Minggu, 20 Februari 2022

Kabar Baik di Tengah Kehidupan Bangsa dan Negara Bahan Alkitab: Mazmur 137; Nehemia 2: 1-20


sumber: https://www.youtube.com/watch?v=2fHQEvcuAn8
Nama: Vita Ria Pratiwi, S,Pd
Kelas: XII OTKP & MM
SMK KANAAN UNGARAN

Penerapan Damai Sejahtera di Indonesia 

Pada pelajaran yang lalu, kita sudah membahas sedikit tentang sulitnya hidup masyarakat miskin di Indonesia. Banyak dari mereka yang menderita sehingga akhirnya bunuh diri karena tidak tahan lagi menanggung penderitaan dan kemiskinan mereka. Mari kita pelajari keprihatinan dari Sri Edi Swasono (edukasi.kompasiana, 2012), mantan anggota MPR dari Fraksi Utusan Golongan, dan guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, penulis buku “Indonesia dan Doktrin Kesejahteraan Sosial”. Ide-ide penting yang terus menerus dipertanyakannya adalah antara lain: 1). Mengapa pembangunan yang terjadi di Indonesia ini menggusur orang miskin dan bukan menggusur kemiskinan? Dalam hal ini pembangunan malah menghasilkan dehumanisasi di mana orang miskin semakin menjadi miskin dengan mengalami kehilangan tanah dan kesempatan mendapatkan pendidikan serta pekerjaan yang layak. 2) Mengapa yang terjadi sekedar pembangunan di Indonesia dan bukan pembangunan Indonesia ? Orang-orang asing membangun Indonesia dan menjadi pemegang izin bagi usaha-usaha ekonomi strategis, sedangkan orang Indonesia hanya menjadi penonton atau menjadi pelayan globalisasi. Seharusnya, kita orang Indonesia menjadi Tuan di Negeri sendiri, menjadi “he Master in our own Homeland, not just to become the Host”, yang hanya melayani kepentingan globalisasi dan manca negara. Betapa banyaknya sumber daya alam Indonesia yang pengelolaannya dikerjakan oleh perusahaan asing. Kesejahteraan rakyat tidak kunjung tercapai, sedangkan kesenjangan antara kaya dan miskin makin meningkat. 

Untuk mengubah nasib orang miskin seharusnya yang dilakukan pemerintah adalah memperbaiki sekolah dan mutu pendidikan di Indonesia; membuka lapangan-lapangan kerja; memperbaiki kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia, namun yang lebih sering terjadi adalah, orang miskin digusur ke tempat-tempat lain, ke pinggiran kota, bahkan ke pulau lain melalui program transmigrasi.
Kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mampu memahami kebutuhan masyarakat, dan bukan mereka yang hanya mementingkan diri sendiri atau golongannya saja. Apalagi karena biaya pencalonan mereka untuk menjadi pemimpin juga biasanya mahal sekali. Pemimpin yang kita perlukan adalah pemimpin yang memiliki orientasi untuk rakyat. Pemimpin yang kita butuhkan bukanlah pemimpin yang dapat dengan mudah memberikan izin kepada investor asing untuk mendirikan mal, supermarket, hotel mewah dan pemukiman super mewah dengan menggusur tanah-tanah rakyat danmemberi ganti rugi yang tidak layak. Ekonomi rakyat adalah wujud dari ekonomi yang berbasis rakyat (people-based economy) dan ekonomi terpusat pada kepentingan rakyat (people-centered economy). Ekonomi yang berbasis rakyat ini merupakan inti dari Pasal 33 UUD tahun 1945, terutama ayat (1) dan ayat (2).

Kabar baik datang pada awal tahun 2014, ketika Pemerintah Indonesia mengeluarkan Kartu Jaminan Kesehatan Nasional. Kartu ini merupakan kartu yang dapat digunakan di Puskesmas dan rumah sakit agar biaya pemeriksaan dokter, pembelian obat, dan fasilitas medis lainnya serta perawatan inap tidak lagi mahal karena biayanya dibantu oleh pemerintah Republik Indonesia (www.republika.co.id, 2012 dengan beberapa perubahan).

Pemantapan dan Aplikasi

Kita masih dapat menemukan banyak contoh lain tentang tindakantindakan konkrit yang dilakukan oleh gereja untuk mengatasi krisis kehidupan bangsa kita saat ini. Ada juga Gereja Kristen Jawa Manahan di kota Solo (Surakarta, Jawa Tengah) yang melayani masyarakat miskin di sekitarnya melalui pemberian menu murah untuk berbuka puasa. Program ini dilakukan mulai pada bulan puasa tahun 2009. Kini, gereja tidak melakukan aktivitas ini karena mesjid setempat telah melakukannya. Kepedulian kepada masyarakat miskin di sekitar lingkungan tetap harus menjadi kegiatan yang dilakukan, bukan hanya ala kadarnya karena masa Natal atau Paskah, melainkan secara berkesinambungan sepanjang tahun. GKJ Manahan di Solo telah berusaha mewujudkan syalom Allah dengan melayani sesama mereka, meskipun yang dilayani beragama lain. Pelayanan ini menjadi lebih khusus ketika dilakukan pada bulan puasa untuk mereka yang ingin berbuka, namun tidak memiliki cukup uang untuk mendapatkan makanan yang layak. Langkah konkrit GKJ Manahan di Solo dalam berbagi kehidupan adalah sebuah contoh kecil namun sangat berarti tentang upaya membangun kehidupan bersama yang mesra.  

Dalam beberapa tahun terakhir ini hubungan antarumat beragama di Indonesia, khususnya antara umat Kristen dan umat Islam, banyak mengalami benturan. Kerusuhan-kerusuhan yang berbau agama seperti yang terjadi di Situbondo, Poso, Ambon, dan di beberapa daerah telah membuat banyak pihak cemas. Apakah masih mungkin kita hidup berdampingan sebagai sebuah bangsa yang berbeda-beda keyakinannya?

Untuk mewujudkan cita-cita kehidupan berbangsa yang harmonis sudah tentu dibutuhkan langkah-langkah yang berani untuk saling mendekati, saling mengenal, dan saling menolong. Singkatnya, langkah-langkah yang dapat menciptakan hubungan yang lebih sejuk dan akrab, yang benar-benar mencerminkan kehidupan damai sejahtera yang Allah kehendaki. 

Bayangkan bila semua gereja di Indonesia yang puluhan ribu jumlahnya, melakukan hal-hal yang dapat membantu mengurangi kemiskinan, membangun tali persaudaraan dengan orang-orang yang berkeyakinan lain, dan bersama-sama menciptakan damai sejahtera Allah di lingkunganya. Dengan demikian, kita benar-benar dapat menghadirkan kabar baik di tengah krisis kehidupan bangsa dan negara kita ini.  

RANGKUMAN

Sebagai umat Kristen di Indonesia, kita semua terpanggil untuk menghadirkan damai sejahtera Allah. Damai sejahtera tidak bisa dihadirkan hanya dengan berdoa saja, melainkan melalui tindakantindakan konkrit. Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah dengan memberdayakan anggota kelompoknya dan masyarakat luas. Selain itu, kita juga harus membangun kerja sama dengan umat agama lain dengan komitmen membangun sebuah komunitas yang terbuka untuk semua orang. Orang muda Kristen perlu mengembangkan kepempimpinan Kristen yang sedia berkorban demi orang lain, sesuai dengan teladan Kristus 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SENI TARI KELAS 9

Tari Kreasi kelas 9