Kamis, 05 Agustus 2021

Hidup Berpengharapan

 

Modul 2

Mapel

Pendidikan Agama Kristen & Budi Pekerti

Kelas/Semester

VIII / Semester 1

Tema

BAB 2 - Hidup Berpengharapan

Pembukaan

Shalom anak – anak kelas depalan, berjumpa kembali dengan pelajaran Pendidikan Agama Kristen & Budi Pekerti. Untuk modul 2 kali ini kita akan membahas u  materi Bab 2 – Hidup Beriman. Namun sebelumnya kita berdoa terlebih dahulu supaya Tuhan menyertai belajar kita.

Tujuan pembelajaran

Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:

ü Memahami makna hidup berpengharapan

ü Membandingkan ciri-ciri orang hidup berpengharapan dan tidak berpengharapan

ü Menunjukkan contoh perilaku berpengharapan

ü Menjabarkan pentingnya memiliki pengharapan

ü Menggali penyambutan Simeon atas kelahhiran tuhan Yesus dalam Injil Lukas 2:23

 

Kegiatan Pembelajaran

 

Kegiatan 1 : Memuji Tuhan “ Pelangi kasihNya” dan membaca cerita Ibu Monika dan keluarganya.

 

Kegiatan 2 : Melakukan pendalaman Alkitab Lukas 2:23 – 32 ; belajar dari Simeon

 

Kagiatan 3 : Doa pentutup dan mengerjakan LKPD

Materi

A.   Membaca Cerita

Di kota Thagaste, Afrika Utara, tinggallah keluarga dengan tiga orang  anak. Sang ibu bernama Monika. Ia adalah seorang Kristen yang taat. Sementara sang bapak bernama Patrisius, seorang pejabat tinggi di pemerintahan yang membenci kekristenan. Tak segan-segan ia mencemooh istrinya bila hendak mengajarkan iman Kristen kepada anak-anaknya. Di bawah pengaruh buruk sang bapak, anak sulungnya hidup dalam pesta pora, foya-foya, dan pergaulan bebas. Walaupun sang ibu terus menasihatinya, anak itu tetap saja bandel.

Melihat perilaku anak sulungnya, Monika merasa sangat sedih. Segala cara sudah ia coba untuk menyadarkan anak sulungnya. Namun, Monika selalu gagal, tapi, ia tidak putus asa. Dengan sabar, ia terus berusaha membimbing anaknya.     Ia juga tidak pernah putus berdoa bagi anak dan suaminya. “Kiranya Tuhan yang mahabaik dan mahakasih, melindungi dan membimbing suami dan putraku ke jalan yang benar dan dikehendaki-Nya,” demikian ia berdoa. Doa itu ia naikkan bertahun-tahun lamanya dengan tekun dan tabah.

Suatu hari Patrisius sakit keras. Sesaat sebelum meninggal dunia, ia bertobat dan meminta agar dibaptis. Sayangnya, hal tersebut tidak membuat anak tertuanya berubah. Ia tetap hidup dalam dunia kelam, tidak mau bertobat dan terus menyakiti hati ibunya. Hingga suatu saat sang anak memutuskan untuk meninggalkan ibunya dan pergi ke Italia. Hati Monika benar-benar hancur. Ia begitu sedih harus berpisah dari anaknya apalagi di usianya yang ke-29 tahun, anaknya belum berubah. Monika tidak kehilangan pengharapan. Ia terus mendoakan anaknya.

Saat itu pun tiba. Di Italia, tepatnya di Kota Milan, sang anak bertemu dengan Uskup Ambrosius yang kemudian membimbingnya secara pribadi. Akhirnya tepat pada 24 April 387, doa Monika yang dinaikkan lebih dari 20 tahun itu akhirnya terjawab. Hari itu, anaknya memberikan diri untuk dibaptis, memutuskan hidup baru, dan bertobat untuk kemudian meninggalkan dosa-dosanya.

Tujuh bulan kemudian, sang anak kembali ke Afrika Utara dan menjadi Uskup di Hippo pada usia 41 tahun. Sang anak adalah Agustinus, yang kemudian dikenal sebagai seorang Bapa Gereja yang disegani dan dihormati. Seseorang yang kemudian sangat berpengaruh dalam sejarah gereja. Terima kasih kepada Ibu Monika, yang tidak pernah kehilangan pengharapan dan tak sekalipun putus asa untuk mendoakan anaknya. Pengharapan yang mengubah hal yang sebelumnya mustahil menjadi kenyataan. (Sumber: Augustine of Hippo oleh Peter Brown, 1967).

 

B.    Belajar dari tokoh Simeon ( Lukas 21 : 23 – 32)

 

Ada seorang bernama Simeon. Lukas menyebut Simeon sebagai “seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel” (Lukas 2:25). Ia dengan setia terus beribadah kepada Tuhan, berdoa, menyembah, dan melayani Tuhan di Bait Allah. Simeon percaya saatnya akan tiba bagi Allah untuk memenuhi janji-Nya. Kepercayaan yang terus dipegang dan dipeliharanya sampai masa tuanya.

Tentu tidak mudah bagi Simeon untuk terus mempertahankan keyakinannya itu. Apalagi di tengah ketidakjelasan nasib bangsanya, juga keadaan fisiknya yang semakin menurun karena usia lanjut. Akan tetapi, Simeon tetap berpengharapan Ia tetap teguh meyakini bahwa ia akan melihat Sang Mesias yang ditunggu- tunggu itu (Lukas 2: 26).

Pengharapan Simeon tidak sia-sia. Suatu hari, Roh Kudus menggerakkan hatinya

untuk datang ke Bait Suci. Di sana, ia bertemu dengan Maria dan Yusuf yang sedang membawa bayi Yesus. Sebagaimana aturan dalam hukum Taurat, beberapa hari setelah dilahirkan, setiap bayi laki-laki harus dibawa ke Bait Suci untuk diserahkan kepada Allah.

Begitu melihat bayi Yesus, Simeon segera menggendong-Nya. Sambil memuji Allah ia pun berseru,“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Lukas 2:29-32). Pujian ini adalah ungkapan sukacita Simeon bahwa ia boleh mengalami bagaimana janji Allah digenapi, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi seluruh umat Israel.

 

 

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

 

Amatilah peristiwa – peristiwa yang ada diseiktarmu, kemudian tulisakan di bawah ini lima ciri hidup orang yang memiliki harapan, dan kolom satunya diisi dengan lima ciri hidup orang yang tidak memiliki harapan.

 

Ciri hidup berpengharapan

L Ciri hidup tidak berpengharapan

1.        

 

2.        

 

3.        

 

4.        

 

5.        

 

 

*ketentuan tugas disesuaikan dengan keadaan siswa masing – masing sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SENI TARI KELAS 9

Tari Kreasi kelas 9