26 Maret 2021

 Membangun Solidaritas di Tengah Masyarakat Majemuk (Bahan Alkitab: Mazmur 133; Matius 25:31-46, dan Matius 22: 37-39)



K.D 3.4 Menceritakan bentuk solidaritas sosial yang dilakukan bagi sesama mengacu pada ajaran Yesus Kristus

TUJUAN :
1. Siswa memilih sikap yang benar dalam kaitannya dengan solidaritas dalam masyarakat majemuk
2. Siswa mampu menceritakan pengalaman hidup bersama dalam masyarakat majemuk.
3. Siswa mampu merancang kegiatan sebagai wujud solidaritas  dalam masyarakat majemuk.

Pengantar

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk atau beragam yang terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, budaya,  agama maupun kelas sosial. Hal itu merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Negara  Indonesia merupakan negara kepulauan, yang terdiri dari ribuan pulau kecil dan sejumlah pulau besar. Letak, jarak dan jumlah pulau yang  banyak, mempengaruhi kebudayaan masyarakat Indonesia, sehingga wilayah Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam. Keberagaman ini jika tidak dikelola dengan baik, maka konflik akan mudah terjadi dan dapat memecah persatuan bangsa Indonesia. Untuk itu solidaritas antarmasyarakat perlu dikembangkan sehingga masyarakat dapat menerima perbedaan satu sama lain. 
Persentuhan antarbudaya dan prasangka sosial akan selalu terjadi karena permasalahan yang senantiasa terkait erat dengan hubungan antarmasyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.  Berbagai prasangka atau prejudis dapat menjadi pemicu konflik dan perpecahan. Oleh karena itu dibutuhkan kearifan tersendiri untuk mengelola berbagai perbedaan yang ada. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting yang dapat diharapkan memberikan pencerahan pada masyarakat supaya mampu membangun solidaritas dan tenggang rasa di antara sesama bangsa. Dalam hal ini peran generasi muda termasuk remaja amat besar untuk membangun rasa kebersamaan dalam berbagai perbedaan yang ada. 

Materi

Kitab Mazmur 133 berbicara tentang persaudaraan yang rukun. Alangkah indahnya jika semua orang dari berbagai latar belakang yang berbeda dapat hidup bersama-sama dengan rukun. Pemazmur melihat bahwa kehidupan yang rukun akan membawa kebahagiaan dan ketenteraman, sebaliknya kehidupan yang kacau dan penuh pertikaian membawa penderitaan. 

Apa yang tertulis dalam Kitab Mazmur memang indah, namun dalam kenyataannya, semua tidak dapat tercipta dengan sendirinya. Apalagi di negara kita isu-isu mengenai perbedaan suku dan  agama sering dijadikan alasan timbulnya konflik dan kekerasan. Ada berbagai peristiwa di mana terjadi amuk massa yang disebabkan karena salah pengertian kemudian dikaitkan dengan perbedaan suku dan  agama. Akar dari semua peristiwa itu karena masyarakat tertentu tidak terlatih untuk membangun solidaritas di tengah perbedaan yang ada. Atau karena sebagian orang sudah terlanjur memiliki prasangka buruk terhadap orang lain yang berbeda  agama dan suku, apalagi berbeda kelas sosial (antara yang kaya dengan yang miskin). Ada juga yang berpikir, mengapa harus saya yang mulai memikirkan mengenai solidaritas dan kebersamaan? Mengapa bukan pihak lain dulu baru saya menanggapinya? Atau selama ini saya membangun pemikiran dan sikap positif terhadap mereka yang berbeda dengan saya, tetapi mereka tidak pernah berubah, tetap bersikap tidak baik terhadap saya, jadi mengapa saya harus bersikap baik, toh tidak ada gunanya. 

Pemikiran-pemikiran seperti ini keliru,  ketika kita belajar tentang nilai-nilai kristiani, kita akan mengerti bahwa tiap orang Kristen terpanggil untuk mewujudkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran dan keadilan dalam hidupnya sebagaimana tercantum dalam buah Roh (Galatia 5:22). 

Jadi, kebaikan yang kita lakukan tidak boleh berpatokan pada apa yang dilakukan oleh orang lain terhadap kita. Kita harus proaktif atau terlebih dahulu mengambil inisiatif untuk “berbuat.” Semua harus datang dari dalam hati dan merupakan keputusan hati nurani seseorang. 

Sebagai remaja, justru inilah saat yang paling penting untuk belajar dan menumbuhkan sikap dan tindakan solidaritas sebagai kebiasaan yang dilakukan dalam hidup. Semua yang dilakukan merupakan wujud tanggapan dan tanggung jawab sebagai remaja Kristen yang telah diselamatkan oleh Allah di dalam Yesus Kristus. Semua orang beriman diminta untuk mengasihi sesama manusia tanpa kecuali.

 Bentuk-bentuk solidaritas di tengah masyarakat majemuk yang dapat diwujudkan sebagai remaja, antara lain sebagai berikut: 

1. Menghargai  teman dan orang lain  dalam berbagai perbedaan. 

2. Menghargai penganut  agama lain dan semua aturan  agamanya termasuk ibadahnya. 

3. Berteman dengan seseorang tanpa memandang perbedaan yang ada. 

4. Dapat bekerja sama dan menolong teman dan sesama tanpa memandang perbedaan  agama, suku dan status sosial (kaya ataupun miskin). 


Untuk melihat tugas silahkan klik di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SENI TARI KELAS 9

Tari Kreasi kelas 9