Minggu, 13 Maret 2022

Bab IX Dampak Modernisasi Bagi Keluargaku Bahan Alkitab: 1 Samuel 1: 1-16, Efesus 5: 22-33

 Penjelasan Bab IX Dampak Modernisasi Bagi Keluargaku Bahan Alkitab: 1 Samuel 1: 1-16, Efesus 5: 22-33

SMK KANAAN UNGARAN

vita ria p., S.Pd

Kompetensi Dasar: 

1.2. Menghayati nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan keluarga agar siap menghadapi gaya hidup modern 

2.2. Mewujudkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan untuk menghadapi gaya hidup modern 

3.2. Menjelaskan pentingnya nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan keluarga untuk menghadapi gaya hidup modern 

4.2. Berperan aktif mewujudkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan keluarga untuk menghadapi gaya hidup modern

Indikator: 

•Menjelaskan pengertian modernisasi 

• Mendeskripsikan dampak modernisasi bagi kehidupan keluarga 

• Menjelaskan pengaruh modernisasi bagi kehidupan keluarga 

• Memaknai peran keluarga sebagai bejana tanah liat ditengah dampak modernisasi 

• Mengamati sikap keluarga peserta didik dalam menanggapi laju modernisasi

A. Pengantar 

Modernisasi merupakan produk peradaban abad 20 dari dunia Barat yang dampaknya masih dirasakan sampai sekarang. Proses modernisasi yang berlangsung di Indonesia membuat bangsa ini termasuk keluarga-keluarga Kristen memiliki kecenderungan untuk terjebak dalam dampak negatif dari proses yang terus berlangsung. Berdasarkan latar belakang tersebut maka pembelajaran pada bagian ini bertujuan untuk memperkenalkan remaja dengan istilah modernisasi, apa dampaknya bagi kehidupan keluarga Kristen dan bagaimana keluarga pada kurun waktu dewasa ini harus menghayati dan memaknai peran mereka di tengah arus modernisasi yang sedang berlangsung. Melalui pembelajaran tersebut selanjutnya peserta didik diharapkan dapat mencapai beberapa indikator yang telah diuraikan di atas.

B. Uraian Materi 
1. Pengertian Modernisasi 

Di kalangan para ahli berkembang berbagai macam pengertian mengenai modernisasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia modernisasi dimengerti sebagai sebuah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. J.W Schrool (1998) mengungkapkan bahwa modernisasi merupakan penerapan pengetahuan ilmiah pada semua kegiatan, bidang kehidupan, dan aspek kemasyarakatan. Aspek yang paling menonjol dari proses modernisasi adalah perubahan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang tinggi.

 William E. More (2003) mengungkapkan bahwa modernisasi adalah transformasi total kehidupan bersama dalam bidang teknologi, organisasi sosial, dari yang tradisional kearah pola-pola ekonomis dan politis yang didahului oleh negara-negara Barat yang telah stabil. Koentjaraningrat (1996) mengungkapkan bahwa modernisasi adalah usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan keadaan dunia sekarang. Sedangkan Soerjono Soekanto (1998) mengatakan bahwa modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial yang biasanya terarah dan didasarkan pada suatu perencanaan.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya modernisasi adalah sebuah proses pergeseran yang terjadi kepada individu maupun masyarakat secara holistik sesuai dengan tuntutan zaman modern yang di dalamnya mengungkapkan semangat untuk hidup, bersikap, berpikir secara efektif, efisien, praktis, sederhana, menghargai kehidupan dan menghargai waktu.

2. Dampak Modernisasi bagi Kehidupan Keluarga 

Dampak yang paling mendasar dari modernisasi bagi keluarga adalah perubahan fungsi dalam keluarga, mulai dari fungsi pendidikan, fungsi sosialisasi anak, fungsi perlindungan, fungsi perasaan, fungsi agama, fungsi ekonomi, fungsi rekreatif, fungsi biologis, sampai pada fungsi memberikan status sosial. Hal tersebut dapat diidentifikasi di lingkungan kita, akan dijelaskan dibawah ini:

Pertama adalah perubahan fungsi dalam bidang pendidikan. Keluarga yang dahulu bertanggungjawab dalam melatih anak pada usia dini dalam hal fisik, mental dan spiritual. Pada zaman modern fungsinya sudah mulai digeser oleh lembagalembaga pendidikan anak usia dini. Keluarga yang dahulu berfungsi memberikan pengetahuan tambahan dalam hal kognitif, tentang pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah kini fungsinya mulai digeser oleh lembaga-lembaga bimbingan belajar. Namun seiring dengan perkembangan yang terus berjalan fungsi keluarga dalam bidang pendidikan mulai terlihat kembali dengan munculnya model homeschooling. 

Kedua adalah fungsi sosialisasi anak. Keluarga yang dahulunya bertugas untuk membentuk kepribadian anak, serta memperkenalkan pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sosial-masyarakat. Pada zaman modern perannya mulai digeser oleh lembaga-lembaga training yang menawarkan jasa pembentukan kepribadian, lembaga-lembaga konseling psikologis yang menawarkan jasa untuk mengetahui bakat dan minat melalui tes psikologi.

Ketiga adalah fungsi perlindungan. Keluarga yang dahulunya bertugas untuk memberikan tempat yang nyaman bagi anggota keluarga dan memberikan perlindungan secara fisik, ekonomi maupun psikologi bagi seluruh anggotanya. Pada zaman modern fungsinya mulai digeser oleh lembaga-lembaga yang menawarkan jasa-jasa asuransi. 

Keempat adalah fungsi perasaan, keluarga yang dahulunya bertugas memberikan rasa seperti keintiman, perhatian dan rasa aman yang tercipta dalam keluarga. Pada zaman modern perannya sudah mulai di geser oleh baby-sitter, day care, dan lain sebagainya.

Kelima adalah fungsi agama, keluarga yang dahulunya mendorong perkembangan seluruh anggota menjadi insan beragama yang penuh ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta menunjukkan penghayatan dan perilaku nilai-nilai agama. Pada zaman modern perannya sudah mulai digeser oleh guruguru spiritual yang menawarkan jasa serupa.  

Keenam adalah fungsi ekonomi. Keluarga yang dahulunya bertugas untuk mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pada zaman modern perannya sudah mulai diganti oleh perencana keuangan.

Ketujuh adalah fungsi rekreatif. Keluarga yang dahulunya berfungsi untuk mencari hiburan, memberikan suasana yang segar dan gembira dalam lingkungan keluarga. Pada zaman modern perannya sudah mulai digeser oleh, media cetak, elektronik, media social, time-zone, game-online. 

Kedelapan adalah fungsi biologi. Keluarga yang dahulunya bertugas untuk pemenuhan kebutuhan biologis dan seks suami istri untuk menghasilkan keturunan, memenuhi kebutuhan gizi keluarga, serta memelihara dan merawat anggota keluarga secara fisik. Pada zaman modern fungsinya sudah mulai digeser oleh tempat-tempat prostitusi, dokter keluarga, bayi tabung, kloning. 

Kedelapan adalah fungsi biologi. Keluarga yang dahulunya bertugas untuk pemenuhan kebutuhan biologis dan seks suami istri untuk menghasilkan keturunan, memenuhi kebutuhan gizi keluarga, serta memelihara dan merawat anggota keluarga secara fisik. Pada zaman modern fungsinya sudah mulai digeser oleh tempat-tempat prostitusi, dokter keluarga, bayi tabung, kloning. 

Kesembilan adalah fungsi memberikan status sosial. Keluarga yang dahulunya bertanggung jawab mewariskan kedudukan kepada anak-anaknya. Pada zaman modern fungsinya sudah mulai digeser oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi.  

3. Pengaruh dari Dampak Modernisasi bagi Kehidupan Keluarga

Pada dasarnya dampak dari modernisasi seperti yang telah dijelaskan di atas dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif dalam keluarga termasuk keluarga Kristen. Pengaruh positif dari dampak modernisasi menurut Alex Inkeles (1999) adalah membentuk anggota keluarga menjadi pribadi yang menerima dan terbuka pada hal-hal baru, berani menyatakan pendapat, menghargai waktu, memiliki orientasi pada masa depan bukan masa lalu, memiliki perencanaan dan pengorganisasian. Banyak produk dari keluarga modern yang memiliki rasa percaya diri, perhitungan, menghargai harkat hidup manusia lain, percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi, menjunjung sikap imbalan harus sama dengan prestasi kerja.

 Di samping pengaruh positif, juga di temukan pengaruh negatif yang dihasilkan sebagai dampak modernisasi di atas, di antaranya adalah membentuk seseorang untuk memiliki kecenderungan berpikir dan bersikap pragmatis. Sikapnya terhadap alat-alat modern, terlalu menggantungkan diri pada alat-alat tersebut. Bahkan ada sebagian orang yang menganggap modernisasi dianggap sebagai allah dan dijadikan sebagai tuhan, dan menghilangkan fungsi-fungsi vital keluarga. Modernisasi juga menyebabkan meningkatnya arus urbanisasi, meningkatnya kesenjangan sosial antara keluarga berkemampuan tinggi dan rendah. Pada saat yang sama tingkat pencemaran lingkungan yang diakibatkan limbah-limbah rumah tangga semakin tinggi. Dalam lingkup keluarga muncul kriminalitas dan kenakalan remaja. Juga meningkatnya perilaku menyimpang pada remaja dan orang tua.

4. Keluarga Kristen sebagai “Bejana Tanah Liat” di tengah Dampak Modernisasi

Berdasarkan pemahaman yang menyatakan bahwa modernisasi adalah sebuah proses yang terus berubah atau bergeser menuju pada semangat yang terkandung di dalamnya dan beberapa aspek penting yakni: efektivitas, efisien, praktis,sederhana, menghargai kehidupan dan menghargai waktu. Oleh karena itu, maka keluarga Kristen perlu mengembangkan sikap yang memadai yakni terbuka dan mau menerima dari semua pihak termasuk keluarga terhadap setiap proses perubahan yang diusung oleh zaman modern. Oleh karena itu sepertinya model keluarga sebagai “bejana tanah liat” yang dicetuskan oleh Marjorie Thomson (2000) dapat menjadi rujukan pembelajaran bagi keluarga peserta didik.

Pada dasarnya keluarga sebagai tanah liat ini, esensinya adalah keluarga memiliki sikap dan pemikiran yang tidak kaku, cenderung terbuka, dan dapat menerima perubahan. Keluarga dapat dan bisa dibentuk ulang untuk menerapkan model tersebut. Pada intinya masing-masing anggota keluarga harus menyadari bahwa mereka adalah insan-insan yang tidak sempurna, sehingga menyediakan diri untuk dibentuk oleh Allah dalam setiap tantangan. Dengan keterbukaan yang dimiliki tersebut, keluarga diharapkan dapat lebih menyerap semangat-semangat positif yang ingin dicapai oleh zaman modern. Melalui modernisasi keluarga juga dapat memanfaatkan aspek-aspeknya untuk sarana pengembang iman.


Ayat Mas hari ini!

Efesus 2:19 

1. Lengkapilah bagian yang kosong di bawah ini! Demikianlah kamu bukan lagi _______ dan pendatang, melainkan ________ dari orang- orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah 

2. Secara bergantian dengan teman sebangku, hafalkanlah ayat tersebut! 

3. Pahami dan refleksikanlah makna ayat tersebut bagi anda!

Terimakasih. 

Minggu, 20 Februari 2022

Menjadi Pelaku Kasih dan Perdamaian Bahan Alkitab: Yeremia 6:1-21; Matius 5:9; Roma 12:18


sumber: https://www.youtube.com/watch?v=Czi8hxkEY2c

Nama: Vita Ria Pratiwi, S.Pd

Kelas: XII MM & OTKP

SMK KANAAN UNGARAN

Mengupayakan Kondisi Damai Sejahtera

1. Konflik di Indonesia Berbagai konlik pernah dan masih berlangsung di Indonesia hingga saat ini. Kita dapat mencatat konlik pada awal pembentukan Republik Indonesia dalam bentuk PRRI, Permesta, Darul Islam, dan lain-lain. Di Aceh dan Papua terjadi konlik karena masyarakat setempat merasa bahwa kekayaan alam mereka dikuras sementara rakyat sendiri tidak mencicipi hasilnya. Di Kalimantan pernah terjadi konlik antara suku Dayak dan Melayu melawan suku Madura yang dianggap terlalu menguasai sumber-sumber ekonomi masyarakat dan tidak menghargai masyarakat setempat. Di Maluku, Halmahera, Poso, terjadi konlik-konlik yang diduga terutama didasarkan oleh perebutan kekuasaan sosial-politik dan ekonomi namun kemudian ditutupi dengan alasan-alasan agama (Trijono, Dewi, & Qodir, 2004; Manuputy & Watimanela, 2004).

Konlik juga pernah terjadi karena masalah rasial, seperti yang pernah dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia. Sepanjang sejarah bangsa ini baru pertama kali penganiayaan, pemerkosaan, dan pembunuhan dialami oleh ratusan perempuan Tionghoa pada Tragedi Mei 1998. Peristiwa tersebut merupakan awal keruntuhan pemerintahan Orde Baru.

Ada pula konlik-konlik yang terjadi karena alasan-alasan agama. Wujudnya berupa perusakan dan penghancuran rumah-rumah ibadah dan berbagai fasilitas yang terkait; penangkapan dan pembunuhan terhadap umat dan tokoh agama lain; halangan dan larangan bagi umat beragama tertentu untuk menjalankan ibadah dan kehidupan keagamaannya.

Kejadian-kejadian seperti yang digambarkan tersebut sering kita temukan di surat kabar maupun media massa lainnya. Sekelompok orang menganggap dirinya, ajarannya, agama yang dipeluknya sebagai yang paling benar dan satu-satunya yang memiliki hak hidup, sementara yang lainnya harus ditutup, dilarang, bahkan kalau perlu dihancurkan. Kehadiran orang lain yang berbeda ras, suku, bahasa, kelas sosial, agama, pemikiran, pendapat, dan lainlain seringkali memang menimbulkan rasa gelisah, rasa terganggu, bahkan terancam

2. Konlik Antara Manusia dan Kerusakan Alam 

Perebutan sumber-sumber alam yang terbatas telah menyebabkan konlik antarmanusia. Sebaliknya, konlik antarmanusia juga telah menyebabkan rusaknya alam semesta. Di masa Perang Vietnam, AS menjatuhkan apa yang disebut “agen oranye”, yaitu zat-zat kimia yang dimaksudkan untuk menghancurkan tumbuhtumbuhan di permukaan tanah sehingga tentara dan gerilyawan Vietkong tidak dapat bersembunyi di hutan-hutan. Agen orange ternyata tidak hanya mematikan pohon-pohon dan semak, tetapi juga mengakibatkan kerusakan pada manusia. Banyak orang yang dilahirkan dengan cacat tubuh dan wajah karena pengaruh “agen oranye” yang masuk lewat ibu yang mengandung mereka.

Ancaman yang paling hebat yang dihadapi umat manusia sudah tentu adalah bom nuklir yang kini semakin luas penyebarannya di seluruh dunia. Bom nuklir yang kekuatannya ribuan kali bom atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki berpotensi menghancurkan manusia, hewanhewan, tumbuhan, dan seluruh alam kita. Kini bom nuklir pun ditemukan di negara-negara Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Inggris, China, India, Korea Utara, Pakistan, dan Israel. Kemungkinan, Iran juga memilikinya walaupun belum diberitakan secara resmi.

Bagi bangsa Indonesia, ancaman lain dari konlik yang terjadi dan tidak diselesaikan dengan baik, adil dan tidak memihak adalah kehancuran negara dan bangsa yang pluralistik ini. Keberadaan bangsa kita yang sejak awal pembentukannya disadari harus mengakomodasi semua perbedaan, sangat ditentukan oleh kesediaan kita semua untuk mengakui semboyan bangsa kita, yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”. Tanpa kesediaan ini, akan sulit bagi bangsa kita untuk terus melangkah sebagai suatu kesatuan yang utuh.

3. Dialog Antariman 

Sebuah cara yang sangat baik untuk membangun saling pengertian dan saling menerima di antara masyarakat kita yang pluralistik ini adalah dengan ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan dialog antariman. Dalam kegiatan ini melibatkan orang tua maupun muda untuk melakukan pertemuan-pertemuan dialogis maupun kerja sama dengan saudara-saudara mereka yang datang dari latar belakang etnis, suku, kelas sosial, dan keyakinan yang berbeda-beda.  Di Jakarta ada sebuah organisasi yang dinamai “Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Beragama” yang didirikan dengan tujuan seperti di atas. Dalam situs internetnya, dikatakan bahwa“Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Beragama (WKPUB) bertujuan untuk membangun persaudaraan yang sejati melalui kerja sama lintas agama dengan berbagai komunitas umat beragama, utamanya di wilayah Jakarta Timur dan sekitarnya. Wadah ini bergerak di tingkat akar rumput dengan berbagai kegiatan yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kegiatan-kegiatan seperti di atas tentu akan sangat membantu setiap kelompok untuk lebih saling mengerti kelompok yang lain, menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi rasa curiga. Sebaliknya, mendorong semua pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan rasa damai dan pelayanan bagi pihak-pihak yang sangat membutuhkan.

Dalam Amsal 16:7 dikatakan, “Jikalau Tuhan berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itu pun didamaikan-Nya dengan dia.” Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa untuk hidup damai dengan sesama kita, bahkan dengan musuh kita, kita harus hidup dalam jalan yang diperkenan Tuhan. Itu berarti kita didorong, diharapkan, bahkan diwajibkan hidup dalam damai sejahtera Allah dengan sesama kita, bahkan juga dengan orang-orang yang membenci kita. 

Surat Roma 12:18 mengingatkan kita: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Surat ini ditulis kepada jemaat Kristen di kota Roma. Mereka hidup sebagai kelompok minoritas di tengah-tengah mayoritas yang tidak mengenal Kristus dan bahkan memusuhinya. Kepada jemaat ini, Rasul Paulus menasihati agar mereka berusaha sedapat mungkin untuk hidup dalam perdamaian dengan orang lain. Mereka tidak perlu takut dan khawatir akan status mereka sebagai kelompok minoritas, melainkan berusaha secara aktif membangun jembatan penghubung antara mereka dengan orang lain, sehingga terciptalah saling pengertian dan keharmonisan di dalam masyarakat. 

Roma 12:20 lebih jauh berkata demikian: “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” Berdasarkan ayat ini kita belajar bahwa usaha menghadirkan damai sejahtera harus dimulai dari diri kita sendiri. Dengan mengusahakan perdamaian, dengan memberikan makan dan minum bagi mereka yang membutuhkan, bahkan bagi orang-orang yang membenci kita sekalipun, kita akan mampu menghadirkan kehidupan bersama yang damai. 


RANGKUMAN

Kasih dan perdamaian tidak dapat hadir dengan sendirinya. Kita masing-masing perlu memulainya. Kita perlu mengembangkan kebiasaan hidup yang mewujudkan kasih dan perdamaian. Rangkaian konlik, kekerasan, dan kebencian di dunia perlu diputuskan. Membangun jembatan perdamaian dan saling pengertian adalah sebuah langkah konkret untuk mengusahakan terciptanya kasih dan perdamaian di dunia ini. 

Kabar Baik di Tengah Kehidupan Bangsa dan Negara Bahan Alkitab: Mazmur 137; Nehemia 2: 1-20


sumber: https://www.youtube.com/watch?v=2fHQEvcuAn8
Nama: Vita Ria Pratiwi, S,Pd
Kelas: XII OTKP & MM
SMK KANAAN UNGARAN

Penerapan Damai Sejahtera di Indonesia 

Pada pelajaran yang lalu, kita sudah membahas sedikit tentang sulitnya hidup masyarakat miskin di Indonesia. Banyak dari mereka yang menderita sehingga akhirnya bunuh diri karena tidak tahan lagi menanggung penderitaan dan kemiskinan mereka. Mari kita pelajari keprihatinan dari Sri Edi Swasono (edukasi.kompasiana, 2012), mantan anggota MPR dari Fraksi Utusan Golongan, dan guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, penulis buku “Indonesia dan Doktrin Kesejahteraan Sosial”. Ide-ide penting yang terus menerus dipertanyakannya adalah antara lain: 1). Mengapa pembangunan yang terjadi di Indonesia ini menggusur orang miskin dan bukan menggusur kemiskinan? Dalam hal ini pembangunan malah menghasilkan dehumanisasi di mana orang miskin semakin menjadi miskin dengan mengalami kehilangan tanah dan kesempatan mendapatkan pendidikan serta pekerjaan yang layak. 2) Mengapa yang terjadi sekedar pembangunan di Indonesia dan bukan pembangunan Indonesia ? Orang-orang asing membangun Indonesia dan menjadi pemegang izin bagi usaha-usaha ekonomi strategis, sedangkan orang Indonesia hanya menjadi penonton atau menjadi pelayan globalisasi. Seharusnya, kita orang Indonesia menjadi Tuan di Negeri sendiri, menjadi “he Master in our own Homeland, not just to become the Host”, yang hanya melayani kepentingan globalisasi dan manca negara. Betapa banyaknya sumber daya alam Indonesia yang pengelolaannya dikerjakan oleh perusahaan asing. Kesejahteraan rakyat tidak kunjung tercapai, sedangkan kesenjangan antara kaya dan miskin makin meningkat. 

Untuk mengubah nasib orang miskin seharusnya yang dilakukan pemerintah adalah memperbaiki sekolah dan mutu pendidikan di Indonesia; membuka lapangan-lapangan kerja; memperbaiki kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia, namun yang lebih sering terjadi adalah, orang miskin digusur ke tempat-tempat lain, ke pinggiran kota, bahkan ke pulau lain melalui program transmigrasi.
Kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mampu memahami kebutuhan masyarakat, dan bukan mereka yang hanya mementingkan diri sendiri atau golongannya saja. Apalagi karena biaya pencalonan mereka untuk menjadi pemimpin juga biasanya mahal sekali. Pemimpin yang kita perlukan adalah pemimpin yang memiliki orientasi untuk rakyat. Pemimpin yang kita butuhkan bukanlah pemimpin yang dapat dengan mudah memberikan izin kepada investor asing untuk mendirikan mal, supermarket, hotel mewah dan pemukiman super mewah dengan menggusur tanah-tanah rakyat danmemberi ganti rugi yang tidak layak. Ekonomi rakyat adalah wujud dari ekonomi yang berbasis rakyat (people-based economy) dan ekonomi terpusat pada kepentingan rakyat (people-centered economy). Ekonomi yang berbasis rakyat ini merupakan inti dari Pasal 33 UUD tahun 1945, terutama ayat (1) dan ayat (2).

Kabar baik datang pada awal tahun 2014, ketika Pemerintah Indonesia mengeluarkan Kartu Jaminan Kesehatan Nasional. Kartu ini merupakan kartu yang dapat digunakan di Puskesmas dan rumah sakit agar biaya pemeriksaan dokter, pembelian obat, dan fasilitas medis lainnya serta perawatan inap tidak lagi mahal karena biayanya dibantu oleh pemerintah Republik Indonesia (www.republika.co.id, 2012 dengan beberapa perubahan).

Pemantapan dan Aplikasi

Kita masih dapat menemukan banyak contoh lain tentang tindakantindakan konkrit yang dilakukan oleh gereja untuk mengatasi krisis kehidupan bangsa kita saat ini. Ada juga Gereja Kristen Jawa Manahan di kota Solo (Surakarta, Jawa Tengah) yang melayani masyarakat miskin di sekitarnya melalui pemberian menu murah untuk berbuka puasa. Program ini dilakukan mulai pada bulan puasa tahun 2009. Kini, gereja tidak melakukan aktivitas ini karena mesjid setempat telah melakukannya. Kepedulian kepada masyarakat miskin di sekitar lingkungan tetap harus menjadi kegiatan yang dilakukan, bukan hanya ala kadarnya karena masa Natal atau Paskah, melainkan secara berkesinambungan sepanjang tahun. GKJ Manahan di Solo telah berusaha mewujudkan syalom Allah dengan melayani sesama mereka, meskipun yang dilayani beragama lain. Pelayanan ini menjadi lebih khusus ketika dilakukan pada bulan puasa untuk mereka yang ingin berbuka, namun tidak memiliki cukup uang untuk mendapatkan makanan yang layak. Langkah konkrit GKJ Manahan di Solo dalam berbagi kehidupan adalah sebuah contoh kecil namun sangat berarti tentang upaya membangun kehidupan bersama yang mesra.  

Dalam beberapa tahun terakhir ini hubungan antarumat beragama di Indonesia, khususnya antara umat Kristen dan umat Islam, banyak mengalami benturan. Kerusuhan-kerusuhan yang berbau agama seperti yang terjadi di Situbondo, Poso, Ambon, dan di beberapa daerah telah membuat banyak pihak cemas. Apakah masih mungkin kita hidup berdampingan sebagai sebuah bangsa yang berbeda-beda keyakinannya?

Untuk mewujudkan cita-cita kehidupan berbangsa yang harmonis sudah tentu dibutuhkan langkah-langkah yang berani untuk saling mendekati, saling mengenal, dan saling menolong. Singkatnya, langkah-langkah yang dapat menciptakan hubungan yang lebih sejuk dan akrab, yang benar-benar mencerminkan kehidupan damai sejahtera yang Allah kehendaki. 

Bayangkan bila semua gereja di Indonesia yang puluhan ribu jumlahnya, melakukan hal-hal yang dapat membantu mengurangi kemiskinan, membangun tali persaudaraan dengan orang-orang yang berkeyakinan lain, dan bersama-sama menciptakan damai sejahtera Allah di lingkunganya. Dengan demikian, kita benar-benar dapat menghadirkan kabar baik di tengah krisis kehidupan bangsa dan negara kita ini.  

RANGKUMAN

Sebagai umat Kristen di Indonesia, kita semua terpanggil untuk menghadirkan damai sejahtera Allah. Damai sejahtera tidak bisa dihadirkan hanya dengan berdoa saja, melainkan melalui tindakantindakan konkrit. Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah dengan memberdayakan anggota kelompoknya dan masyarakat luas. Selain itu, kita juga harus membangun kerja sama dengan umat agama lain dengan komitmen membangun sebuah komunitas yang terbuka untuk semua orang. Orang muda Kristen perlu mengembangkan kepempimpinan Kristen yang sedia berkorban demi orang lain, sesuai dengan teladan Kristus 

Damai Sejahtera Menurut Alkitab Bahan Alkitab: Imamat 26:1-46; Yohanes 14:23-31

 

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=bE1PeBgKIMg

Nama: Vita Ria Ptariwi, S.Pd
Kelas : XII MM & OTKP 
SMK KANAAN UNGARAN

Pengertian Damai Sejahtera Menurut Alkitab 

Dalam kitab Imamat 26:1-46 dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: 

(1). Ayat 1-13 memuat janji-janji berkat dan penyertaan Allah bila bangsa Israel taat dan menjalankan perintah-perintah-Nya. Hal ini terlihat dalam ayat 6:“Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apa pun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu.”

(2). Ayat 14-39 memuat peringatan akan penghukuman Allah jika bangsa Israel lalai atau menyimpang dari perintah-perintah Allah. Peringatan ini kita temukan dalam ayat14-19“Tetapi jikalau kamu tidak mendengarkan Daku, dan tidak melakukan segala perintah itu,... maka ... Aku akan mendatangkan kekejutan atasmu... Aku sendiri akan menentang kamu, sehingga kamu akan dikalahkan oleh musuhmu, ... Aku akan lebih keras menghajar kamu sampai tujuh kali lipat karena dosamu, ... dan Aku akan mematahkan kekuasaanmu yang kaubanggakan dan akan membuat langit di atasmu sebagai besi dan tanahmu sebagai tembaga.”

(3). Ayat 40-46 berisi janji-janji Allah untuk mengampuni dan menerima mereka kembali sebagai umat-Nya. Allah itu setia, dan selalu ingat akan perjanjian-Nya dengan leluhur Israel. Seperti yang dikatakan Allah, “Tetapi bila mereka mengakui kesalahan mereka dan kesalahan nenek moyang mereka dalam hal berubah setia yang dilakukan mereka terhadap Aku ... maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub; juga perjanjian dengan Ishak dan perjanjian-Ku dengan Abraham pun akan Kuingat dan negeri itu akan Kuingat juga”(ayat 40-42).

Secara singkat, dapat kita simpulkan bahwa baik Imamat maupun Injil Yohanes mengingatkan kita bahwa ketaatan untuk melakukan apa yang telah diperintahkan Tuhan kepada kita akan menghadirkan damai sejahtera. Dengan kata lain, damai sejahtera tidak akan hadir begitu saja kecuali melalui kerja keras kita dalam memberlakukan kehendak Allah di dalam seluruh kehidupan dan keberadaan kita, baik secara pribadi maupun sebagai gereja.

Memahami Makna “Syalom”

Kata syalom dalam bahasa Ibrani biasanya diterjemahkan menjadi ”damai” atau ”damai sejahtera”. Dalam bahasa Yunani, bahasa yang digunakan dalam penulisan Perjanjian Baru, kata ini diterjemahkan menjadi eirene. Kata syalom atau “damai sejahtera” sering dipergunakan untuk memberikan salam kepada sesama. Dalam bahasa Ibrani orang mengucapkan syalom aleikhem, yang artinya “damai sejahtera bagimu”. Ucapan ini dijawab dengan kata-kata aleikhem syalom. Kata ini mirip sekali dengan kata “salam alaikum” atau “assalamu alaikum” dan “wa alaikum salam” dalam bahasa Arab, bukan? Kita tidak perlu heran. Bahasa Arab memang berasal dari rumpun yang sama dengan bahasa Ibrani seperti halnya bahasa Tagalog dengan bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab kata syalom diterjemahkan menjadi salam, kata yang sama yang dipergunakan dalam bahasa Indonesia yang sangat diperkaya oleh kosakata dari bahasa Arab karena pengaruh agama Islam. Kata ini dapat kita bandingkan dengan salam Horas! di kalangan masyarakat Batak; Ya’ahowu! di dalam masyarakat Nias.

Sejauh ini kita sudah membahas bagaimana kata “damai sejahtera” digunakan dalam kehidupan sehari-hari bagi orang Yahudi. Tetapi, apakah arti “damai sejahtera” itu sendiri? Alkitab menerjemahkan kata “syalom” menjadi “damai sejahtera”. Bukan semata-mata “damai” saja, meskipun kata syalom itu sendiri memang berarti “damai” atau “perdamaian”. Arti kata “syalom” memang jauh lebih luas daripada sekadar “damai” saja. Berikut ini adalah sejumlah kata dan konsep yang digunakan untuk menerjemahkan kata “syalom”, sehingga kita dapat membayangkan kekayaan makna yang dikandungnya.

1. Persahabatan Syalom antara sahabat berkaitan dengan hubungan yang akrab (Zakharia 6:13). Dalam Mazmur 28:3 orang diingatkan akan sahabat yang mulutnya manis, tetapi niatnya jahat:“Janganlah menyeret aku bersama-sama dengan orang fasik ataupun dengan orang yang melakukan kejahatan, yang ramah dengan teman-temannya, tetapi yang hatinya penuh kejahatan.” Kata “ramah” di sini merujuk kepada ucapan yang penuh syalom. Dalam versi bahasa Inggris penggunaan kata ini menjadi lebih jelas: Dalam 1 Raja-raja 2:13 dikisahkan pula tentang Adonia yang menghadap kepada Batsyeba, ibu Salomo, dan ditanyai, “Apakah engkau datang dengan maksud damai?” Ia menjawab,“Ya, damai!” Namun pada kenyataannya tidak demikian. Ia datang dengan niat jahat. 

2. Kesejahteraan Kata syalom juga berarti kesejahteraan yang menyeluruh, termasuk kesehatan dan kemakmuran yang semuanya berasal dari Tuhan. Hal ini dapat kita temukan dalam 2 Raja-raja 4:26 ketika hamba Elisa bertanya kepada perempuan Sunem dalam cerita ini, “Selamatkah engkau, selamatkah suamimu, selamatkah anak itu?”Dalam bahasa aslinya, bahasa Ibrani, pertanyaan ini berbunyi, “Apakah engkau memiliki damai [sejahtera]?” Maksud pertanyaan ini mirip dengan menanyakan kesejahteraan orang lain seperti dalam pertanyaan, “Apa kabar?” Maksudnya tentu bukan hanya sekadar menanyakan berita tentang orang yang dimaksudkan, melainkan menanyakan keberadaan menyeluruh orang tersebut.

3. Keamanan Dalam Hakim-hakim 11:31, Yefta mengucapkan kaulnya bahwa bila ia kembali dari medan perang “dengan selamat” (dengan aman, dalam syalom), maka makhluk pertama yang keluar dari pintu rumahnya untuk menemuinya akan dipersembahkannya kepada Tuhan sebagai korban bakaran. Dalam Yesaya 41:3, Tuhan berbicara tentang utusan-Nya yang akan mengalahkan lawan-lawannya. “Ia akan mengejar mereka dan dengan selamat (dengan syalom) ia melalui jalan yang belum pernah diinjak kakinya.”

4. Keselamatan Akhirnya kata syalom juga digunakan dalam kaitan dengan “keselamatan”. Dalam Yesaya 57:19 dikatakan, “Aku akan menciptakan pujipujian. Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang dekat -- irman TUHAN -- Aku akan menyembuhkan dia!” Berita “damai sejahtera” yang diberitakan berkaitan erat dengan kesembuhan yang Tuhan janjikan. Keselamatan yang utuh dapat dilihat dari penggunaan kata “damai sejahtera” dalam hubungannya dengan “keadilan” (Yesaya 60:17) atau seperti dalam Mazmur 85:11 yang menyatakan “Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.”

Uraian di atas telah menggambarkan secara lebih luas dan mendalam apa yang dimaksudkan dengan memberlakukan apa yang Allah kehendaki di dalam hidup kita seperti yang telah kita lihat dalam Kitab Ulangan dan Injil Yohanes. Kita sudah melihat bahwa damai sejahtera bukanlah sesuatu yang akan hadir secara otomatis di dalam hidup kita, melainkan harus kita upayakan dengan kerja keras dan kesungguhan.

RANGKUMAN

Memahami arti damai sejahtera akan menolong kita untuk lebih mengerti bagaimana caranya mengukur apakah suatu komunitas atau jemaat memiliki damai sejahtera dan memberlakukannya di dalam hidupnya sehari-hari. Jikalau kita memberlakukan kehendak Allah maka damai sejahtera Allah akan hadir di dalam hidup kita.  

Sikap Gereja Terhadap Demokrasi di Indonesia Bahan Alkitab: I Samuel 8: 10-17; Matius 22: 15-21; Roma 13: 1-7


Rabu, 15 September 2021

BAB III Gereja yang Hidup di Dunia Bahan Alkitab: Matius 28:16-20; Kisah 2:44-47; 6:1-6; 1 Korintus 11:20-34

 BAB III

Gereja yang Hidup di Dunia Bahan Alkitab: Matius 28:16-20; Kisah 2:44-47; 6:1-6; 1 Korintus 11:20-34


Mata pelajaran: PABP

Kelas: IX (Sembilan)

Guru: Vita Ria P., S.Pd


Kompetensi Dasar

3.2

Menjelaskan karya Allah melalui perubahan-perubahan baru yang dihadirkan gereja di tengah-tengah dunia

4.2

Membuat refleksi terhadap perubahan-perubahan baru yang dihadirkan  gereja di tengah-tengah dunia

   Menyanyikan lagu NKB 200: 1-3 ”Di Jalan Hidup yang Lebar, Sempit”.

Sebaliknya, patut disayangkan bahwa ada gereja yang tidak mengembangkan kreativitasnya untuk menghadirkan program-program untuk orang muda dan remaja. Kegiatan-kegiatan yang disediakan hanyalah persekutuan remaja berupa kebaktian remaja, persekutuan doa, vocal group, dan kegiatan-kegiatan sejenis itu. Di banyak kota besar gereja-gereja yang tidak mengembangkan pelayanan yang kreatif untuk orang muda seringkali kehilangan orang-orang muda dan remajanya yang lari ke gereja-gereja lain.

  

Materi

B.     

Sumber: Dok. Kemdikbud Gambar

 3.1 Petrus berkhotbah pada hari Pentakosta

         Gereja yang Memberitakan

      Dalam Kisah Para Rasul pasal 2 digambarkan bahwa pada hari Pentakosta yang pertama, tiga ribu orang mengaku percaya dan dibaptiskan. Semua ini dimulai ketika Petrus memberitakan tentang Yesus yang bangkit kepada orang banyak yang ada di Yerusalem. Dalam Kisah 2:14 dikatakan, “Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: ‘Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.’

Tugas yang mereka laksanakan disebut dalam bahasa Yunani sebagai kerugma atau “pemberitaan”. Kerugma sendiri sebetulnya berarti “pengumuman”, seperti yang biasanya disampaikan oleh petugas kerajaan yang menyampaikan berita-berita penting pada masa itu, karena saat itu belum ada surat kabar atau media massa lainnya.

       pemberitaan apa yang disampaikan oleh gereja? Dalam contoh dari Kisah 2:14 kita melihat bahwa Petrus memberitakan tentang siapa Yesus itu dan apa makna kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Di dalam kebaktian-kebaktian kita sekarang mungkin kita mendengar berbagai pemberitaan yang lain. Misalnya khotbah yang berisi penghiburan untuk jemaat yang sedang berduka cita, atau pengajaran tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai orang Kristen, atau tentang tanggung jawab orang Kristen dalam kehidupan di masyarakat dan bagaimana menjalin hubungan dengan orang-orang lain yang berbeda keyakinan, dan lain-lain.

  C.      Gereja yang Bersekutu

Di atas sudah dijelaskan bahwa pemberitaan atau kerugma disampaikan dalam konteks ibadah. Itulah yang terjadi dalam kehidupan orang Kristen perdana dan yang biasa kita sebut sebagai “khotbah” sekarang. Dalam Alkitab Perjanjian Baru, kita dapat menemukan 106 kata “memberitakan”.

     Dalam 1 Korintus 1:23 kita menemukan ucapan Rasul Paulus tentang apa atau siapa yang ia beritakan, yaitu, “tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan…” Bagaimana bentuk ibadah yang dilakukan orang-orang Kristen perdana? Apakah ibadah mereka sama dengan ibadah gereja kita sekarang? Ternyata tidak! Ibadah mereka sangat berbeda dengan ibadah yang kita kenal sekarang. Ibadah yang umumnya terdapat di gereja-gereja sekarang sudah berkembang jauh karena berkembangnya pemahaman tentang arti liturgi yang dimiliki oleh masing-masing gereja.

D.      Gereja yang Tidak Membeda-bedakan

            kisah Para Rasul melukiskan kehidupan umat Kristen perdana yang indah. Mereka tidak egois melainkan membagi-bagikan harta mereka kepada semua orang dan hidup dengan secukupnya, sehingga setiap orang dapat hidup dengan cukup pula. Tidak mengherankan apabila dalam ay. 47 dikatakan bahwa “… mereka disukai semua orang”. Orang-orang yang bukan Kristen, yang ada di sekitar mereka dan melihat kehidupan kelompok baru ini, tampak senang dengan mereka.

        Dalam Perjamuan Kasih ini tergambar persekutuan yang sangat erat dan mendalam antara orang-orang Kristen perdana ini. Tidak ada pembeda-bedaan di antara mereka. Orang-orang dari kelas atas bergabung dengan mereka yang dari kelas bawah. Orang seperti Onesimus, seorang budak yang melarikan diri dari rumah tuannya, disapa 71 sebagai anak dan buah hati oleh Rasul Paulus (lih.: Flm.). Dalam Galatia 3:28, Paulus mengatakan, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Sekat-sekat yang memisahkan manusia berdasarkan ras (Yahudi dan Yunani), kelas (hamba dan orang merdeka), maupun jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), kini dihapuskan oleh kasih Yesus Kristus yang mendamaikan kita semua.

E.       Pdt. Dr. Martin Luther King, Jr. dan Perjuangannya

Pdt. Dr. Martin Luther King, Jr. (1929-1968),seorang pendeta Gereja Baptis, adalah seorang tokoh pejuang hak asasi manusia dari Amerika Serikat. Ia berjuang untuk hak-hak orang-orang kulit hitam yang tidak dianggap sebagai manusia yang setara dengan orang-orang kulit putih, karena mereka adalah keturunan budak. Seseorang yang dilahirkan dari pasangan campuran, akan melahirkan keturunan yang selamanya dianggap “cacat”, karena darah pasangan yang berkulit hitam. Ini disebut sebagai “Aturan Setetes Darah”. Artinya, bila ada setetes saja darah orang kulit hitam pada diri seseorang, maka hal itu akan membuatnya tidak layak digolongkan sebagai orang kulit putih.

       Pada masa itu, orang-orang kulit hitam dilarang masuk ke tempat-tempat umum, restoran-restoran yang disediakan khusus untuk orang-orang kulit putih. Gereja mereka pun dipisahkan oleh warna kulit mereka. Ada gereja-gereja yang dikhususkan untuk orang kulit putih yang tidak boleh dimasuki oleh orang kulit hitam. Bila mereka naik bus, mereka harus duduk di belakang. Apabila ada orang kulit putih yang naik ke dalam bus itu, mereka harus berdiri dan memberikan tempat duduk mereka kepada orang itu, Rosa Parks in Montgomery Bus – Iconic Photosmeskipun misalnya yang naik itu seorang laki-laki muda yang sehat dan kuat, dan orang kulit hitam itu seorang perempuan tua rentah dan sakit.

         Pada suatu malam yang dingin di kota Montgomery, Alabama, Amerika Serikat, pada bulan Desember 1955, Rosa Parks, seorang p e r e m p u a n k u l i t hitam, menolak untuk menyerahkan kursinya di bus kepada orang kulit putih yang baru naik. Hari itu ia sangat lelah setelah bekerja seharian Karena itu ia menolak untuk berdiri. “Kamu tidak mau berdiri?” tanya sang sopir. Rosa Parks menatap lurus pada wajahnya dan berkata, “Tidak.” “Kalau begitu,” kata Blake, sopir itu, “saya akan lapor ke polisi dan kamu akan ditahan.” Dan Parks menjawab perlahan, “Silakan.”

 Gambar 3.2 Rosa Parks di bus yang tersegregasi di Montgomer

          Parks ditahan dan didenda $10. Hal ini kemudian memicu gerakan antidiskriminasi besar-besaran di seluruh AS. Pdt. Dr. Martin Luther King, Jr., mengorganisasikan sebuah boikot bus yang kemudian menyebar di seluruh wilayah selatan AS. Selain itu, Pdt. King juga menggerakkan gereja dan orang-orang kulit hitam untuk melawan undang-undang yang menjadikan mereka bukan warga negara. Pada 28 Agustus 1963, ia mengadakan “Mars di Washington”, sebuah unjuk rasa untuk menuntut hak-hak orang kulit hitam untuk pekerjaan dan kemerdekaan. Unjuk rasa ini diikuti antara 200.000 hingga 250.000 orang, kebanyakan orang kulit hitam, tetapi juga ada beberapa ribu orang kulit putih yang bersimpati dengan perjuangan mereka. Dalam “Mars di Washington” itu, Pdt. King menyampaikan pidatonya yang sangat terkenal, yang berjudul “Aku Bermimpi”. Dalam pidatonya itu, ia antara lain mengatakan,

    Pdt. King dibunuh pada 4 April 1968 oleh orang yang membencinya. Namun menjelang ajalnya, King berkata, “Saya memaafkan orang itu.” Perjuangan Pdt. King pada tahun 1950-an hingga 1960-an itu baru terlihat buahnya ketika Barrack Obama, seorang berdarah campuran kulit putih (ibunya) dan Afrika (ayahnya), terpilih menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat terpilih pada tahun 2008. Semua ini rasanya tidak mungkin terjadi apabila Pdt. King tidak berjuang untuk hak-hak asasi orangorang kulit hitam. Ini pun tidak mungkin terjadi, apabila Pdt. King tidak terinspirasi oleh ajaran Tuhan Yesus.

G.     Nyanyian Penutup:

 “Mengasihi Lebih Sungguh” Lewat lagu ini, siswa diajak untuk lebih bersungguh-sungguh lagi dalam mengasihi, mengampuni dan melayani sesama. Ini bukan perintah yang sederhana dan mudah, sebab Tuhan Yesus sendiri mengatakan, “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.

H.     Doa Penutup

Tuhan, ajarlah agar kami rela melakukan kehendak-Mu, apapun yang mungkin terjadi. Tambahkanlah jumlah orang-orang yang berkehendak baik dan yang memiliki kepekaan moral. Berikan kami keyakinan yang diperbarui akan prinsip antikekerasan, dan jalan kasih seperti yang diajarkan oleh Kristus. Amin

Rabu, 01 September 2021

Tugas dan Tanggung Jawab Gereja

Pengertian dan Fungsi Panggilan Gereja 

SMP Kanaan Ungaran
sumber:https://www.google.com/search?q=tri+tugas+gereja+yaitu&sxsrf=AOaemvLd3XFdD8226JOWFNUmK5ITO6ZuHA:1630541784093&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwj329O-gd_yAhXSfn0KHdlyAD0Q_AUoAnoECAEQBA&biw=1242&bih=597#imgrc=8BfarHLviWrQPM


Gereja berasal dari bahasa Portugis, “igreya.” Dalam Perjanjian Baru gereja sebagai tempat persekutuan orang beriman yang disebut ekklesia. Istilah ini umumnya untuk jemaat yang dipanggil berkumpul atau melakukan pertemuan. Panggilan itu ditujukan kepada orang-orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus atau kepada orang-orang yang telah berada dalam persekutuan keselamatanNya. Karena mereka mempunyai tujuan yang khusus, yaitu memberikan atau menyatakan recana keselamatan yang dilakukan oleh Kristus.[1] Setiap orang-orang yang telah dipanggil memiliki tugas dan tanggung jawab di dunia ini. Oleh sebab itu, gereja adalah adalah gereja yang melayani, bersaksi keluar mengenai perbuatan-perbuatan Allah yang meneyelamatkan dengan rendah hati.[2]

Landasan hidup gereja adalah pelayanan yang penuh cinta kasih persaudaraan di antara sesama manusia (Kisah. 4:32). [3] Panggilan dan fungsi gereja bukan hanya mengenai spiritual saja tetapi gereja juga harus mampu menyikapi tantangan jaman ditengah realita kehidupan, politik, ekonomi, kekerasan, hak azasi, gender, ekologi, globalisasi, dan sebagainya.

Tugas dan Tanggung Jawab Gereja

Dalam menjalankan misinya, gereja terpanggil dalam tri tugas yakni koinonia, marturia, dan diakonia. Dalam menjalankan tri tugas gereja tersebut, diharapan akan dapat menyentuh semua aspek umat dan tidak ada yang tertinggal, itulah yang disebut dengan pelayanan holistik. Ketiga tugas gereja tersebut tidak dapat dipisahkan dalam mendukung hakekat gereja yang kudus. Artinya tidak ada yang lebih penting dari antara ketiganya tetapi sama-sama penting dan harus samasama dijalankan dalam menjalankan tugas panggilan gereja.

Koinonia

 Koinonia merupakan hidup kebersamaan orang-orang di dalam iman yang sama yakni pada Yesus Kristus. Dalam persekutuan itu mereka menerima anugerah dari Kristus yang kemudian diteruskan kepada seluruh ciptaan. Koinonia itu adalah Tubuh Kristus yang sekaligus menunjukkan manifestasi karya penyelamatan Allah bagi yang bersekutu. Kononia itu dibentuk oleh pengikut Kristus yang selalu menghadapi hal-hal yang diketahui. Persekutuan yang dimaksud bukanlah persekutuan biasa, seperti yang kita lihat dan kenal dalam masyarakat. Persekutuan ialah persekutuan “yang penuh” yang timbul oleh iman bersama dari anggotaanggotanya kepada Kristus.[4] 

Marturia

Marturia berarti kesaksian, saksi itu dipanggil untuk memberi kesaksian. Sebagai saksi, maka bukanlah orang yang memberi kesaksian tersebut menjadi pusat perhatian, tetapi Dia yang disaksikan. Tujuan memberi kesaksian bukanlah untuk kemuliaan atau kepentingan diri sendiri, bukan pula untuk kebenaran atau keadaan diri sendiri, tetapi siapa yang disaksikan. Dalam dunia Kristen modern ‘kesaksian’ berarti menceritakan tentang apa yang dikerjakan Kristus atas hidup seseorang menjadi pengalaman orang lain.[5]

Tugas marturia sering dipahami dalam arti sempit sebagai penginjilan kepada non-kristen. Tetapi merujuk pada makna marturia dalam Perjanjian Baru, penginjilan hanyalah salah satu bagian dari marturia. Tugas panggilan marturia mencakup kesaksian dalam ajaran yang benar dan tindakan yang benar-benar mengacu pada firman Tuhan. Tugas marturia juga menyangkut keterbukaan gereja secara positif, kritis dan teologis terhadap berbagai kenyataan kehidupan.[6]

Diakonia (Pelayanan)

Diakonia mencakup arti yang luas, yaitu semua pekerjaan yang dilakukan dalam pelayanan bagi Kristus di jemaat, untuk membangun dan memperluas jemaat, oleh mereka yang dipanggil sebagai pejabat dalam tugas-tugas gereja dan oleh anggota jemaat biasa. Dalam diakonia secara luas ini terdapat tempat diakonia dalam arti khusus, yaitu memberi bantuan kepada semua orang yang mengalami kesulitan dalam kehidupan masyarakat. [7]Apa yang kita pahami dari bahasan ini menjadi jelas maksud dari melayani di dalam jemaat. Setiap karunia atau kharisma merupakan pemberian yang dipercayakan kepada setiap orang dengan maksud supaya mereka yang mendapat karunia itu memamfaatkannya dan menggunakan karunia yang Tuhan berikan untuk melayani Tuhan. Yesus menyimpulkan: “bahwa Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberi nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28).



[1] Herman Cremer, Biblico-Theological Lexicon of the New Testament Greek (Edinburrgh & New York: T&T Clark & Charles Sribner’s Sons, 1891), 332

[2] Anreas A. Yewangoe, Tidak Ada Gheto: Gereja di dalam Dunia (Jakarta: BPK-Gunung Mulia & Litkom PGI, 2009), 4

[3] T. Kacobs, Dinamika Gereja (Yogyakarta: Kanisius dan Nusa Indah, 1979), 36.

[4] 5 J.L. Ch. Abineno, Pedoman Praktis Untuk Pelayanan Pastoral (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 71.

[5] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini” (Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF, 1996), 340.

[6] Viktor Tinambunan, Gereja & Orang Percaya (Pematang Siantar, LSAPA STT HKBP, 2006), 65.

[7] A. Noordegrraaf, Orientasi Diakonia Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 34.


Minggu, 08 Agustus 2021

Bertumbuh Sebagai Keluarga Allah Bacaan Alkitab: Yohanes 15:1-8; Lukas 8:4-15, Mazmur 1:1-6

 

Bertumbuh Sebagai Keluarga Allah
Bacaan Alkitab: Yohanes 15:1-8; Lukas 8:4-15, Mazmur 1:1-6


Mapel    : PAKBP

Kelas    : XI MM-OTKP

Guru    : Vita Ria Pratiwi, S.Pd

KD 3.1 Memahami peran Allah dalam kehidupan keluarga
KD 4.1 Bersaksi tentang peran Allah dalam keluarganya


1. Bertumbuh Sebagai Keluarga Allah




A.          Keluarga yang Bertumbuh

    Apa yang kamu pahami dengan bertumbuh sebagai keluarga Allah?

Bertumbuh sebagai keluarga Allah berarti keluarga bertumbuh di dalam Kristus yang mempunyai makna lebih mengenali Dia, lebih mengasihi dan menaatiNya. Keluarga Kristen merupakan pusat dan tujuan dari perjanjian Allah, yakni untuk menjadi saksi bagi dunia. Karena itu di dalam anugerah Allah, kita sebagai anggota keluarga Kristen harus melakukan yang terbaik dalam membangun keluarga yang berkenan kepada Allah. Keluarga yang berkenan kepadaNya adalah keluarga yang berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus. Seperti pengajaran Tuhan Yesus yang menggambarkan bahwa Allah memiliki tujuan yang jelas bagi setiap manusia ciptaanNya termasuk keluarga, yaitu agar umat manusia bertumbuh, lalu menghasilkan buah (Yohanes 15:1-8).


a.    Berakar

Berakar menunjuk pada pohon dan tanaman lain yang akarnya tertancap jauh di dalam tanah. Akar berfungsi untuk memungkinkan tanaman bertahan hidup dan untuk memperkuat atau memperkokoh berdirinya satu tanaman.

Sama halnya dengan keluarga yang berakar dalam Kristus, sumber kehidupan. Keluarga yang mendasarkan dan menjadikan Kristus sebagai fondasi dalam kehidupan keluarga, dan membiarkan Kristus menjadi Kepala keluarga yang memimpin kehidupan keluarga. Dengan demikian, keluarga akan mampu menghadapi setiap persoalan hidup yang menerpanya.

Keluarga yang berakar dalam Kritus juga berarti:

1)     Menjadikan firman Allah sebagai tempat tinggal keluarga.

2)     Menyampaikan pengalaman atau kesaksian iman para leluhur kepada anggota keluarganya.

    

    b.    Bertumbuh

Tanaman dikatakan bertumbuh apabila ia menampakkan perubahan. Kunci untuk bertumbuh bagi keluarga Kristen adalah mempelajari firman Tuhan, memperkatakan firman Tuhan dan melakukan firman Tuhan dalam hidup sehari-hari.

Beberapa aspek pertumbuhan dalam keluarga adalah sebagai berikut:

1) Keluarga sebagai tempat bernaung kudus, artinya keluarga memberi perlindungan terhadap nilai-nilai yang merusak budaya keluarga.

2) Keluarga yang menyambut kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menghadirkan simbol atau objek yang dapat mengingatkan kehadiran Allah (salib, gambar Kristen, lagu rohani, dan lain-lain).

3) Keluarga yang mencari tuntunan Allah yang dilakukan dalam berbagai pertemuan dan kebaktian keluarga

4) Keluarga yang menopang kehidupan religius/rohani masing-masing anggota keluarga.


Terdapat hambatan yang menyebabkan orang tidak bertumbuh, yaitu banyak orang Kristen datang beribadah dan sangat senang mendengar khotbah, namun hanya sekedar untuk kepuasan intelektual, tanpa memiliki sukacita dan kerinduan yang besar untuk mempraktekkannya dalam kehidupan. Hambatan lain adalah responnya terhadap firman Tuhan.

    c.   Berbuah

Seperti pohon yang menghasilkan buah, kehidupan keluarga kita pun harus menghasilkan buah kalau kita sudah berakar dan bertumbuh sebagai keluarga Allah. Buah yang dikehendaki Allah untuk dihasilkan oleh keluarga adalah melakukan kehendakNya sehingga keluarga menjadi kesaksian bagi sesama di dunia ini. Buah yang dihasilkan dalam keluarga dapat berupa:

1)     Pencerminan kasih Allah dalam kehidupan sebagai perwujudan nyata realisasi keluarga Allah.

2)     Penerimaan dan komitmen dalam keluarga untuk mengasihi tanpa syarat.

3) Pengukuhan dan dorongan antar anggota keluarga untuk menemukan kelebihan dan bakat masing-masing sebagai karunia Tuhan.


B.   Penutup

Rangkuman

1.    Berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus adalah suatu hal yang diinginkan Tuhan terjadi pada setiap manusia ciptaanNya, termasuk keluarga. Individu dan keluarga tidak dapat bertumbuh dan berbuah kalau tidak berakar di dalam Kristus. Bertumbuh dalam hubungan dengan Kristus mempunyai makna lebih mengenali Dia, lebih mengasihi dan menaatiNya.

2.    Bertumbuh sebagai keluarga Allah berarti bertumbuh dalam pengenalan akan Allah melalui karyaNya, firmanNya dan pengorbanan AnakNya sebagai korban tebusan keselamatan bagi umat manusia.


Gbu all...

Kamis, 05 Agustus 2021

Hidup Berpengharapan

 

Modul 2

Mapel

Pendidikan Agama Kristen & Budi Pekerti

Kelas/Semester

VIII / Semester 1

Tema

BAB 2 - Hidup Berpengharapan

Pembukaan

Shalom anak – anak kelas depalan, berjumpa kembali dengan pelajaran Pendidikan Agama Kristen & Budi Pekerti. Untuk modul 2 kali ini kita akan membahas u  materi Bab 2 – Hidup Beriman. Namun sebelumnya kita berdoa terlebih dahulu supaya Tuhan menyertai belajar kita.

Tujuan pembelajaran

Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:

ü Memahami makna hidup berpengharapan

ü Membandingkan ciri-ciri orang hidup berpengharapan dan tidak berpengharapan

ü Menunjukkan contoh perilaku berpengharapan

ü Menjabarkan pentingnya memiliki pengharapan

ü Menggali penyambutan Simeon atas kelahhiran tuhan Yesus dalam Injil Lukas 2:23

 

Kegiatan Pembelajaran

 

Kegiatan 1 : Memuji Tuhan “ Pelangi kasihNya” dan membaca cerita Ibu Monika dan keluarganya.

 

Kegiatan 2 : Melakukan pendalaman Alkitab Lukas 2:23 – 32 ; belajar dari Simeon

 

Kagiatan 3 : Doa pentutup dan mengerjakan LKPD

Materi

A.   Membaca Cerita

Di kota Thagaste, Afrika Utara, tinggallah keluarga dengan tiga orang  anak. Sang ibu bernama Monika. Ia adalah seorang Kristen yang taat. Sementara sang bapak bernama Patrisius, seorang pejabat tinggi di pemerintahan yang membenci kekristenan. Tak segan-segan ia mencemooh istrinya bila hendak mengajarkan iman Kristen kepada anak-anaknya. Di bawah pengaruh buruk sang bapak, anak sulungnya hidup dalam pesta pora, foya-foya, dan pergaulan bebas. Walaupun sang ibu terus menasihatinya, anak itu tetap saja bandel.

Melihat perilaku anak sulungnya, Monika merasa sangat sedih. Segala cara sudah ia coba untuk menyadarkan anak sulungnya. Namun, Monika selalu gagal, tapi, ia tidak putus asa. Dengan sabar, ia terus berusaha membimbing anaknya.     Ia juga tidak pernah putus berdoa bagi anak dan suaminya. “Kiranya Tuhan yang mahabaik dan mahakasih, melindungi dan membimbing suami dan putraku ke jalan yang benar dan dikehendaki-Nya,” demikian ia berdoa. Doa itu ia naikkan bertahun-tahun lamanya dengan tekun dan tabah.

Suatu hari Patrisius sakit keras. Sesaat sebelum meninggal dunia, ia bertobat dan meminta agar dibaptis. Sayangnya, hal tersebut tidak membuat anak tertuanya berubah. Ia tetap hidup dalam dunia kelam, tidak mau bertobat dan terus menyakiti hati ibunya. Hingga suatu saat sang anak memutuskan untuk meninggalkan ibunya dan pergi ke Italia. Hati Monika benar-benar hancur. Ia begitu sedih harus berpisah dari anaknya apalagi di usianya yang ke-29 tahun, anaknya belum berubah. Monika tidak kehilangan pengharapan. Ia terus mendoakan anaknya.

Saat itu pun tiba. Di Italia, tepatnya di Kota Milan, sang anak bertemu dengan Uskup Ambrosius yang kemudian membimbingnya secara pribadi. Akhirnya tepat pada 24 April 387, doa Monika yang dinaikkan lebih dari 20 tahun itu akhirnya terjawab. Hari itu, anaknya memberikan diri untuk dibaptis, memutuskan hidup baru, dan bertobat untuk kemudian meninggalkan dosa-dosanya.

Tujuh bulan kemudian, sang anak kembali ke Afrika Utara dan menjadi Uskup di Hippo pada usia 41 tahun. Sang anak adalah Agustinus, yang kemudian dikenal sebagai seorang Bapa Gereja yang disegani dan dihormati. Seseorang yang kemudian sangat berpengaruh dalam sejarah gereja. Terima kasih kepada Ibu Monika, yang tidak pernah kehilangan pengharapan dan tak sekalipun putus asa untuk mendoakan anaknya. Pengharapan yang mengubah hal yang sebelumnya mustahil menjadi kenyataan. (Sumber: Augustine of Hippo oleh Peter Brown, 1967).

 

B.    Belajar dari tokoh Simeon ( Lukas 21 : 23 – 32)

 

Ada seorang bernama Simeon. Lukas menyebut Simeon sebagai “seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel” (Lukas 2:25). Ia dengan setia terus beribadah kepada Tuhan, berdoa, menyembah, dan melayani Tuhan di Bait Allah. Simeon percaya saatnya akan tiba bagi Allah untuk memenuhi janji-Nya. Kepercayaan yang terus dipegang dan dipeliharanya sampai masa tuanya.

Tentu tidak mudah bagi Simeon untuk terus mempertahankan keyakinannya itu. Apalagi di tengah ketidakjelasan nasib bangsanya, juga keadaan fisiknya yang semakin menurun karena usia lanjut. Akan tetapi, Simeon tetap berpengharapan Ia tetap teguh meyakini bahwa ia akan melihat Sang Mesias yang ditunggu- tunggu itu (Lukas 2: 26).

Pengharapan Simeon tidak sia-sia. Suatu hari, Roh Kudus menggerakkan hatinya

untuk datang ke Bait Suci. Di sana, ia bertemu dengan Maria dan Yusuf yang sedang membawa bayi Yesus. Sebagaimana aturan dalam hukum Taurat, beberapa hari setelah dilahirkan, setiap bayi laki-laki harus dibawa ke Bait Suci untuk diserahkan kepada Allah.

Begitu melihat bayi Yesus, Simeon segera menggendong-Nya. Sambil memuji Allah ia pun berseru,“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Lukas 2:29-32). Pujian ini adalah ungkapan sukacita Simeon bahwa ia boleh mengalami bagaimana janji Allah digenapi, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi seluruh umat Israel.

 

 

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

 

Amatilah peristiwa – peristiwa yang ada diseiktarmu, kemudian tulisakan di bawah ini lima ciri hidup orang yang memiliki harapan, dan kolom satunya diisi dengan lima ciri hidup orang yang tidak memiliki harapan.

 

Ciri hidup berpengharapan

L Ciri hidup tidak berpengharapan

1.        

 

2.        

 

3.        

 

4.        

 

5.        

 

 

*ketentuan tugas disesuaikan dengan keadaan siswa masing – masing sekolah.

SENI TARI KELAS 9

Tari Kreasi kelas 9