Batas-batas dalam Berpacaran Bahan Alkitab: Yeremia 29:11; Amsal 23:18; 1 Korintus 3:16
Guru pengampu: Vita Ria Pratiwi, S.Pd
KD. 3.4 Menganalisis makna
kebersamaan dengan
orang lain tanpa kehilangan
identitas
4.4 Membuat proyek mengenai
kebersamaan dengan
orang lain tanpa kehilangan
identitas
Indikator:
• Melakukan observasi mengenai berpacaran dan batas-batas dalam berpacaran di kalangan remaja.• Menjelaskan tujuan orang berpacaran.• Mengeksplorasi bagian Alkitab yang dijadikan acuan mengenai batas-batas dalam berpacaran dibandingkan dengan gaya berpacaran remaja masa kini.• Mendeskripsikan akibat positif dan negatif dari hubungan pacaran di kalangan remaja.• Mendiskusikan beberapa penyimpangan yang terjadi dalam hubungan pacaran.
Menyanyi
“Tak ‘Ku Tahu ‘Kan Hari Esok”
Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap
Bukan surya kuharapkan, kar’na surya ‘kan lenyap.
O tiada ‘ku gelisah, akan masa menjelang;
‘ku berjalan serta Yesus. Maka hatiku tenang.
Refrein:
Banyak hal tak kufahami dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang.
Makin t’ranglah perjalanan, makin tinggi aku naik.
Dan bebanku makin ringan, makin nampaklah yang baik.
Di sanalah t’rang abadi, tiada tangis dan keluh;
Di neg’ri seb’rang pelangi, kita k’lak ‘kan bertemu.
Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, mungkin langit ‘kan gelap.
Tapi Dia yang berkasihan, melindungi ‘ku tetap.
Meski susah perjalanan, g’lombang dunia menderu,
dipimpinNya ‘ku bertahan sampai akhir langkahku.
Syair dan lagu: I Know Who Holds Tomorrow, Ira F. Stanphill (1914 – 1993),
Terjemahan: K. P. Nugroho (1928 – 1994),
Materi
Memang Alkitab tidak
bicara secara spesifik mengenai pacaran dan batas-batas dalam berpacaran,
namun ada bagian-bagian Alkitab yang menulis mengenai bagaimana orang
percaya harus menjaga kekudusan hidup, terutama dalam kaitannya dengan
seksualitas dan erotisme.
Batas-batas dalam berpacaran adalah tindakan
remaja yang tidak melanggar norma dalam keluarga dan masyarakat serta
ajaran iman Kristen, yaitu ajaran iman mengenai kesucian hidup, bagaimana
menjaga tubuh sebagai bait Roh Kudus. Pada masa kini, kontrol masyarakat
semakin longgar disebabkan antara lain karena individualistik yang makin
merebak menyebabkan remaja agak leluasa dalam mengekspresikan
kedekatan hubungan dengan seseorang yang dipacarinya.
1. Apa Tujuan Pacaran?
Asmara itu mempunyai dua pengertian yaitu:
• Cinta kasih
• Cinta berahi
Pada dasarnya asmara itu bukan cinta, karena asmara itu naksir/keinginan
yang berpusat pada diri sendiri. Cinta kasih atau kasih itu menurut Alkitab bisa
kita baca dalam 1 Korintus 13:4-7.
Cinta yang benar tidak dapat dijadikan topeng untuk satu maksud dan
motivasi tertentu, cinta yang benar tidak mementingkan diri sendiri, melainkan
mengutamakan orang lain.
Jadi asmara itu tidak sama dengan cinta. Asmara itu
hanya berpusat pada diri sendiri dan biasanya diiringi dengan nafsu seks yang
cenderung mendorong orang melakukan penyimpangan.
diri
sendiri dan orang lain sebagai makhluk mulia ciptaan Allah dan menjaga
tubuh sebagai bait atau rumah bagi Roh Kudus.
Tubuh sebagai rumah bagi
Roh Kudus berarti harus dirawat dan dijaga supaya tetap suci.
2. Alasan Mengapa Hubungan Seks di Masa Remaja
Tidak Boleh Dilakukan:
1. Bertentangan dengan prinsip iman Kristen.
Dari segi iman Kristen,
Alkitab tidak berbicara secara khusus tentang berpacaran, tetapi Alkitab
bicara tentang etika dan moral kehidupan termasuk bagaimana manusia
harus menguduskan tubuhnya. Hubungan seks hanya dilegalkan dalam
perkawinan ketika dua orang mengikat janji di hadapan Allah. Pacaran tidak
boleh dijadikan sarana uji coba untuk menyentuh tubuh pacar ataupun
melakukan hubungan seks. Larangan ini berlaku untuk semua orang Kristen
dalam segala usia.
2. Alasan kesehatan, yaitu dapat tertular berbagai macam penyakit yang
menyerang alat kelamin dan tubuh manusia.
Hubungan seks yang
dilakukan di luar lembaga perkawinan berisiko menularkan berbagai
penyakit kelamin dan penyakit serius lainnya, seperti hepatitis, dan HIV
dan AIDS. Mengapa demikian? Karena tidak ada jaminan bahwa seseorang
hanya melakukan hubungan dengan satu orang saja. Dalam perkawinan,
peluang penyimpangan tidak terlalu besar mengingat orang terikat pada
janji perkawinan. Meskipun pada masa kini banyak orang melakukan
penyimpangan dalam perkawinan tetapi lembaga perkawinan tetap
menjadi wadah yang aman untuk mencegah tertularnya berbagai penyakit
kelamin dan lain-lain.
3. Jika terjadi kehamilan, akan beresiko besar terhadap kesehatan ibu remaja
dan bayi.
Dari segi kesehatan, rahim remaja belum siap untuk pembuahan
dan pertumbuhan bayi, akibatnya risiko kematian bayi dan ibunya serta
kecacatan bayi sangat besar.
4. Remaja belum siap untuk memikul tanggung jawab berumah tangga.
Kebanyakan remaja belum dapat menghidupi dirinya sendiri. Dari segi
psikologis juga belum siap untuk memikul tanggung jawab sebagai ibu dan
ayah.
Ada seorang mahasiswa bernama Nur Hamida Yuni yang mengadakan
penelitian di kalangan remaja tentang apa arti pacaran serta apa yang dilakukan
dalam berpacaran. Ia menulis demikian:
Tujuan pacaran di kalangan remaja adalah mendapatkan teman untuk
menceritakan masalah pribadi, sebagai hiburan, sebagai tempat untuk berbagi,
memahami karakter pacar sebelum memutuskan untuk serius, meningkatkan motivasi belajar, dan membuktikan diri cukup menarik. Alasan pemilihan
pacar adalah sifat-sifat yang dimiliki pacar, persamaan sifat, kepandaian,
daya tarik fisik, kekayaan, banyak teman yang tertarik pada pacar, dan latar
belakang keluarga.
Dari definisi pacaran dan alasan memilih pacar, terlihat bahwa aspek asmara
atau berahi masih memegang peranan penting bagi remaja dalam memilih
pacar dan berpacaran. Kenyataan ini cukup merisaukan, ketertarikan fisik
dan berahi cenderung melahirkan penyimpangan dalam gaya berpacaran di
kalangan remaja.
C. Batas-Batas Pacaran menurut Standar Moral Alkitab
Apakah dalam berpacaran dibenarkan perpegangan tangan, berciuman,
bermesraan, dsb?
Roma 12:12 menekankan, jangan kita menjadi serupa dengan
dunia atau dengan kata lain jangan berpacaran ala orang dunia.
Berpacaran
cara duniawi berbeda dengan berpacaran yang mengacu pada isi Alkitab atau
berpacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Perbedaannya yaitu:
1. Pacaran yang bertujuan mencari pengalaman semata-mata dan
kenikmatan dalam hubungan cinta dengan pertimbangan: mungkin
besok sudah mencari pacar baru lagi.
2. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat hubungan
pacaran sebagai kemungkinan titik tolak yang menuju sesuatu yang baik
dan dapat dipertanggungjawabkan.
3. Pacaran yang baik adalah yang saling mengisi dan memberikan kebaikan
serta berbagi melakukan hal-hal baik dan benar serta berguna bagi hidup
keduanya.
Pacaran yang memanfaatkan tubuh pasangannya untuk memuaskan
perasaan seksual, mula-mula pada tingkat ciuman dan pelukan, namun
kemudian gampang menjurus kepada tingkat hubungan seksual. Pacaran
yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat tubuh pasangannya sebagai
rumah kediaman Roh Kudus (1 Kor. 3:16) yang dikagumi dan dihargai sebagai
ciptaan Allah.
Ciuman dan pelukan antara seorang pemuda dan pemudi merupakan
kontak fisik yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan kenikmatan.
Ada
empat tingkat intensitas hubungan fisik, dimulai dari yang paling lemah sampai
yang paling kuat. Keempat tingkat tersebut ialah:
• Berpegangan tangan
• Saling memeluk
• Berciuman
• Saling membelai dan dapat meningkat menjadi tindakan tak terpuji,
misalnya terjadi hubungan seks.
Rangsangan seksual yang terus-menerus akan menciptakan dorongan
biologis yang terus memuncak. Ketika dorongan seks menggebu-gebu,
kedewasaan, kecerdasan, dan pendirian-pendirian serta iman seringkali tidak
berfungsi, atau tersingkir untuk sementara. Banyak pasangan muda berkata
bahwa ciuman itu normal. Karena ciuman itu adalah kenikmatan pada masa
pacaran dan dianggap akan lebih mengikat tali kasih antara dua belah pihak.
Itu adalah pendapat yang sangat keliru karena Alkitab memberikan penjelasan
bahwa dampak dari hubungan itu akan membuat seorang merasa bersalah
bahkan bisa mengubah sayang menjadi benci.
Contoh 2 Samuel 13:1-15. Cerita ini mengisahkan anak-anak Daud, Amnon
dan Tamar. Amnon begitu mencintai Tamar, sampai-sampai ia jatuh sakit karena
keinginannya untuk memiliki Tamar. Tetapi pada ayat 15 diceritakan setelah
mereka jatuh pada dosa seks, timbullah suatu kebencian dalam diri Amnon
terhadap Tamar. Ini berarti bercumbuan bukan merupakan jaminan akan cinta
sejati. Ketika seks yang merupakan anugerah Tuhan seharusnya menjadi misteri
bagi laki-laki dan perempuan dan akan disingkapkan pada waktu perkawinan.
Namun hal itu telah dilakukan sebelum waktunya (di luar ikatan perkawinan)
maka misteri itu hilang diganti dengan kebencian.
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus menulis supaya anak Tuhan
jangan mudah jatuh ke dalam dosa:
17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan
hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan
pikirannya yang sia-sia 18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup
persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka
dan karena kedegilan hati mereka. 19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga
mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan
serakah segala macam kecemaran.
Model pacaran yang bertujuan memenuhi keinginan birahi dan
percumbuan lebih bersifat memenuhi nafsu seks semata-mata. Membiarkan
hawa nafsu berperan, pada akhirnya akan membawa kepada kecemaran dan
pelanggaran kehendak Allah. Lebih jauh lagi pengajaran-pengajaran moral
Paulus kepada anak muda Kristen dapat dibaca dalam 1 Timotius 5:22 bagian
akhir: “jagalah kemurnian dirimu”, artinya tiap orang percaya diberi tanggung
jawab untuk menjaga diri dari berbagai tindakan dosa. Relasi antara dua
orang manusia yang berbeda jenis kelamin haruslah dibangun di atas kasih
dan penghargaan terhadap masing-masing orang. Dengan demikian, dalam
hubungan pacaran, orang Kristen wajib menjaga kekudusan hidup.
Manusia adalah makhluk mulia ciptaan Allah yang memiliki harkat dan
martabat. Ketika dalam masa pacaran orang melakukan sentuhan fisik dan
menikmati erotisme atau sensasi sentuhan, maka mereka telah menyerahkan
diri kepada kenikmatan bukan kepada kasih, sayang, menghargai dan
menghormati pasangannya. Seseorang yang benar-benar mencintai, akan
menghargai serta menghormati pasangannya dan tidak akan merusak
hidupnya. Jadi, jika dalam masa pacaran, seseorang membiarkan dirinya
disentuh dan dinikmati sebagai objek kenikmatan, maka ia tidak menghargai
dirinya sendiri.
D. Cara-Cara Menyatakan Suka kepada Seseorang
Pada masa kini ada berbagai cara orang mengatakan suka pada seseorang.
Cara-cara tersebut dipakai dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi
dan tergantung pada watak seseorang.
Berikut cara-cara remaja menyatakan suka
pada seseorang yang ingin dipacarinya:
1. Melalui tembak langsung, yaitu salah satu dari pasangan yang akan mulai
beraksi menanyakan: aku suka sama kamu, apakah kamu juga suka sama
aku? Jika diterima, maka secara resmi hubungan pacaran dimulai.
2. Melalui media seperti mengirimkan SMS atau pesan-pesan singkat di
telepon genggam.
3. Melalui mak comblang, biasanya dilakukan oleh teman sekelas. Sang
mak comblang akan menjodoh-jodohkan atau menyampaikan kabar dari
kedua belah pihak. Jika keduanya ada rasa suka, maka mereka akan mulai
berpacaran.
E. Ekspresi Rasa Suka dan Cinta yang Sesuai dengan Ajaran Iman Kristen
Pacaran bukanlah sarana
uji coba apakah seseorang “laku” atau memiliki banyak penggemar, ataukah
sarana untuk membuktikan bahwa seseorang bukanlah orang kuno ataupun
kuper (kurang pergaulan).
Pacaran adalah sarana bagi mereka yang terlibat di dalamnya untuk
membangun relasi yang lebih dekat dimana mereka saling berbagi,
mendengarkan, mengekspresikan cinta melalui sikap saling menghargai dan
menghormati harkat dan martabat pasangannya.
F. Beberapa Penyimpangan dalam Masa Pacaran dan Pergaulan Remaja Masa Kini
Pacaran dapat memberikan hasil positif dan negatif bagi seseorang, terutama bagi seseorang yang labil dari segi kematangan emosional dan spiritual.
Berikut ini beberapa penyimpangan yang dapat muncul dari hubungan
pacaran.
1. Seks Bebas
Berbagai hasil penelitian yang telah dipublikasikan mengenai seks bebas
di kalangan remaja sungguh mengejutkan, namun itu merupakan kenyataan
yang ada. Salah satu alasan mereka terjebak dalam kehidupan seks bebas
karena diajak teman dan pacar. Kenyataan ini cukup mengkhawatirkan karena
jika frekuensi persoalan menjadi besar dapat mengarah menjadi masalah sosial.
Kehidupan seks bebas dapat menjadi sarana dalam menularkan berbagai
penyakit yang merusak kehidupan remaja. Ada orang yang berpikir bahwa
pihak yang dirugikan dalam hal ini adalah perempuan. Padahal sebenarnya
kedua belah pihak sama-sama dirugikan karena keduanya menyediakan
diri sebagai obyek seks. Perbuatan itu juga melanggar norma agama dan
masyarakat.
2. Hamil di Luar Nikah
Remaja yang tidak mampu mengontrol perilaku dalam berpacaran
dapat menyebabkan kehamilan di luar pernikahan. Akibatnya, mereka akan
kehilangan masa mudanya dan melakukan peran sebagai orang tua (suami
dan isteri) padahal secara psikologis dan ekonomis remaja belum mampu
berdiri sendiri. Kejadian ini juga mempengaruhi orangtua mereka karena
orangtua dibebani tanggung jawab untuk menopang keluarga muda yang
belum mampu membiayai diri sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya remaja
tidak menjadikan masa pacaran sebagai uji coba untuk melakukan hubungan
seks. Mengapa? Bukan hanya karena melanggar perintah Tuhan namun juga
melanggar norma dalam masyarakat dan merugikan diri sendiri. Masa muda
hanya terjadi satu kali saja selama hidup, karena itu masa muda adalah masa
yang paling indah dan menyenangkan jika kita menjalaninya secara benar dan
bertanggung jawab.
3. Aborsi atau Pengguguran Kehamilan
Hubungan seks yang terjadi di luar perkawinan biasanya meninggalkan
rasa penyesalan yang dalam, terutama ketika terjadi kehamilan. Ada banyak
kasus aborsi yang terjadi di kalangan remaja. Pada tahun 2012 ada surat
kabar di ibu kota yang menulis tentang remaja SMA yang melakukan aborsi
dan janinnya di buang di WC. Aborsi adalah tindakan yang dapat disamakan
dengan pembunuhan, karena dalam tindakan itu janin yang belum waktunya
lahir telah dikeluarkan secara paksa dari dalam kandungan dan kehidupannya
diakhiri, karena itu disebut pembunuhan. Tindakan ini melanggar norma
agama, masyarakat dan norma hukum dan dapat dikenakan hukuman pidana.Tindakan tersebut bukan hanya akan menuai hukuman menurut asas legalitas,
namun si pelaku sendiri akan terus dihantui oleh rasa bersalah dan dosa yang
dapat berujung pada perasaan trauma yang dalam.
4. Narkoba, Obat Terlarang dan HIV dan AIDS
Umumnya remaja mengaku pada awalnya diajak oleh teman dan pacar
untuk mencoba mengkonsumsi obat-obat terlarang. Pembahasan mengenai
narkoba, obat terlarang dan HIV/AIDS rasanya kurang tepat jika disatukan dalam
pembahasan mengenai batas-batas dalam berpacaran. Namun persoalan-persoalan ini ada kaitannya dengan pacaran, yaitu pengakuan para remaja
bahwa mereka diajak oleh pacar dan teman ketika pertama kali terjebak dalam
penyalahgunaan narkoba maupun obat terlarang. Karena itu, pembahasan
ini disatukan dengan topik mengenai batas-batas dalam berpacaran sebagai
suatu tindakan preventif supaya remaja kritis dalam bergaul dengan seseorang
yang dekat dengannya.
Narkoba dan obat terlarang lainnya merusak kesehatan tubuh dan jiwa
manusia. Sistem syaraf dan otak dihancurkan oleh narkoba dan obat terlarang
lainnya demikian pula kepribadian dan psikologis seseorang turut dihancurkan.
Manusia yang menjadi pemakai maupun pecandu narkoba dan obat-obat
terlarang lainnya akan kehilangan kesadaran sebagai manusia normal, secara
perlahan mereka akan semakin jauh dari kehidupan dunia nyata. Pada titik
tertentu mereka dapat melakukan berbagai tindakan kriminal dan melawan
hukum demi memperoleh uang untuk membeli obat-obat terlarang.
Pakar
kesehatan mengatakan, narkoba dan obat terlarang lainnya seperti racun yang
mengalir dalam tubuh manusia dan menghancurkan kesadaran dan kesehatan
seseorang. Pemakaian narkoba melalui suntikan akan menjadi sarana
berjangkitnya HIV/AIDS di kalangan remaja. Dari berbagai hasil observasi,
tampak bahwa penularan HIV/AIDS terjadi melalui jarum suntik yang dipakai
untuk menyuntikkan narkoba pada nadi manusia. Melihat kaitannya yang
erat antara narkoba dan HIV/AIDS dapat disimpulkan bahwa narkoba, obat
terlarang dan HIV/AIDS menghancurkan masa kini dan menghilangkan masa
depan seseorang.
TUGAS
lihat tugas kalian dengan klik di sini
sumber:
1. Alkitab
2. buku elektronik: http://bsd.pendidikan.id/data/2013/kelas_10sma/guru/Kelas_10_SMA_Pendidikan_Agama_Kristen_dan_Budi_Pekerti_Guru_2017.pdf
3. https://www.google.com/search?q=batas%20pacaran&tbm=isch&safe=strict&tbs=rimg:CSKIumvOiuKcYdEZIZxX4RdS&hl=id&sa=X&ved=0CBsQuIIBahcKEwjg3rqw8ovwAhUAAAAAHQAAAAAQCQ&biw=1349&bih=635#imgrc=r86EhP7w3l0K5M&imgdii=eSMQ8riCz1gfCM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar