|
MODUL
1 |
|
|
MAPEL |
PENDIDIKAN
AGAMA KRISTEN DAN BP |
|
KELAS/SEMESTER |
IX/GANJIL |
|
TEMA |
Gereja Sebagai Umat
Allah yang Baru |
|
PENGANTAR |
Anak-anak selamat pagi,
mari pagi ini kita awali dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Sebelum pembelajaran kita mulai kita awali dulu dengan Doa. Kemudian kita akan memuji nama Tuhan KJ 257:1 |
|
TUJUAN
PEMBELAJARAN |
Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat: 1. Membedakan gereja yang hanyalah gedung dengan gereja yang merupakan orangnya. 2. Menjelaskan mengapa gereja memiliki ciri-ciri yang khas sebagai kritik terhadap umat Yahudi pada masa Yesus serta menyebutkan ciri-ciri tersebut. 3. Menjelaskan beberapa aspek pergumulan gereja di masa lampau dan masa kini. 4. Menyebutkan beberapa contoh kegagalan gereja untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, serta menyusun rencana tentang bagaimana mengubah kegagalan tersebut, bila hal itu mereka temukan di gereja mereka. |
|
KD | 3.1 Memahami karya Allah dalam pertumbuhan gereja sebagai umat-Nya di dunia yang bergumul untuk menjadi saksi-Nya yang setia 4.1 Menelaah karya Allah dalam pertumbuhan gereja sebagai umat-Nya di dunia yang bergumul untuk menjadi saksi-Nya yang setia. |
MATERIGereja: Gedungnya atau Orang? Empat puluh hari setelah Yesus naik ke surga,
murid-murid-Nya berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem. Tiba-tiba angin kencang
bertiup di ruangan yang terkunci itu. Lalu lidah api yang berkobar-kobar turun
di atas kepala murid-murid. Sebuah kejadian aneh dialami oleh para murid.
Mendadak mereka berkata-kata dalam bahasabahasa asing. Yerusalem saat itu penuh
sesak dengan orangorang dari berbagai negeri. Orang banyak datang ke kota itu
untuk merayakan hari Pentakosta atau perayaan syukur untuk panen mereka di Bait
Suci di kota itu. Murid-murid keluar dari tempat mereka berkumpul. Dan tiba-tiba
semua orang yang mendengar mereka dan yang berasal dari berbagai tempat di
dunia dapat memahami kata-kata mereka. Apa yang disaksikan oleh orang banyak
itu tidak lain adalah bukti bahwa Yesus yang disalibkan dan yang telah bangkit
dan naik ke surga itu, sungguh-sungguh berkuasa. “Jadi apa yang harus kami
lakukan?” tanya orang banyak itu.Para murid yang tadinya sangat ketakutan dan
selalu bersembunyi, kini berubah menjadi orang-orang yang sangat berani dan
penuh rasa percaya diri. Mereka dengan tegas memberikan kesaksian tentang
pengalaman mereka bersama Kristus yang telah bangkit itu. Melalui kesaksian
mereka yang sangat meyakinkan itu sehingga orang banyak tergerak dan bertanya
lebih jauh, “Jadi apa yang harus kami lakukan?” Petrus menjawab, “Bertobatlah
dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus
Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”
(ay. 38). Hari itu juga banyak orang yang meminta agar mereka dibaptiskan.
Jumlah mereka sekitar tiga ribu orang. Itulah gereja perdana. Apa yang menarik
dari bagian kisah ini? Ternyata gereja tidak pertama-tama dibentuk oleh
gedungnya. Bahkan orangorang Kristen perdana justru berkumpul setiap hari di
Bait Allah (Kis 2:46), bukan karena mereka tidak punya tempat ibadah, melainkan
karena mereka memandang diri mereka sebagai bagian dari umat Yahudi. Di sini
kita dapat melihat bahwa gereja, seperti yang dikatakan dalam kata-kata
nyanyian pembukaan kita, terutama sekali adalah orangnya. Dapatkah
gedung-gedung gereja itu disebut sebagai “gereja”? Sudah tentu tidak! Gereja
tanpa orangnya bukanlah gereja. Makna GerejaKata “gereja”
dalam bahasa Indonesia berasal dari sebuah kata dalam bahasa Portugis yaitu
igreja (baca: igreza). Kata igreja dalam bahasa Portugis ini dekat sekali
dengan kata iglesia dalam bahasa Spanyol yang mempunyai arti yang sama, yaitu
“gereja”. Kata iglesia ini dapat ditelusuri kembali ke kata aslinya dalam
bahasa Yunani yaitu ekklesia. Kata ekklesia berasal dari dua kata, yaitu ek dan
klesia. Kata ek berarti “keluar”, sementara kata klesia berasal dari kata kerja
kaleo yang berarti “memanggil”. Dengan demikian, kata ekklesia mengandung arti
“dipanggil keluar”. Artinya, anggotaanggota gereja adalah orang-orang yang
dipanggil untuk keluar dari lingkungannya, dari sanak keluarganya, dari kaum
kerabatnya, untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas baru yang bernama
gereja. Orang-orang ini termasuk kita semua dipanggil keluar untuk
menjalankan tugas kita untuk memberitakan kasih Allah yang dinyatakan melalui
Yesus Kristus. Kasih itu harus disampaikan dengan perkataan dan perbuatan kita. Umat Allah yang BaruBagaimana kaitan
antara agama Yahudi dengan agama Kristen? Apakah keduanya berbeda ataukah sama?
Dalam Yeremia 31:31-33. Nabi Yeremia menubuatkan bahwa Allah akan mengadakan
suatu perjanjian yang baru dengan kaum Israel dan Yehuda, yaitu umat Allah. Perjanjian
ini tidak dibuat dalam loh batu, melainkan yang dituliskan di hati mereka.
Artinya, perjanjian Allah yang lama akan diperbarui dengan sebuah perjanjian
yang baru. Mengapa Allah
ingin mengadakan perjanjian yang baru dengan umat-Nya? Pada masa Perjanjian
Lama kita menemukan banyak sekali kasus pelanggaran perjanjian oleh umat
Israel. Berulang kali bangsa itu menolak dan berpaling dari Allah. Akibatnya
mereka juga berulang kali mengalami penghukuman. (Ul. 9:18; 31:29; Hak. 6:1;
10:6, dan lain-lain.). Apa sebabnya?
Tampaknya umat Israel hanya mengetahui hukum Allah apabila mereka membacanya
atau mendengar hukum itu dibacakan atau disampaikan kepada mereka. Marilah kita
kembali mengingat akan panggilan Tuhan Allah kepada Abram – yang belakangan
berganti nama menjadi Abraham (Kej. 12:1-3). Abram dipanggil Tuhan untuk
meninggalkan seluruh sanak keluarganya, bahkan juga kota kelahirannya, untuk
hidup di sebuah negeri yang baru di kemudian hari dinyatakan kepadanya oleh
Tuhan. Dari keturunannyalah kemudian terbentuk bangsa Israel, umat Allah, yang
diharapkan untuk menjadi saluran berkat-Nya kepada seluruh dunia. Orang-orang
Kristen perdana memahami dirinya sebagai umat Israel yang baru. Sama seperti
Abraham yang dipanggil keluar untuk diutus menjadi berkat bagi dunia, begitu
pula kita orang Kristen dipanggil keluar untuk kemudian menyatakan kasih Allah
yang telah Ia wujudkan melalui Yesus Kristus. Kasih itulah yang harus kita
sampaikan dengan perkataan dan perbuatan kita. Namun demikian, seperti yang
kita lihat di dalam Perjanjian Baru, hukum Taurat seringkali malah dijadikan
sebagai senjata untuk menghakimi orang lain. Pada masa Perjanjian Baru, ketika
Tuhan Yesus melayani orang banyak, banyak ahli Taurat yang mengecamnya karena
Tuhan Yesus dianggap melanggar aturan-aturan Taurat dengan menyembuhkan orang
pada hari Sabat (mis. Mrk. 3:1-6, bdk. Mat. 12:1-8; dan lainlain.). Taurat yang
seharusnya digunakan untuk menjadi penuntun menuju kehidupan yang lebih baik,
malah lebih sering menghadirkan masalah dalam kehidupan bersama karena
digunakan secara keliru. Karena itulah, melalui Nabi Yeremia, Tuhan Allah
mengatakan bahwa Ia akan menaruhkan Taurat-Nya di batin mereka dan menuliskan
hukum-Nya di hati mereka. Dengan demikian, umat Allah akan selalu mengingat
hukum-hukum-Nya. Dengan menaruh hukum Taurat di dalam hati, umat Allah pun akan
memberlakukan hukum itu dengan hati, bukan sekadar mengikuti aturan-aturan
hukum dengan membabi buta (bdk. 2 Kor. 3:6). Allah membentuk gereja sebagai
umat Allah yang baru. Umat Allah yang hidup dengan hukum yang baru, yaitu hukum
kasih. Karena itu pula, gereja seringkali disebut sebagai ”Israel yang baru”. Pergumulan Gereja1. Gereja yang
terbuka Bagaimanakah sifat
gereja perdana? Salah satu sifatnya sudah kita baca dalam bacaan Kisah Para
Rasul pasal 2. Di
situ digambarkan bahwa gereja perdana adalah gereja yang terbuka. Gereja ini
terdiri dari orang-orang dari berbagai daerah di seluruh dunia. Ini berarti,
walaupun pada mulanya murid-murid Yesus hanya terdiri dari orang-orang Yahudi,
bahkan hanya dari satu daerah saja yaitu Galilea, gereja perdana sudah terdiri
dari orang-orang yang berasal dari latar belakang bahasa dan budaya yang
berbeda-beda. Memang mulanya kebanyakan anggota gereja perdana adalah
orang-orang Yahudi atau orang-orang Yahudi Helenis. Kemudian masuk mereka yang
disebut sebagai ”orang-orang yang takut akan Allah”, yaitu orangorang
non-Yahudi yang tertarik dengan ajaran agama Yahudi, namun merasa belum
sepenuhnya dapat menjalankan seluruh tuntutan hukum Taurat. Karena mereka
belum dapat menerima dan menjalankan Taurat sepenuhnya, maka orang-orang ini
biasanya hanya mengikuti peribadahan Yahudi dari kejauhan. Mereka,
misalnya, tidak diizinkan masuk ke dalam Bait Allah untuk beribadah. Selain itu, gereja
perdana juga terbuka bagi kepemimpinan perempuan. Banyak tokoh perempuan
yang berkiprah di gereja perdana, seperti Lidia (Kis. 16:14, 40), Priskila
(Kis. 18:2, 18), Yunia (Rm. 16:7). Ini adalah sebuah gerakan yang revolusioner
bagi masa itu, sebab kaum perempuan tidak dianggap penting pada masa itu. Gereja
juga menerima orang yang cacat, yang tidak sempurna, untuk menjadi anggotanya.
Ini berlawanan dengan pemahaman orang Yahudi yang menolak orang cacat datang ke
Bait Allah (Im. 21:17-18, dst.). gereja perdana juga terbuka kepada orang
dari berbagai-bagai kelompok suku dan etnis. Banyak gereja di Indonesia
yang terbentuk di dalam kelompokkelompok suku tertentu. Akibatnya, dapat
tercipta eksklusivisme kesukuan di gerejagereja tersebut. Kelompok suku
tertentu menganggap gerejanya lebih baik dan lebih hebat daripada kelompok suku
yang lain. Adakah gereja seperti itu di Indonesia? Semoga tidak ada! Kalau hal
ini terjadi, tentu Tuhan Yesus akan merasa sangat berduka, sebab Ia sendiri,
kata Efesus 2:14, adalah ”damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua
pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan…” Hal ini
tentu sangat berbeda dengan gereja perdana yang kita lihat terbentuk di
Yerusalem. Artinya, gereja yang eksklusif seperti itu tentu berbeda dengan
gereja yang dicita-citakan Tuhan Yesus sebagai sebuah komunitas yang terbuka. 2. Pemahaman
tentang Ajaran yang Benar Mungkin
ada gereja-gereja atau kelompokkelompok orang Kristen tertentu yang menganggap
dirinya yang paling benar dan paling suci. Di daerah
Pegunungan Appalachia di Amerika Serikat, ada sekelompok orang Kristen yang
percaya bahwa mereka mengikuti ajaran yang benar. Hal ini dapat dibuktikan
dengan cara menguji iman mereka dengan memegang ular-ular yang sangat berdapat.
3. Gereja yang
Gagal Menjadi Teladan Banyak orang
Kristen dan gereja yang menjadi batu sandungan bagi orang lain. Mahatma Gandhi,
misalnya, pernah ditolak ketika ia ingin ikut beribadah di sebuah gereja di
Afrika Selatan. Saat itu Afrika Selatan memberlakukan politik apartheid, yang
memisah-misahkan masyarakat menurut kelompok-kelompok ras dan warna kulit
mereka. Gandhi sangat kecewa. Orang-orang
Kristen perdana tidak menganggap milik mereka hanya untuk mereka sendiri.
Mereka saling membagikan apa yang mereka miliki, sehingga tidak ada seorang pun
yang kekurangan. Cara hidup ini sungguh menarik, sebab sangat berbeda dengan
hidup sebagian orang yang materialistis, yang sangat mementingkan harta dan
kekayaan. Bagi
orang Kristen perdana, gaya hidup itu didasarkan pada kecukupan dari apa yang
mereka butuhkan, bukan yang mereka inginkan. Kebutuhan dan keinginan tidak
sama. Kita dapat mengingini banyak hal, namun mungkin sekali banyak di
antaranya sebetulnya tidak kita butuhkan. Ada sebuah ungkapan dalam bahasa
Inggris yang berbunyi, Live simply, so others can simply live! Artinya,
”Hiduplah sederhana, agar orang lain dapat sekadar hidup!” Bila kita hidup
berlebih-lebihan, makan minum secara berlebihan melampaui batas kebutuhan kita,
maka akan ada banyak orang yang hidup kekurangan. Tuhan mengajarkan kita hidup
dengan secukupnya, seperti yang dijalani oleh orang-orang Kristen dari gereja
perdana dengan cara berbagi dengan sesamanya.
| |
Rabu, 21 Juli 2021
PABP Kelas IX -BAB 1- Gereja Sebagai Umat Allah yang Baru
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
SENI TARI KELAS 9
Tari Kreasi kelas 9
-
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) Kompetensi Dasar 3.1. M engampuni dan menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus . Anak-anak,...
-
MODUL PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN BUDI PEKERTI KELAS VII SEMESTER 1 Mata Pelajaran ...
Terimakasih miss
BalasHapusSaya sudah Miss
BalasHapusSaya sudah miss
BalasHapus-dilla