Nama: Vita Ria Ptariwi, S.Pd
Kelas : XII MM & OTKP
SMK KANAAN UNGARAN
Pengertian Damai Sejahtera Menurut Alkitab
Dalam kitab Imamat 26:1-46 dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
(1). Ayat 1-13 memuat janji-janji berkat dan penyertaan Allah bila bangsa Israel taat dan menjalankan perintah-perintah-Nya. Hal ini terlihat dalam ayat 6:“Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apa pun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu.”
(2). Ayat 14-39 memuat peringatan akan penghukuman Allah jika bangsa Israel lalai atau menyimpang dari perintah-perintah Allah. Peringatan ini kita temukan dalam ayat14-19“Tetapi jikalau kamu tidak mendengarkan Daku, dan tidak melakukan segala perintah itu,... maka ... Aku akan mendatangkan kekejutan atasmu... Aku sendiri akan menentang kamu, sehingga kamu akan dikalahkan oleh musuhmu, ... Aku akan lebih keras menghajar kamu sampai tujuh kali lipat karena dosamu, ... dan Aku akan mematahkan kekuasaanmu yang kaubanggakan dan akan membuat langit di atasmu sebagai besi dan tanahmu sebagai tembaga.”
(3). Ayat 40-46 berisi janji-janji Allah untuk mengampuni dan menerima mereka kembali sebagai umat-Nya. Allah itu setia, dan selalu ingat akan perjanjian-Nya dengan leluhur Israel. Seperti yang dikatakan Allah, “Tetapi bila mereka mengakui kesalahan mereka dan kesalahan nenek moyang mereka dalam hal berubah setia yang dilakukan mereka terhadap Aku ... maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub; juga perjanjian dengan Ishak dan perjanjian-Ku dengan Abraham pun akan Kuingat dan negeri itu akan Kuingat juga”(ayat 40-42).
Secara singkat, dapat kita simpulkan bahwa baik Imamat maupun Injil Yohanes mengingatkan kita bahwa ketaatan untuk melakukan apa yang telah diperintahkan Tuhan kepada kita akan menghadirkan damai sejahtera. Dengan kata lain, damai sejahtera tidak akan hadir begitu saja kecuali melalui kerja keras kita dalam memberlakukan kehendak Allah di dalam seluruh kehidupan dan keberadaan kita, baik secara pribadi maupun sebagai gereja.
Memahami Makna “Syalom”
Kata syalom dalam bahasa Ibrani biasanya diterjemahkan menjadi ”damai” atau ”damai sejahtera”. Dalam bahasa Yunani, bahasa yang digunakan dalam penulisan Perjanjian Baru, kata ini diterjemahkan menjadi eirene. Kata syalom atau “damai sejahtera” sering dipergunakan untuk memberikan salam kepada sesama. Dalam bahasa Ibrani orang mengucapkan syalom aleikhem, yang artinya “damai sejahtera bagimu”. Ucapan ini dijawab dengan kata-kata aleikhem syalom. Kata ini mirip sekali dengan kata “salam alaikum” atau “assalamu alaikum” dan “wa alaikum salam” dalam bahasa Arab, bukan? Kita tidak perlu heran. Bahasa Arab memang berasal dari rumpun yang sama dengan bahasa Ibrani seperti halnya bahasa Tagalog dengan bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab kata syalom diterjemahkan menjadi salam, kata yang sama yang dipergunakan dalam bahasa Indonesia yang sangat diperkaya oleh kosakata dari bahasa Arab karena pengaruh agama Islam. Kata ini dapat kita bandingkan dengan salam Horas! di kalangan masyarakat Batak; Ya’ahowu! di dalam masyarakat Nias.
Sejauh ini kita sudah membahas bagaimana kata “damai sejahtera” digunakan dalam kehidupan sehari-hari bagi orang Yahudi. Tetapi, apakah arti “damai sejahtera” itu sendiri? Alkitab menerjemahkan kata “syalom” menjadi “damai sejahtera”. Bukan semata-mata “damai” saja, meskipun kata syalom itu sendiri memang berarti “damai” atau “perdamaian”. Arti kata “syalom” memang jauh lebih luas daripada sekadar “damai” saja. Berikut ini adalah sejumlah kata dan konsep yang digunakan untuk menerjemahkan kata “syalom”, sehingga kita dapat membayangkan kekayaan makna yang dikandungnya.
1. Persahabatan Syalom antara sahabat berkaitan dengan hubungan yang akrab (Zakharia 6:13). Dalam Mazmur 28:3 orang diingatkan akan sahabat yang mulutnya manis, tetapi niatnya jahat:“Janganlah menyeret aku bersama-sama dengan orang fasik ataupun dengan orang yang melakukan kejahatan, yang ramah dengan teman-temannya, tetapi yang hatinya penuh kejahatan.” Kata “ramah” di sini merujuk kepada ucapan yang penuh syalom. Dalam versi bahasa Inggris penggunaan kata ini menjadi lebih jelas: Dalam 1 Raja-raja 2:13 dikisahkan pula tentang Adonia yang menghadap kepada Batsyeba, ibu Salomo, dan ditanyai, “Apakah engkau datang dengan maksud damai?” Ia menjawab,“Ya, damai!” Namun pada kenyataannya tidak demikian. Ia datang dengan niat jahat.
2. Kesejahteraan Kata syalom juga berarti kesejahteraan yang menyeluruh, termasuk kesehatan dan kemakmuran yang semuanya berasal dari Tuhan. Hal ini dapat kita temukan dalam 2 Raja-raja 4:26 ketika hamba Elisa bertanya kepada perempuan Sunem dalam cerita ini, “Selamatkah engkau, selamatkah suamimu, selamatkah anak itu?”Dalam bahasa aslinya, bahasa Ibrani, pertanyaan ini berbunyi, “Apakah engkau memiliki damai [sejahtera]?” Maksud pertanyaan ini mirip dengan menanyakan kesejahteraan orang lain seperti dalam pertanyaan, “Apa kabar?” Maksudnya tentu bukan hanya sekadar menanyakan berita tentang orang yang dimaksudkan, melainkan menanyakan keberadaan menyeluruh orang tersebut.
3. Keamanan Dalam Hakim-hakim 11:31, Yefta mengucapkan kaulnya bahwa bila ia kembali dari medan perang “dengan selamat” (dengan aman, dalam syalom), maka makhluk pertama yang keluar dari pintu rumahnya untuk menemuinya akan dipersembahkannya kepada Tuhan sebagai korban bakaran. Dalam Yesaya 41:3, Tuhan berbicara tentang utusan-Nya yang akan mengalahkan lawan-lawannya. “Ia akan mengejar mereka dan dengan selamat (dengan syalom) ia melalui jalan yang belum pernah diinjak kakinya.”
4. Keselamatan Akhirnya kata syalom juga digunakan dalam kaitan dengan “keselamatan”. Dalam Yesaya 57:19 dikatakan, “Aku akan menciptakan pujipujian. Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang dekat -- irman TUHAN -- Aku akan menyembuhkan dia!” Berita “damai sejahtera” yang diberitakan berkaitan erat dengan kesembuhan yang Tuhan janjikan. Keselamatan yang utuh dapat dilihat dari penggunaan kata “damai sejahtera” dalam hubungannya dengan “keadilan” (Yesaya 60:17) atau seperti dalam Mazmur 85:11 yang menyatakan “Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.”
Uraian di atas telah menggambarkan secara lebih luas dan mendalam apa yang dimaksudkan dengan memberlakukan apa yang Allah kehendaki di dalam hidup kita seperti yang telah kita lihat dalam Kitab Ulangan dan Injil Yohanes. Kita sudah melihat bahwa damai sejahtera bukanlah sesuatu yang akan hadir secara otomatis di dalam hidup kita, melainkan harus kita upayakan dengan kerja keras dan kesungguhan.
RANGKUMAN
Memahami arti damai sejahtera akan menolong kita untuk lebih mengerti bagaimana caranya mengukur apakah suatu komunitas atau jemaat memiliki damai sejahtera dan memberlakukannya di dalam hidupnya sehari-hari. Jikalau kita memberlakukan kehendak Allah maka damai sejahtera Allah akan hadir di dalam hidup kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar