Rabu, 21 Juli 2021

PABP Kelas IX -BAB 1- Gereja Sebagai Umat Allah yang Baru

MODUL 1

MAPEL

PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN BP

KELAS/SEMESTER

IX/GANJIL

TEMA

Gereja Sebagai Umat Allah yang Baru

PENGANTAR

Anak-anak selamat pagi, mari pagi ini kita awali dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Sebelum pembelajaran kita mulai kita awali dulu dengan Doa. Kemudian kita akan memuji nama Tuhan  KJ 257:1

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:

1. Membedakan gereja yang hanyalah gedung dengan gereja yang merupakan orangnya.

2. Menjelaskan mengapa gereja memiliki ciri-ciri yang khas sebagai kritik terhadap umat Yahudi pada masa Yesus serta menyebutkan ciri-ciri tersebut.

3. Menjelaskan beberapa aspek pergumulan gereja di masa lampau dan masa kini.

4.  Menyebutkan beberapa contoh kegagalan gereja untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, serta menyusun rencana tentang bagaimana mengubah kegagalan tersebut, bila hal itu mereka temukan di gereja mereka.

KD    

3.1 Memahami karya Allah dalam pertumbuhan gereja sebagai umat-Nya di dunia yang bergumul untuk menjadi saksi-Nya yang setia  
4.1 Menelaah karya Allah dalam pertumbuhan gereja sebagai umat-Nya di dunia yang bergumul untuk menjadi saksi-Nya yang setia.

MATERI

Gereja: Gedungnya atau Orang?

 Empat puluh hari setelah Yesus naik ke surga, murid-murid-Nya berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem. Tiba-tiba angin kencang bertiup di ruangan yang terkunci itu. Lalu lidah api yang berkobar-kobar turun di atas kepala murid-murid. Sebuah kejadian aneh dialami oleh para murid. Mendadak mereka berkata-kata dalam bahasabahasa asing. Yerusalem saat itu penuh sesak dengan orangorang dari berbagai negeri. Orang banyak datang ke kota itu untuk merayakan hari Pentakosta atau perayaan syukur untuk panen mereka di Bait Suci di kota itu. Murid-murid keluar dari tempat mereka berkumpul. Dan tiba-tiba semua orang yang mendengar mereka dan yang berasal dari berbagai tempat di dunia dapat memahami kata-kata mereka. Apa yang disaksikan oleh orang banyak itu tidak lain adalah bukti bahwa Yesus yang disalibkan dan yang telah bangkit dan naik ke surga itu, sungguh-sungguh berkuasa. “Jadi apa yang harus kami lakukan?” tanya orang banyak itu.Para murid yang tadinya sangat ketakutan dan selalu bersembunyi, kini berubah menjadi orang-orang yang sangat berani dan penuh rasa percaya diri. Mereka dengan tegas memberikan kesaksian tentang pengalaman mereka bersama Kristus yang telah bangkit itu. Melalui kesaksian mereka yang sangat meyakinkan itu sehingga orang banyak tergerak dan bertanya lebih jauh, “Jadi apa yang harus kami lakukan?” Petrus menjawab, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (ay. 38). Hari itu juga banyak orang yang meminta agar mereka dibaptiskan. Jumlah mereka sekitar tiga ribu orang. Itulah gereja perdana.

Apa yang menarik dari bagian kisah ini? Ternyata gereja tidak pertama-tama dibentuk oleh gedungnya. Bahkan orangorang Kristen perdana justru berkumpul setiap hari di Bait Allah (Kis 2:46), bukan karena mereka tidak punya tempat ibadah, melainkan karena mereka memandang diri mereka sebagai bagian dari umat Yahudi. Di sini kita dapat melihat bahwa gereja, seperti yang dikatakan dalam kata-kata nyanyian pembukaan kita, terutama sekali adalah orangnya.

Dapatkah gedung-gedung gereja itu disebut sebagai “gereja”? Sudah tentu tidak! Gereja tanpa orangnya bukanlah gereja.

Makna Gereja

Kata “gereja” dalam bahasa Indonesia berasal dari sebuah kata dalam bahasa Portugis yaitu igreja (baca: igreza). Kata igreja dalam bahasa Portugis ini dekat sekali dengan kata iglesia dalam bahasa Spanyol yang mempunyai arti yang sama, yaitu “gereja”. Kata iglesia ini dapat ditelusuri kembali ke kata aslinya dalam bahasa Yunani yaitu ekklesia. Kata ekklesia berasal dari dua kata, yaitu ek dan klesia. Kata ek berarti “keluar”, sementara kata klesia berasal dari kata kerja kaleo yang berarti “memanggil”. Dengan demikian, kata ekklesia mengandung arti “dipanggil keluar”. Artinya, anggotaanggota gereja adalah orang-orang yang dipanggil untuk keluar dari lingkungannya, dari sanak keluarganya, dari kaum kerabatnya, untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas baru yang bernama gereja. Orang-orang ini termasuk kita semua dipanggil keluar untuk menjalankan tugas kita untuk memberitakan kasih Allah yang dinyatakan melalui Yesus Kristus. Kasih itu harus disampaikan dengan perkataan dan perbuatan kita.

Umat Allah yang Baru

Bagaimana kaitan antara agama Yahudi dengan agama Kristen? Apakah keduanya berbeda ataukah sama? Dalam Yeremia 31:31-33. Nabi Yeremia menubuatkan bahwa Allah akan mengadakan suatu perjanjian yang baru dengan kaum Israel dan Yehuda, yaitu umat Allah. Perjanjian ini tidak dibuat dalam loh batu, melainkan yang dituliskan di hati mereka. Artinya, perjanjian Allah yang lama akan diperbarui dengan sebuah perjanjian yang baru.

Mengapa Allah ingin mengadakan perjanjian yang baru dengan umat-Nya? Pada masa Perjanjian Lama kita menemukan banyak sekali kasus pelanggaran perjanjian oleh umat Israel. Berulang kali bangsa itu menolak dan berpaling dari Allah. Akibatnya mereka juga berulang kali mengalami penghukuman. (Ul. 9:18; 31:29; Hak. 6:1; 10:6, dan lain-lain.).

Apa sebabnya? Tampaknya umat Israel hanya mengetahui hukum Allah apabila mereka membacanya atau mendengar hukum itu dibacakan atau disampaikan kepada mereka. Marilah kita kembali mengingat akan panggilan Tuhan Allah kepada Abram – yang belakangan berganti nama menjadi Abraham (Kej. 12:1-3). Abram dipanggil Tuhan untuk meninggalkan seluruh sanak keluarganya, bahkan juga kota kelahirannya, untuk hidup di sebuah negeri yang baru di kemudian hari dinyatakan kepadanya oleh Tuhan. Dari keturunannyalah kemudian terbentuk bangsa Israel, umat Allah, yang diharapkan untuk menjadi saluran berkat-Nya kepada seluruh dunia. Orang-orang Kristen perdana memahami dirinya sebagai umat Israel yang baru. Sama seperti Abraham yang dipanggil keluar untuk diutus menjadi berkat bagi dunia, begitu pula kita orang Kristen dipanggil keluar untuk kemudian menyatakan kasih Allah yang telah Ia wujudkan melalui Yesus Kristus. Kasih itulah yang harus kita sampaikan dengan perkataan dan perbuatan kita. Namun demikian, seperti yang kita lihat di dalam Perjanjian Baru, hukum Taurat seringkali malah dijadikan sebagai senjata untuk menghakimi orang lain. Pada masa Perjanjian Baru, ketika Tuhan Yesus melayani orang banyak, banyak ahli Taurat yang mengecamnya karena Tuhan Yesus dianggap melanggar aturan-aturan Taurat dengan menyembuhkan orang pada hari Sabat (mis. Mrk. 3:1-6, bdk. Mat. 12:1-8; dan lainlain.). Taurat yang seharusnya digunakan untuk menjadi penuntun menuju kehidupan yang lebih baik, malah lebih sering menghadirkan masalah dalam kehidupan bersama karena digunakan secara keliru. Karena itulah, melalui Nabi Yeremia, Tuhan Allah mengatakan bahwa Ia akan menaruhkan Taurat-Nya di batin mereka dan menuliskan hukum-Nya di hati mereka. Dengan demikian, umat Allah akan selalu mengingat hukum-hukum-Nya. Dengan menaruh hukum Taurat di dalam hati, umat Allah pun akan memberlakukan hukum itu dengan hati, bukan sekadar mengikuti aturan-aturan hukum dengan membabi buta (bdk. 2 Kor. 3:6). Allah membentuk gereja sebagai umat Allah yang baru. Umat Allah yang hidup dengan hukum yang baru, yaitu hukum kasih. Karena itu pula, gereja seringkali disebut sebagai ”Israel yang baru”.

Pergumulan Gereja

1. Gereja yang terbuka

Bagaimanakah sifat gereja perdana? Salah satu sifatnya sudah kita baca dalam bacaan Kisah Para Rasul pasal 2. Di situ digambarkan bahwa gereja perdana adalah gereja yang terbuka. Gereja ini terdiri dari orang-orang dari berbagai daerah di seluruh dunia. Ini berarti, walaupun pada mulanya murid-murid Yesus hanya terdiri dari orang-orang Yahudi, bahkan hanya dari satu daerah saja yaitu Galilea, gereja perdana sudah terdiri dari orang-orang yang berasal dari latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Memang mulanya kebanyakan anggota gereja perdana adalah orang-orang Yahudi atau orang-orang Yahudi Helenis. Kemudian masuk mereka yang disebut sebagai ”orang-orang yang takut akan Allah”, yaitu orangorang non-Yahudi yang tertarik dengan ajaran agama Yahudi, namun merasa belum sepenuhnya dapat menjalankan seluruh tuntutan hukum Taurat. Karena mereka belum dapat menerima dan menjalankan Taurat sepenuhnya, maka orang-orang ini biasanya hanya mengikuti peribadahan Yahudi dari kejauhan. Mereka, misalnya, tidak diizinkan masuk ke dalam Bait Allah untuk beribadah.

Selain itu, gereja perdana juga terbuka bagi kepemimpinan perempuan. Banyak tokoh perempuan yang berkiprah di gereja perdana, seperti Lidia (Kis. 16:14, 40), Priskila (Kis. 18:2, 18), Yunia (Rm. 16:7). Ini adalah sebuah gerakan yang revolusioner bagi masa itu, sebab kaum perempuan tidak dianggap penting pada masa itu.

Gereja juga menerima orang yang cacat, yang tidak sempurna, untuk menjadi anggotanya. Ini berlawanan dengan pemahaman orang Yahudi yang menolak orang cacat datang ke Bait Allah (Im. 21:17-18, dst.). gereja perdana juga terbuka kepada orang dari berbagai-bagai kelompok suku dan etnis. Banyak gereja di Indonesia yang terbentuk di dalam kelompokkelompok suku tertentu. Akibatnya, dapat tercipta eksklusivisme kesukuan di gerejagereja tersebut. Kelompok suku tertentu menganggap gerejanya lebih baik dan lebih hebat daripada kelompok suku yang lain. Adakah gereja seperti itu di Indonesia? Semoga tidak ada! Kalau hal ini terjadi, tentu Tuhan Yesus akan merasa sangat berduka, sebab Ia sendiri, kata Efesus 2:14, adalah ”damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan…” Hal ini tentu sangat berbeda dengan gereja perdana yang kita lihat terbentuk di Yerusalem. Artinya, gereja yang eksklusif seperti itu tentu berbeda dengan gereja yang dicita-citakan Tuhan Yesus sebagai sebuah komunitas yang terbuka.

2. Pemahaman tentang Ajaran yang Benar

Mungkin ada gereja-gereja atau kelompokkelompok orang Kristen tertentu yang menganggap dirinya yang paling benar dan paling suci.

Di daerah Pegunungan Appalachia di Amerika Serikat, ada sekelompok orang Kristen yang percaya bahwa mereka mengikuti ajaran yang benar. Hal ini dapat dibuktikan dengan cara menguji iman mereka dengan memegang ular-ular yang sangat berdapat.

3. Gereja yang Gagal Menjadi Teladan

Banyak orang Kristen dan gereja yang menjadi batu sandungan bagi orang lain. Mahatma Gandhi, misalnya, pernah ditolak ketika ia ingin ikut beribadah di sebuah gereja di Afrika Selatan. Saat itu Afrika Selatan memberlakukan politik apartheid, yang memisah-misahkan masyarakat menurut kelompok-kelompok ras dan warna kulit mereka. Gandhi sangat kecewa.

Orang-orang Kristen perdana tidak menganggap milik mereka hanya untuk mereka sendiri. Mereka saling membagikan apa yang mereka miliki, sehingga tidak ada seorang pun yang kekurangan. Cara hidup ini sungguh menarik, sebab sangat berbeda dengan hidup sebagian orang yang materialistis, yang sangat mementingkan harta dan kekayaan. Bagi orang Kristen perdana, gaya hidup itu didasarkan pada kecukupan dari apa yang mereka butuhkan, bukan yang mereka inginkan. Kebutuhan dan keinginan tidak sama. Kita dapat mengingini banyak hal, namun mungkin sekali banyak di antaranya sebetulnya tidak kita butuhkan. Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris yang berbunyi, Live simply, so others can simply live! Artinya, ”Hiduplah sederhana, agar orang lain dapat sekadar hidup!” Bila kita hidup berlebih-lebihan, makan minum secara berlebihan melampaui batas kebutuhan kita, maka akan ada banyak orang yang hidup kekurangan. Tuhan mengajarkan kita hidup dengan secukupnya, seperti yang dijalani oleh orang-orang Kristen dari gereja perdana dengan cara berbagi dengan sesamanya.

 

 


3 komentar:

SENI TARI KELAS 9

Tari Kreasi kelas 9