sumber: https://www.youtube.com/watch?v=2fHQEvcuAn8
Nama: Vita Ria Pratiwi, S,Pd
Kelas: XII OTKP & MM
SMK KANAAN UNGARAN
Penerapan Damai Sejahtera di Indonesia
Pada pelajaran yang lalu, kita sudah membahas sedikit tentang sulitnya
hidup masyarakat miskin di Indonesia. Banyak dari mereka yang menderita
sehingga akhirnya bunuh diri karena tidak tahan lagi menanggung penderitaan
dan kemiskinan mereka.
Mari kita pelajari keprihatinan dari Sri Edi Swasono (edukasi.kompasiana,
2012), mantan anggota MPR dari Fraksi Utusan Golongan, dan guru besar
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, penulis buku “Indonesia dan Doktrin
Kesejahteraan Sosial”. Ide-ide penting yang terus menerus dipertanyakannya
adalah antara lain: 1). Mengapa pembangunan yang terjadi di Indonesia ini menggusur orang miskin dan bukan menggusur kemiskinan? Dalam
hal ini pembangunan malah menghasilkan dehumanisasi di mana orang
miskin semakin menjadi miskin dengan mengalami kehilangan tanah dan
kesempatan mendapatkan pendidikan serta pekerjaan yang layak. 2) Mengapa
yang terjadi sekedar pembangunan di Indonesia dan bukan pembangunan
Indonesia ? Orang-orang asing membangun Indonesia dan menjadi pemegang
izin bagi usaha-usaha ekonomi strategis, sedangkan orang Indonesia hanya
menjadi penonton atau menjadi pelayan globalisasi. Seharusnya, kita orang
Indonesia menjadi Tuan di Negeri sendiri, menjadi “he Master in our own
Homeland, not just to become the Host”, yang hanya melayani kepentingan
globalisasi dan manca negara. Betapa banyaknya sumber daya alam Indonesia
yang pengelolaannya dikerjakan oleh perusahaan asing. Kesejahteraan rakyat
tidak kunjung tercapai, sedangkan kesenjangan antara kaya dan miskin makin
meningkat.
Untuk mengubah nasib orang miskin seharusnya yang dilakukan
pemerintah adalah memperbaiki sekolah dan mutu pendidikan di Indonesia;
membuka lapangan-lapangan kerja; memperbaiki kerusakan lingkungan
hidup yang disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia, namun yang lebih
sering terjadi adalah, orang miskin digusur ke tempat-tempat lain, ke pinggiran
kota, bahkan ke pulau lain melalui program transmigrasi.
Kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mampu memahami
kebutuhan masyarakat, dan bukan mereka yang hanya mementingkan diri
sendiri atau golongannya saja. Apalagi karena biaya pencalonan mereka untuk
menjadi pemimpin juga biasanya mahal sekali. Pemimpin yang kita perlukan
adalah pemimpin yang memiliki orientasi untuk rakyat. Pemimpin yang kita
butuhkan bukanlah pemimpin yang dapat dengan mudah memberikan izin
kepada investor asing untuk mendirikan mal, supermarket, hotel mewah
dan pemukiman super mewah dengan menggusur tanah-tanah rakyat danmemberi ganti rugi yang tidak layak. Ekonomi rakyat adalah wujud dari
ekonomi yang berbasis rakyat (people-based economy) dan ekonomi terpusat
pada kepentingan rakyat (people-centered economy). Ekonomi yang berbasis
rakyat ini merupakan inti dari Pasal 33 UUD tahun 1945, terutama ayat (1)
dan ayat (2).
Kabar baik datang pada awal tahun 2014, ketika Pemerintah Indonesia
mengeluarkan Kartu Jaminan Kesehatan Nasional. Kartu ini merupakan kartu
yang dapat digunakan di Puskesmas dan rumah sakit agar biaya pemeriksaan
dokter, pembelian obat, dan fasilitas medis lainnya serta perawatan inap tidak
lagi mahal karena biayanya dibantu oleh pemerintah Republik Indonesia
(www.republika.co.id, 2012 dengan beberapa perubahan).
Pemantapan dan Aplikasi
Kita masih dapat menemukan banyak contoh lain tentang tindakantindakan konkrit yang dilakukan oleh gereja untuk mengatasi krisis kehidupan
bangsa kita saat ini. Ada juga Gereja Kristen Jawa Manahan di kota Solo
(Surakarta, Jawa Tengah) yang melayani masyarakat miskin di sekitarnya
melalui pemberian menu murah untuk berbuka puasa. Program ini dilakukan
mulai pada bulan puasa tahun 2009. Kini, gereja tidak melakukan aktivitas ini
karena mesjid setempat telah melakukannya. Kepedulian kepada masyarakat
miskin di sekitar lingkungan tetap harus menjadi kegiatan yang dilakukan,
bukan hanya ala kadarnya karena masa Natal atau Paskah, melainkan secara
berkesinambungan sepanjang tahun. GKJ Manahan di Solo telah berusaha
mewujudkan syalom Allah dengan melayani sesama mereka, meskipun yang
dilayani beragama lain. Pelayanan ini menjadi lebih khusus ketika dilakukan
pada bulan puasa untuk mereka yang ingin berbuka, namun tidak memiliki
cukup uang untuk mendapatkan makanan yang layak. Langkah konkrit GKJ
Manahan di Solo dalam berbagi kehidupan adalah sebuah contoh kecil namun
sangat berarti tentang upaya membangun kehidupan bersama yang mesra.
Dalam beberapa tahun terakhir ini hubungan antarumat beragama di
Indonesia, khususnya antara umat Kristen dan umat Islam, banyak mengalami
benturan. Kerusuhan-kerusuhan yang berbau agama seperti yang terjadi di
Situbondo, Poso, Ambon, dan di beberapa daerah telah membuat banyak
pihak cemas. Apakah masih mungkin kita hidup berdampingan sebagai
sebuah bangsa yang berbeda-beda keyakinannya?
Untuk mewujudkan cita-cita kehidupan berbangsa yang harmonis sudah
tentu dibutuhkan langkah-langkah yang berani untuk saling mendekati,
saling mengenal, dan saling menolong. Singkatnya, langkah-langkah yang
dapat menciptakan hubungan yang lebih sejuk dan akrab, yang benar-benar
mencerminkan kehidupan damai sejahtera yang Allah kehendaki.
Bayangkan bila semua gereja di Indonesia yang puluhan ribu jumlahnya,
melakukan hal-hal yang dapat membantu mengurangi kemiskinan,
membangun tali persaudaraan dengan orang-orang yang berkeyakinan lain,
dan bersama-sama menciptakan damai sejahtera Allah di lingkunganya.
Dengan demikian, kita benar-benar dapat menghadirkan kabar baik di tengah
krisis kehidupan bangsa dan negara kita ini.
RANGKUMAN
Sebagai umat Kristen di Indonesia, kita semua terpanggil untuk
menghadirkan damai sejahtera Allah. Damai sejahtera tidak bisa
dihadirkan hanya dengan berdoa saja, melainkan melalui tindakantindakan konkrit. Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan diantaranya
adalah dengan memberdayakan anggota kelompoknya dan masyarakat
luas. Selain itu, kita juga harus membangun kerja sama dengan umat
agama lain dengan komitmen membangun sebuah komunitas yang
terbuka untuk semua orang. Orang muda Kristen perlu mengembangkan
kepempimpinan Kristen yang sedia berkorban demi orang lain, sesuai
dengan teladan Kristus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar