Senin, 19 April 2021

Batas-batas dalam Berpacaran Bahan Alkitab: Yeremia 29:11; Amsal 23:18; 1 Korintus 3:16

 Batas-batas dalam Berpacaran Bahan Alkitab: Yeremia 29:11; Amsal 23:18; 1 Korintus 3:16

Guru pengampu: Vita Ria Pratiwi, S.Pd

KD. 3.4 Menganalisis makna kebersamaan dengan orang lain tanpa kehilangan identitas
        4.4 Membuat proyek mengenai kebersamaan dengan orang lain tanpa kehilangan identitas

Indikator: 
• Melakukan observasi mengenai berpacaran dan batas-batas dalam berpacaran di kalangan remaja.
 • Menjelaskan tujuan orang berpacaran. 
• Mengeksplorasi bagian Alkitab yang dijadikan acuan mengenai batas-batas dalam berpacaran dibandingkan dengan gaya berpacaran remaja masa kini. 
• Mendeskripsikan akibat positif dan negatif dari hubungan pacaran di kalangan remaja. 
• Mendiskusikan beberapa penyimpangan yang terjadi dalam hubungan pacaran.

Menyanyi

“Tak ‘Ku Tahu ‘Kan Hari Esok” 

Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap 
Bukan surya kuharapkan, kar’na surya ‘kan lenyap. 
O tiada ‘ku gelisah, akan masa menjelang; 
‘ku berjalan serta Yesus. Maka hatiku tenang. 

Refrein:

 Banyak hal tak kufahami dalam masa menjelang.
 Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang. 

Makin t’ranglah perjalanan, makin tinggi aku naik. 
Dan bebanku makin ringan, makin nampaklah yang baik.
 Di sanalah t’rang abadi, tiada tangis dan keluh; 
Di neg’ri seb’rang pelangi, kita k’lak ‘kan bertemu. 

Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, mungkin langit ‘kan gelap. 
Tapi Dia yang berkasihan, melindungi ‘ku tetap. 
Meski susah perjalanan, g’lombang dunia menderu,
 dipimpinNya ‘ku bertahan sampai akhir langkahku.

 Syair dan lagu: I Know Who Holds Tomorrow, Ira F. Stanphill (1914 – 1993), Terjemahan: K. P. Nugroho (1928 – 1994),

Materi




Memang Alkitab tidak bicara secara spesifik mengenai pacaran dan batas-batas dalam berpacaran, namun ada bagian-bagian Alkitab yang menulis mengenai bagaimana orang percaya harus menjaga kekudusan hidup, terutama dalam kaitannya dengan seksualitas dan erotisme.

Batas-batas dalam berpacaran adalah tindakan remaja yang tidak melanggar norma dalam keluarga dan masyarakat serta ajaran iman Kristen, yaitu ajaran iman mengenai kesucian hidup, bagaimana menjaga tubuh sebagai bait Roh Kudus. Pada masa kini, kontrol masyarakat semakin longgar disebabkan antara lain karena individualistik yang makin merebak menyebabkan remaja agak leluasa dalam mengekspresikan kedekatan hubungan dengan seseorang yang dipacarinya. 

1. Apa Tujuan Pacaran? 

Asmara itu mempunyai dua pengertian yaitu: 
• Cinta kasih
 • Cinta berahi 
Pada dasarnya asmara itu bukan cinta, karena asmara itu naksir/keinginan yang berpusat pada diri sendiri. Cinta kasih atau kasih itu menurut Alkitab bisa kita baca dalam 1 Korintus 13:4-7. 
Cinta yang benar tidak dapat dijadikan topeng untuk satu maksud dan motivasi tertentu, cinta yang benar tidak mementingkan diri sendiri, melainkan mengutamakan orang lain. 
Jadi asmara itu tidak sama dengan cinta. Asmara itu hanya berpusat pada diri sendiri dan biasanya diiringi dengan nafsu seks yang cenderung mendorong orang melakukan penyimpangan. 

diri sendiri dan orang lain sebagai makhluk mulia ciptaan Allah dan menjaga tubuh sebagai bait atau rumah bagi Roh Kudus.
Tubuh sebagai rumah bagi Roh Kudus berarti harus dirawat dan dijaga supaya tetap suci. 

2. Alasan Mengapa Hubungan Seks di Masa Remaja 

Tidak Boleh Dilakukan: 
1. Bertentangan dengan prinsip iman Kristen. 

Dari segi iman Kristen, Alkitab tidak berbicara secara khusus tentang berpacaran, tetapi Alkitab bicara tentang etika dan moral kehidupan termasuk bagaimana manusia harus menguduskan tubuhnya. Hubungan seks hanya dilegalkan dalam perkawinan ketika dua orang mengikat janji di hadapan Allah. Pacaran tidak boleh dijadikan sarana uji coba untuk menyentuh tubuh pacar ataupun melakukan hubungan seks. Larangan ini berlaku untuk semua orang Kristen dalam segala usia. 

2. Alasan kesehatan, yaitu dapat tertular berbagai macam penyakit yang menyerang alat kelamin dan tubuh manusia.

 Hubungan seks yang dilakukan di luar lembaga perkawinan berisiko menularkan berbagai penyakit kelamin dan penyakit serius lainnya, seperti hepatitis, dan HIV dan AIDS. Mengapa demikian? Karena tidak ada jaminan bahwa seseorang hanya melakukan hubungan dengan satu orang saja. Dalam perkawinan, peluang penyimpangan tidak terlalu besar mengingat orang terikat pada janji perkawinan. Meskipun pada masa kini banyak orang melakukan penyimpangan dalam perkawinan tetapi lembaga perkawinan tetap menjadi wadah yang aman untuk mencegah tertularnya berbagai penyakit kelamin dan lain-lain. 

3. Jika terjadi kehamilan, akan beresiko besar terhadap kesehatan ibu remaja dan bayi. 

Dari segi kesehatan, rahim remaja belum siap untuk pembuahan dan pertumbuhan bayi, akibatnya risiko kematian bayi dan ibunya serta kecacatan bayi sangat besar.
 
4. Remaja belum siap untuk memikul tanggung jawab berumah tangga.

 Kebanyakan remaja belum dapat menghidupi dirinya sendiri. Dari segi psikologis juga belum siap untuk memikul tanggung jawab sebagai ibu dan ayah. Ada seorang mahasiswa bernama Nur Hamida Yuni yang mengadakan penelitian di kalangan remaja tentang apa arti pacaran serta apa yang dilakukan dalam berpacaran. Ia menulis demikian: Tujuan pacaran di kalangan remaja adalah mendapatkan teman untuk menceritakan masalah pribadi, sebagai hiburan, sebagai tempat untuk berbagi, memahami karakter pacar sebelum memutuskan untuk serius, meningkatkan motivasi belajar, dan membuktikan diri cukup menarik. Alasan pemilihan pacar adalah sifat-sifat yang dimiliki pacar, persamaan sifat, kepandaian, daya tarik fisik, kekayaan, banyak teman yang tertarik pada pacar, dan latar belakang keluarga. Dari definisi pacaran dan alasan memilih pacar, terlihat bahwa aspek asmara atau berahi masih memegang peranan penting bagi remaja dalam memilih pacar dan berpacaran. Kenyataan ini cukup merisaukan, ketertarikan fisik dan berahi cenderung melahirkan penyimpangan dalam gaya berpacaran di kalangan remaja.

C. Batas-Batas Pacaran menurut Standar Moral Alkitab

Apakah dalam berpacaran dibenarkan perpegangan tangan, berciuman, bermesraan, dsb?

 Roma 12:12 menekankan, jangan kita menjadi serupa dengan dunia atau dengan kata lain jangan berpacaran ala orang dunia. 
Berpacaran cara duniawi berbeda dengan berpacaran yang mengacu pada isi Alkitab atau berpacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Perbedaannya yaitu: 
1. Pacaran yang bertujuan mencari pengalaman semata-mata dan kenikmatan dalam hubungan cinta dengan pertimbangan: mungkin besok sudah mencari pacar baru lagi. 
2. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat hubungan pacaran sebagai kemungkinan titik tolak yang menuju sesuatu yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan. 
3. Pacaran yang baik adalah yang saling mengisi dan memberikan kebaikan serta berbagi melakukan hal-hal baik dan benar serta berguna bagi hidup keduanya. 

    Pacaran yang memanfaatkan tubuh pasangannya untuk memuaskan perasaan seksual, mula-mula pada tingkat ciuman dan pelukan, namun kemudian gampang menjurus kepada tingkat hubungan seksual. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat tubuh pasangannya sebagai rumah kediaman Roh Kudus (1 Kor. 3:16) yang dikagumi dan dihargai sebagai ciptaan Allah. Ciuman dan pelukan antara seorang pemuda dan pemudi merupakan kontak fisik yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan kenikmatan. 

Ada empat tingkat intensitas hubungan fisik, dimulai dari yang paling lemah sampai yang paling kuat. Keempat tingkat tersebut ialah:
 • Berpegangan tangan
 • Saling memeluk
 • Berciuman
 • Saling membelai dan dapat meningkat menjadi tindakan tak terpuji, misalnya terjadi hubungan seks.

    Rangsangan seksual yang terus-menerus akan menciptakan dorongan biologis yang terus memuncak. Ketika dorongan seks menggebu-gebu, kedewasaan, kecerdasan, dan pendirian-pendirian serta iman seringkali tidak berfungsi, atau tersingkir untuk sementara. Banyak pasangan muda berkata bahwa ciuman itu normal. Karena ciuman itu adalah kenikmatan pada masa pacaran dan dianggap akan lebih mengikat tali kasih antara dua belah pihak. Itu adalah pendapat yang sangat keliru karena Alkitab memberikan penjelasan bahwa dampak dari hubungan itu akan membuat seorang merasa bersalah bahkan bisa mengubah sayang menjadi benci. 
    Contoh 2 Samuel 13:1-15. Cerita ini mengisahkan anak-anak Daud, Amnon dan Tamar. Amnon begitu mencintai Tamar, sampai-sampai ia jatuh sakit karena keinginannya untuk memiliki Tamar. Tetapi pada ayat 15 diceritakan setelah mereka jatuh pada dosa seks, timbullah suatu kebencian dalam diri Amnon terhadap Tamar. Ini berarti bercumbuan bukan merupakan jaminan akan cinta sejati. Ketika seks yang merupakan anugerah Tuhan seharusnya menjadi misteri bagi laki-laki dan perempuan dan akan disingkapkan pada waktu perkawinan. Namun hal itu telah dilakukan sebelum waktunya (di luar ikatan perkawinan) maka misteri itu hilang diganti dengan kebencian.

    Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus menulis supaya anak Tuhan jangan mudah jatuh ke dalam dosa: 17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia 18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. 19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.

Model pacaran yang bertujuan memenuhi keinginan birahi dan percumbuan lebih bersifat memenuhi nafsu seks semata-mata. Membiarkan hawa nafsu berperan, pada akhirnya akan membawa kepada kecemaran dan pelanggaran kehendak Allah. Lebih jauh lagi pengajaran-pengajaran moral Paulus kepada anak muda Kristen dapat dibaca dalam 1 Timotius 5:22 bagian akhir: “jagalah kemurnian dirimu”, artinya tiap orang percaya diberi tanggung jawab untuk menjaga diri dari berbagai tindakan dosa. Relasi antara dua orang manusia yang berbeda jenis kelamin haruslah dibangun di atas kasih dan penghargaan terhadap masing-masing orang. Dengan demikian, dalam hubungan pacaran, orang Kristen wajib menjaga kekudusan hidup. Manusia adalah makhluk mulia ciptaan Allah yang memiliki harkat dan martabat. Ketika dalam masa pacaran orang melakukan sentuhan fisik dan menikmati erotisme atau sensasi sentuhan, maka mereka telah menyerahkan diri kepada kenikmatan bukan kepada kasih, sayang, menghargai dan menghormati pasangannya. Seseorang yang benar-benar mencintai, akan menghargai serta menghormati pasangannya dan tidak akan merusak hidupnya. Jadi, jika dalam masa pacaran, seseorang membiarkan dirinya disentuh dan dinikmati sebagai objek kenikmatan, maka ia tidak menghargai dirinya sendiri. 

D. Cara-Cara Menyatakan Suka kepada Seseorang 

Pada masa kini ada berbagai cara orang mengatakan suka pada seseorang. Cara-cara tersebut dipakai dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi dan tergantung pada watak seseorang.
Berikut cara-cara remaja menyatakan suka pada seseorang yang ingin dipacarinya:
1. Melalui tembak langsung, yaitu salah satu dari pasangan yang akan mulai beraksi menanyakan: aku suka sama kamu, apakah kamu juga suka sama aku? Jika diterima, maka secara resmi hubungan pacaran dimulai. 
2. Melalui media seperti mengirimkan SMS atau pesan-pesan singkat di telepon genggam. 
3. Melalui mak comblang, biasanya dilakukan oleh teman sekelas. Sang mak comblang akan menjodoh-jodohkan atau menyampaikan kabar dari kedua belah pihak. Jika keduanya ada rasa suka, maka mereka akan mulai berpacaran.

E. Ekspresi Rasa Suka dan Cinta yang Sesuai dengan Ajaran Iman Kristen 

    Pacaran bukanlah sarana uji coba apakah seseorang “laku” atau memiliki banyak penggemar, ataukah sarana untuk membuktikan bahwa seseorang bukanlah orang kuno ataupun kuper (kurang pergaulan). Pacaran adalah sarana bagi mereka yang terlibat di dalamnya untuk membangun relasi yang lebih dekat dimana mereka saling berbagi, mendengarkan, mengekspresikan cinta melalui sikap saling menghargai dan menghormati harkat dan martabat pasangannya.

 F. Beberapa Penyimpangan dalam Masa Pacaran dan Pergaulan Remaja Masa Kini

 Pacaran dapat memberikan hasil positif dan negatif bagi seseorang, terutama bagi seseorang yang labil dari segi kematangan emosional dan spiritual. Berikut ini beberapa penyimpangan yang dapat muncul dari hubungan pacaran. 

1. Seks Bebas 

Berbagai hasil penelitian yang telah dipublikasikan mengenai seks bebas di kalangan remaja sungguh mengejutkan, namun itu merupakan kenyataan yang ada. Salah satu alasan mereka terjebak dalam kehidupan seks bebas karena diajak teman dan pacar. Kenyataan ini cukup mengkhawatirkan karena jika frekuensi persoalan menjadi besar dapat mengarah menjadi masalah sosial. Kehidupan seks bebas dapat menjadi sarana dalam menularkan berbagai penyakit yang merusak kehidupan remaja. Ada orang yang berpikir bahwa pihak yang dirugikan dalam hal ini adalah perempuan. Padahal sebenarnya kedua belah pihak sama-sama dirugikan karena keduanya menyediakan diri sebagai obyek seks. Perbuatan itu juga melanggar norma agama dan masyarakat. 

2. Hamil di Luar Nikah 

Remaja yang tidak mampu mengontrol perilaku dalam berpacaran dapat menyebabkan kehamilan di luar pernikahan. Akibatnya, mereka akan kehilangan masa mudanya dan melakukan peran sebagai orang tua (suami dan isteri) padahal secara psikologis dan ekonomis remaja belum mampu berdiri sendiri. Kejadian ini juga mempengaruhi orangtua mereka karena orangtua dibebani tanggung jawab untuk menopang keluarga muda yang belum mampu membiayai diri sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya remaja tidak menjadikan masa pacaran sebagai uji coba untuk melakukan hubungan seks. Mengapa? Bukan hanya karena melanggar perintah Tuhan namun juga melanggar norma dalam masyarakat dan merugikan diri sendiri. Masa muda hanya terjadi satu kali saja selama hidup, karena itu masa muda adalah masa yang paling indah dan menyenangkan jika kita menjalaninya secara benar dan bertanggung jawab. 

3. Aborsi atau Pengguguran Kehamilan 

Hubungan seks yang terjadi di luar perkawinan biasanya meninggalkan rasa penyesalan yang dalam, terutama ketika terjadi kehamilan. Ada banyak kasus aborsi yang terjadi di kalangan remaja. Pada tahun 2012 ada surat kabar di ibu kota yang menulis tentang remaja SMA yang melakukan aborsi dan janinnya di buang di WC. Aborsi adalah tindakan yang dapat disamakan dengan pembunuhan, karena dalam tindakan itu janin yang belum waktunya lahir telah dikeluarkan secara paksa dari dalam kandungan dan kehidupannya diakhiri, karena itu disebut pembunuhan. Tindakan ini melanggar norma agama, masyarakat dan norma hukum dan dapat dikenakan hukuman pidana.Tindakan tersebut bukan hanya akan menuai hukuman menurut asas legalitas, namun si pelaku sendiri akan terus dihantui oleh rasa bersalah dan dosa yang dapat berujung pada perasaan trauma yang dalam. 

4. Narkoba, Obat Terlarang dan HIV dan AIDS 

    Umumnya remaja mengaku pada awalnya diajak oleh teman dan pacar untuk mencoba mengkonsumsi obat-obat terlarang. Pembahasan mengenai narkoba, obat terlarang dan HIV/AIDS rasanya kurang tepat jika disatukan dalam pembahasan mengenai batas-batas dalam berpacaran. Namun persoalan-persoalan ini ada kaitannya dengan pacaran, yaitu pengakuan para remaja bahwa mereka diajak oleh pacar dan teman ketika pertama kali terjebak dalam penyalahgunaan narkoba maupun obat terlarang. Karena itu, pembahasan ini disatukan dengan topik mengenai batas-batas dalam berpacaran sebagai suatu tindakan preventif supaya remaja kritis dalam bergaul dengan seseorang yang dekat dengannya. Narkoba dan obat terlarang lainnya merusak kesehatan tubuh dan jiwa manusia. Sistem syaraf dan otak dihancurkan oleh narkoba dan obat terlarang lainnya demikian pula kepribadian dan psikologis seseorang turut dihancurkan. Manusia yang menjadi pemakai maupun pecandu narkoba dan obat-obat terlarang lainnya akan kehilangan kesadaran sebagai manusia normal, secara perlahan mereka akan semakin jauh dari kehidupan dunia nyata. Pada titik tertentu mereka dapat melakukan berbagai tindakan kriminal dan melawan hukum demi memperoleh uang untuk membeli obat-obat terlarang. 
    Pakar kesehatan mengatakan, narkoba dan obat terlarang lainnya seperti racun yang mengalir dalam tubuh manusia dan menghancurkan kesadaran dan kesehatan seseorang. Pemakaian narkoba melalui suntikan akan menjadi sarana berjangkitnya HIV/AIDS di kalangan remaja. Dari berbagai hasil observasi, tampak bahwa penularan HIV/AIDS terjadi melalui jarum suntik yang dipakai untuk menyuntikkan narkoba pada nadi manusia. Melihat kaitannya yang erat antara narkoba dan HIV/AIDS dapat disimpulkan bahwa narkoba, obat terlarang dan HIV/AIDS menghancurkan masa kini dan menghilangkan masa depan seseorang.

TUGAS

lihat tugas kalian dengan klik di sini


sumber:
1. Alkitab 
2. buku elektronik: http://bsd.pendidikan.id/data/2013/kelas_10sma/guru/Kelas_10_SMA_Pendidikan_Agama_Kristen_dan_Budi_Pekerti_Guru_2017.pdf
3. https://www.google.com/search?q=batas%20pacaran&tbm=isch&safe=strict&tbs=rimg:CSKIumvOiuKcYdEZIZxX4RdS&hl=id&sa=X&ved=0CBsQuIIBahcKEwjg3rqw8ovwAhUAAAAAHQAAAAAQCQ&biw=1349&bih=635#imgrc=r86EhP7w3l0K5M&imgdii=eSMQ8riCz1gfCM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SENI TARI KELAS 9

Tari Kreasi kelas 9