Nama: Vita Ria Pratiwi, S.Pd
Kelas: XII MM & OTKP
SMK KANAAN UNGARAN
Mengupayakan Kondisi Damai Sejahtera
1. Konflik di Indonesia Berbagai konlik pernah dan masih berlangsung di Indonesia hingga saat ini. Kita dapat mencatat konlik pada awal pembentukan Republik Indonesia dalam bentuk PRRI, Permesta, Darul Islam, dan lain-lain. Di Aceh dan Papua terjadi konlik karena masyarakat setempat merasa bahwa kekayaan alam mereka dikuras sementara rakyat sendiri tidak mencicipi hasilnya. Di Kalimantan pernah terjadi konlik antara suku Dayak dan Melayu melawan suku Madura yang dianggap terlalu menguasai sumber-sumber ekonomi masyarakat dan tidak menghargai masyarakat setempat. Di Maluku, Halmahera, Poso, terjadi konlik-konlik yang diduga terutama didasarkan oleh perebutan kekuasaan sosial-politik dan ekonomi namun kemudian ditutupi dengan alasan-alasan agama (Trijono, Dewi, & Qodir, 2004; Manuputy & Watimanela, 2004).
Konlik juga pernah terjadi karena masalah rasial, seperti yang pernah dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia. Sepanjang sejarah bangsa ini baru pertama kali penganiayaan, pemerkosaan, dan pembunuhan dialami oleh ratusan perempuan Tionghoa pada Tragedi Mei 1998. Peristiwa tersebut merupakan awal keruntuhan pemerintahan Orde Baru.
Ada pula konlik-konlik yang terjadi karena alasan-alasan agama. Wujudnya berupa perusakan dan penghancuran rumah-rumah ibadah dan berbagai fasilitas yang terkait; penangkapan dan pembunuhan terhadap umat dan tokoh agama lain; halangan dan larangan bagi umat beragama tertentu untuk menjalankan ibadah dan kehidupan keagamaannya.
Kejadian-kejadian seperti yang digambarkan tersebut sering kita temukan di surat kabar maupun media massa lainnya. Sekelompok orang menganggap dirinya, ajarannya, agama yang dipeluknya sebagai yang paling benar dan satu-satunya yang memiliki hak hidup, sementara yang lainnya harus ditutup, dilarang, bahkan kalau perlu dihancurkan. Kehadiran orang lain yang berbeda ras, suku, bahasa, kelas sosial, agama, pemikiran, pendapat, dan lainlain seringkali memang menimbulkan rasa gelisah, rasa terganggu, bahkan terancam
2. Konlik Antara Manusia dan Kerusakan Alam
Perebutan sumber-sumber alam yang terbatas telah menyebabkan konlik antarmanusia. Sebaliknya, konlik antarmanusia juga telah menyebabkan rusaknya alam semesta. Di masa Perang Vietnam, AS menjatuhkan apa yang disebut “agen oranye”, yaitu zat-zat kimia yang dimaksudkan untuk menghancurkan tumbuhtumbuhan di permukaan tanah sehingga tentara dan gerilyawan Vietkong tidak dapat bersembunyi di hutan-hutan. Agen orange ternyata tidak hanya mematikan pohon-pohon dan semak, tetapi juga mengakibatkan kerusakan pada manusia. Banyak orang yang dilahirkan dengan cacat tubuh dan wajah karena pengaruh “agen oranye” yang masuk lewat ibu yang mengandung mereka.
Ancaman yang paling hebat yang dihadapi umat manusia sudah tentu adalah bom nuklir yang kini semakin luas penyebarannya di seluruh dunia. Bom nuklir yang kekuatannya ribuan kali bom atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki berpotensi menghancurkan manusia, hewanhewan, tumbuhan, dan seluruh alam kita. Kini bom nuklir pun ditemukan di negara-negara Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Inggris, China, India, Korea Utara, Pakistan, dan Israel. Kemungkinan, Iran juga memilikinya walaupun belum diberitakan secara resmi.
Bagi bangsa Indonesia, ancaman lain dari konlik yang terjadi dan tidak diselesaikan dengan baik, adil dan tidak memihak adalah kehancuran negara dan bangsa yang pluralistik ini. Keberadaan bangsa kita yang sejak awal pembentukannya disadari harus mengakomodasi semua perbedaan, sangat ditentukan oleh kesediaan kita semua untuk mengakui semboyan bangsa kita, yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”. Tanpa kesediaan ini, akan sulit bagi bangsa kita untuk terus melangkah sebagai suatu kesatuan yang utuh.
3. Dialog Antariman
Sebuah cara yang sangat baik untuk membangun saling pengertian dan saling menerima di antara masyarakat kita yang pluralistik ini adalah dengan ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan dialog antariman. Dalam kegiatan ini melibatkan orang tua maupun muda untuk melakukan pertemuan-pertemuan dialogis maupun kerja sama dengan saudara-saudara mereka yang datang dari latar belakang etnis, suku, kelas sosial, dan keyakinan yang berbeda-beda. Di Jakarta ada sebuah organisasi yang dinamai “Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Beragama” yang didirikan dengan tujuan seperti di atas. Dalam situs internetnya, dikatakan bahwa“Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Beragama (WKPUB) bertujuan untuk membangun persaudaraan yang sejati melalui kerja sama lintas agama dengan berbagai komunitas umat beragama, utamanya di wilayah Jakarta Timur dan sekitarnya. Wadah ini bergerak di tingkat akar rumput dengan berbagai kegiatan yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kegiatan-kegiatan seperti di atas tentu akan sangat membantu setiap kelompok untuk lebih saling mengerti kelompok yang lain, menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi rasa curiga. Sebaliknya, mendorong semua pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan rasa damai dan pelayanan bagi pihak-pihak yang sangat membutuhkan.
Dalam Amsal 16:7 dikatakan, “Jikalau Tuhan berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itu pun didamaikan-Nya dengan dia.” Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa untuk hidup damai dengan sesama kita, bahkan dengan musuh kita, kita harus hidup dalam jalan yang diperkenan Tuhan. Itu berarti kita didorong, diharapkan, bahkan diwajibkan hidup dalam damai sejahtera Allah dengan sesama kita, bahkan juga dengan orang-orang yang membenci kita.
Surat Roma 12:18 mengingatkan kita: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Surat ini ditulis kepada jemaat Kristen di kota Roma. Mereka hidup sebagai kelompok minoritas di tengah-tengah mayoritas yang tidak mengenal Kristus dan bahkan memusuhinya. Kepada jemaat ini, Rasul Paulus menasihati agar mereka berusaha sedapat mungkin untuk hidup dalam perdamaian dengan orang lain. Mereka tidak perlu takut dan khawatir akan status mereka sebagai kelompok minoritas, melainkan berusaha secara aktif membangun jembatan penghubung antara mereka dengan orang lain, sehingga terciptalah saling pengertian dan keharmonisan di dalam masyarakat.
Roma 12:20 lebih jauh berkata demikian: “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” Berdasarkan ayat ini kita belajar bahwa usaha menghadirkan damai sejahtera harus dimulai dari diri kita sendiri. Dengan mengusahakan perdamaian, dengan memberikan makan dan minum bagi mereka yang membutuhkan, bahkan bagi orang-orang yang membenci kita sekalipun, kita akan mampu menghadirkan kehidupan bersama yang damai.
RANGKUMAN
Kasih dan perdamaian tidak dapat hadir dengan sendirinya. Kita masing-masing perlu memulainya. Kita perlu mengembangkan kebiasaan hidup yang mewujudkan kasih dan perdamaian. Rangkaian konlik, kekerasan, dan kebencian di dunia perlu diputuskan. Membangun jembatan perdamaian dan saling pengertian adalah sebuah langkah konkret untuk mengusahakan terciptanya kasih dan perdamaian di dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar