|
Modul 2 |
|||||||||||||
|
Mapel |
Pendidikan
Agama Kristen & Budi Pekerti |
||||||||||||
|
Kelas/Semester |
VIII /
Semester 1 |
||||||||||||
|
Tema |
BAB 2 - Hidup
Berpengharapan |
||||||||||||
|
Pembukaan Shalom anak – anak kelas depalan, berjumpa kembali dengan pelajaran
Pendidikan Agama Kristen & Budi Pekerti. Untuk modul 2 kali ini kita akan
membahas u materi Bab 2 – Hidup
Beriman. Namun sebelumnya kita berdoa terlebih dahulu supaya Tuhan menyertai
belajar kita. |
|||||||||||||
|
Tujuan pembelajaran Setelah mengikuti proses pembelajaran,
peserta didik diharapkan dapat: ü Memahami
makna hidup berpengharapan ü Membandingkan
ciri-ciri orang hidup berpengharapan dan tidak berpengharapan ü Menunjukkan
contoh perilaku berpengharapan ü
Menjabarkan pentingnya memiliki pengharapan ü Menggali
penyambutan Simeon atas kelahhiran tuhan Yesus dalam Injil Lukas 2:23 |
|||||||||||||
|
Kegiatan Pembelajaran Kegiatan 1 : Memuji Tuhan “ Pelangi
kasihNya” dan membaca cerita Ibu Monika dan keluarganya. Kegiatan 2 : Melakukan pendalaman
Alkitab Lukas 2:23 – 32
; belajar dari Simeon Kagiatan 3 : Doa pentutup dan
mengerjakan LKPD |
|||||||||||||
|
Materi A. Membaca Cerita Di kota Thagaste,
Afrika Utara, tinggallah keluarga dengan tiga orang anak. Sang ibu bernama Monika. Ia adalah
seorang Kristen yang taat. Sementara sang bapak bernama Patrisius, seorang
pejabat tinggi di pemerintahan yang membenci kekristenan. Tak segan-segan ia mencemooh istrinya
bila hendak mengajarkan iman Kristen kepada anak-anaknya. Di bawah pengaruh
buruk sang bapak, anak sulungnya hidup dalam pesta pora, foya-foya, dan
pergaulan bebas. Walaupun sang ibu terus menasihatinya, anak itu tetap saja bandel. Melihat perilaku anak sulungnya,
Monika merasa sangat sedih. Segala cara sudah ia coba untuk menyadarkan anak
sulungnya. Namun, Monika selalu gagal, tapi, ia tidak putus asa. Dengan
sabar, ia terus berusaha membimbing anaknya. Ia juga tidak pernah putus berdoa bagi
anak dan suaminya. “Kiranya Tuhan yang mahabaik dan mahakasih, melindungi dan
membimbing suami dan putraku ke jalan yang benar dan dikehendaki-Nya,”
demikian ia berdoa. Doa itu ia naikkan bertahun-tahun lamanya dengan tekun
dan tabah. Suatu hari
Patrisius sakit keras.
Sesaat sebelum meninggal dunia, ia bertobat dan meminta agar dibaptis.
Sayangnya, hal tersebut tidak membuat anak tertuanya berubah. Ia tetap hidup
dalam dunia kelam, tidak mau bertobat dan terus menyakiti hati ibunya. Hingga
suatu saat sang anak memutuskan untuk meninggalkan
ibunya dan pergi ke Italia. Hati Monika benar-benar hancur. Ia begitu sedih
harus berpisah dari anaknya apalagi di usianya yang ke-29 tahun, anaknya
belum berubah. Monika tidak kehilangan pengharapan. Ia terus mendoakan anaknya. Saat itu pun tiba.
Di Italia, tepatnya di Kota Milan,
sang anak bertemu dengan Uskup Ambrosius yang
kemudian membimbingnya secara pribadi. Akhirnya tepat pada 24 April 387, doa Monika yang dinaikkan lebih dari 20 tahun itu akhirnya terjawab. Hari itu, anaknya memberikan diri
untuk dibaptis, memutuskan hidup baru, dan bertobat untuk kemudian
meninggalkan dosa-dosanya. Tujuh bulan
kemudian, sang anak kembali ke Afrika Utara
dan menjadi Uskup di Hippo pada usia
41 tahun. Sang
anak adalah Agustinus, yang kemudian dikenal sebagai seorang Bapa Gereja
yang disegani dan dihormati. Seseorang yang kemudian sangat berpengaruh dalam
sejarah gereja. Terima kasih
kepada Ibu Monika, yang tidak
pernah kehilangan pengharapan dan tak sekalipun putus asa untuk mendoakan anaknya. Pengharapan yang
mengubah hal yang
sebelumnya mustahil menjadi kenyataan. (Sumber:
Augustine of Hippo
oleh Peter Brown,
1967). B.
Belajar dari tokoh Simeon ( Lukas
21 : 23 – 32) Ada
seorang bernama Simeon. Lukas menyebut Simeon sebagai “seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel”
(Lukas 2:25). Ia dengan setia
terus beribadah kepada
Tuhan, berdoa, menyembah, dan
melayani Tuhan di Bait Allah.
Simeon percaya saatnya akan tiba bagi
Allah untuk memenuhi janji-Nya. Kepercayaan yang terus dipegang dan
dipeliharanya sampai masa tuanya. Tentu tidak
mudah bagi Simeon untuk terus mempertahankan
keyakinannya itu. Apalagi di tengah ketidakjelasan nasib bangsanya, juga
keadaan fisiknya yang semakin menurun karena usia lanjut. Akan tetapi, Simeon
tetap berpengharapan Ia tetap teguh meyakini bahwa ia akan melihat Sang
Mesias yang ditunggu- tunggu itu (Lukas 2:
26). Pengharapan
Simeon tidak sia-sia. Suatu hari, Roh Kudus menggerakkan hatinya untuk datang
ke Bait Suci. Di sana, ia bertemu dengan Maria dan Yusuf yang sedang membawa bayi Yesus.
Sebagaimana aturan dalam hukum Taurat, beberapa hari setelah dilahirkan,
setiap bayi laki-laki harus dibawa ke Bait Suci untuk diserahkan kepada
Allah. Begitu melihat bayi Yesus,
Simeon segera menggendong-Nya. Sambil memuji Allah ia pun berseru,“Sekarang,
Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi
dalam damai sejahtera, sesuai
dengan firman-Mu, sebab
mataku telah melihat
keselamatan yang dari pada-Mu, yang
telah Engkau sediakan di hadapan segala
bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi
bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi
umat-Mu, Israel” (Lukas
2:29-32). Pujian ini adalah ungkapan sukacita Simeon bahwa ia boleh mengalami
bagaimana janji Allah digenapi, bukan hanya bagi dirinya, tetapi
juga bagi seluruh
umat Israel. |
|||||||||||||
|
Lembar Kerja
Peserta Didik (LKPD) Amatilah peristiwa – peristiwa yang ada diseiktarmu, kemudian
tulisakan di bawah ini lima ciri
hidup orang yang
memiliki harapan, dan
kolom satunya diisi
dengan lima ciri hidup
orang yang tidak
memiliki harapan.
*ketentuan tugas disesuaikan dengan
keadaan siswa masing – masing sekolah. |
|||||||||||||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar