Materi Pendidikan Agama Kristen
Senin, 21 Maret 2022
Minggu, 13 Maret 2022
Bab IX Dampak Modernisasi Bagi Keluargaku Bahan Alkitab: 1 Samuel 1: 1-16, Efesus 5: 22-33
Penjelasan Bab IX Dampak Modernisasi Bagi Keluargaku Bahan Alkitab: 1 Samuel 1: 1-16, Efesus 5: 22-33
SMK KANAAN UNGARAN
vita ria p., S.Pd
Kompetensi Dasar:
1.2. Menghayati nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan keluarga agar siap menghadapi gaya hidup modern
2.2. Mewujudkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan untuk menghadapi gaya hidup modern
3.2. Menjelaskan pentingnya nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan keluarga untuk menghadapi gaya hidup modern
4.2. Berperan aktif mewujudkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan keluarga untuk menghadapi gaya hidup modern
Indikator:
•Menjelaskan pengertian modernisasi
• Mendeskripsikan dampak modernisasi bagi kehidupan keluarga
• Menjelaskan pengaruh modernisasi bagi kehidupan keluarga
• Memaknai peran keluarga sebagai bejana tanah liat ditengah dampak modernisasi
• Mengamati sikap keluarga peserta didik dalam menanggapi laju modernisasi
A. Pengantar
Modernisasi merupakan produk peradaban abad 20 dari dunia Barat yang dampaknya masih dirasakan sampai sekarang. Proses modernisasi yang berlangsung di Indonesia membuat bangsa ini termasuk keluarga-keluarga Kristen memiliki kecenderungan untuk terjebak dalam dampak negatif dari proses yang terus berlangsung. Berdasarkan latar belakang tersebut maka pembelajaran pada bagian ini bertujuan untuk memperkenalkan remaja dengan istilah modernisasi, apa dampaknya bagi kehidupan keluarga Kristen dan bagaimana keluarga pada kurun waktu dewasa ini harus menghayati dan memaknai peran mereka di tengah arus modernisasi yang sedang berlangsung. Melalui pembelajaran tersebut selanjutnya peserta didik diharapkan dapat mencapai beberapa indikator yang telah diuraikan di atas.
B. Uraian Materi
1. Pengertian Modernisasi
Di kalangan para ahli berkembang berbagai macam pengertian mengenai modernisasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia modernisasi dimengerti sebagai sebuah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. J.W Schrool (1998) mengungkapkan bahwa modernisasi merupakan penerapan pengetahuan ilmiah pada semua kegiatan, bidang kehidupan, dan aspek kemasyarakatan. Aspek yang paling menonjol dari proses modernisasi adalah perubahan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang tinggi.
William E. More (2003) mengungkapkan bahwa modernisasi adalah transformasi total kehidupan bersama dalam bidang teknologi, organisasi sosial, dari yang tradisional kearah pola-pola ekonomis dan politis yang didahului oleh negara-negara Barat yang telah stabil. Koentjaraningrat (1996) mengungkapkan bahwa modernisasi adalah usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan keadaan dunia sekarang. Sedangkan Soerjono Soekanto (1998) mengatakan bahwa modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial yang biasanya terarah dan didasarkan pada suatu perencanaan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya modernisasi adalah sebuah proses pergeseran yang terjadi kepada individu maupun masyarakat secara holistik sesuai dengan tuntutan zaman modern yang di dalamnya mengungkapkan semangat untuk hidup, bersikap, berpikir secara efektif, efisien, praktis, sederhana, menghargai kehidupan dan menghargai waktu.
2. Dampak Modernisasi bagi Kehidupan Keluarga
Dampak yang paling mendasar dari modernisasi bagi keluarga adalah perubahan fungsi dalam keluarga, mulai dari fungsi pendidikan, fungsi sosialisasi anak, fungsi perlindungan, fungsi perasaan, fungsi agama, fungsi ekonomi, fungsi rekreatif, fungsi biologis, sampai pada fungsi memberikan status sosial. Hal tersebut dapat diidentifikasi di lingkungan kita, akan dijelaskan dibawah ini:
Pertama adalah perubahan fungsi dalam bidang pendidikan. Keluarga yang dahulu bertanggungjawab dalam melatih anak pada usia dini dalam hal fisik, mental dan spiritual. Pada zaman modern fungsinya sudah mulai digeser oleh lembagalembaga pendidikan anak usia dini. Keluarga yang dahulu berfungsi memberikan pengetahuan tambahan dalam hal kognitif, tentang pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah kini fungsinya mulai digeser oleh lembaga-lembaga bimbingan belajar. Namun seiring dengan perkembangan yang terus berjalan fungsi keluarga dalam bidang pendidikan mulai terlihat kembali dengan munculnya model homeschooling.
Kedua adalah fungsi sosialisasi anak. Keluarga yang dahulunya bertugas untuk membentuk kepribadian anak, serta memperkenalkan pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sosial-masyarakat. Pada zaman modern perannya mulai digeser oleh lembaga-lembaga training yang menawarkan jasa pembentukan kepribadian, lembaga-lembaga konseling psikologis yang menawarkan jasa untuk mengetahui bakat dan minat melalui tes psikologi.
Ketiga adalah fungsi perlindungan. Keluarga yang dahulunya bertugas untuk memberikan tempat yang nyaman bagi anggota keluarga dan memberikan perlindungan secara fisik, ekonomi maupun psikologi bagi seluruh anggotanya. Pada zaman modern fungsinya mulai digeser oleh lembaga-lembaga yang menawarkan jasa-jasa asuransi.
Keempat adalah fungsi perasaan, keluarga yang dahulunya bertugas
memberikan rasa seperti keintiman, perhatian dan rasa aman yang tercipta dalam
keluarga. Pada zaman modern perannya sudah mulai di geser oleh baby-sitter, day
care, dan lain sebagainya.
Kelima adalah fungsi agama, keluarga yang dahulunya mendorong perkembangan seluruh anggota menjadi insan beragama yang penuh ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta menunjukkan penghayatan dan perilaku nilai-nilai agama. Pada zaman modern perannya sudah mulai digeser oleh guruguru spiritual yang menawarkan jasa serupa.
Keenam adalah fungsi ekonomi. Keluarga yang dahulunya bertugas untuk mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pada zaman modern perannya sudah mulai diganti oleh perencana keuangan.
Ketujuh adalah fungsi rekreatif. Keluarga yang dahulunya berfungsi untuk mencari hiburan, memberikan suasana yang segar dan gembira dalam lingkungan keluarga. Pada zaman modern perannya sudah mulai digeser oleh, media cetak, elektronik, media social, time-zone, game-online.
Kedelapan adalah fungsi biologi. Keluarga yang dahulunya bertugas untuk pemenuhan kebutuhan biologis dan seks suami istri untuk menghasilkan keturunan, memenuhi kebutuhan gizi keluarga, serta memelihara dan merawat anggota keluarga secara fisik. Pada zaman modern fungsinya sudah mulai digeser oleh tempat-tempat prostitusi, dokter keluarga, bayi tabung, kloning.
Kedelapan adalah fungsi biologi. Keluarga yang dahulunya bertugas untuk pemenuhan kebutuhan biologis dan seks suami istri untuk menghasilkan keturunan, memenuhi kebutuhan gizi keluarga, serta memelihara dan merawat anggota keluarga secara fisik. Pada zaman modern fungsinya sudah mulai digeser oleh tempat-tempat prostitusi, dokter keluarga, bayi tabung, kloning.
Kesembilan adalah fungsi memberikan status sosial. Keluarga yang dahulunya bertanggung jawab mewariskan kedudukan kepada anak-anaknya. Pada zaman modern fungsinya sudah mulai digeser oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi.
3. Pengaruh dari Dampak Modernisasi bagi Kehidupan Keluarga
Pada dasarnya dampak dari modernisasi seperti yang telah dijelaskan di atas dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif dalam keluarga termasuk keluarga Kristen. Pengaruh positif dari dampak modernisasi menurut Alex Inkeles (1999) adalah membentuk anggota keluarga menjadi pribadi yang menerima dan terbuka pada hal-hal baru, berani menyatakan pendapat, menghargai waktu, memiliki orientasi pada masa depan bukan masa lalu, memiliki perencanaan dan pengorganisasian. Banyak produk dari keluarga modern yang memiliki rasa percaya diri, perhitungan, menghargai harkat hidup manusia lain, percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi, menjunjung sikap imbalan harus sama dengan prestasi kerja.
Di samping pengaruh positif, juga di temukan pengaruh negatif yang dihasilkan sebagai dampak modernisasi di atas, di antaranya adalah membentuk seseorang untuk memiliki kecenderungan berpikir dan bersikap pragmatis. Sikapnya terhadap alat-alat modern, terlalu menggantungkan diri pada alat-alat tersebut. Bahkan ada sebagian orang yang menganggap modernisasi dianggap sebagai allah dan dijadikan sebagai tuhan, dan menghilangkan fungsi-fungsi vital keluarga. Modernisasi juga menyebabkan meningkatnya arus urbanisasi, meningkatnya kesenjangan sosial antara keluarga berkemampuan tinggi dan rendah. Pada saat yang sama tingkat pencemaran lingkungan yang diakibatkan limbah-limbah rumah tangga semakin tinggi. Dalam lingkup keluarga muncul kriminalitas dan kenakalan remaja. Juga meningkatnya perilaku menyimpang pada remaja dan orang tua.
4. Keluarga Kristen sebagai “Bejana Tanah Liat” di tengah Dampak Modernisasi
Berdasarkan pemahaman yang menyatakan bahwa modernisasi adalah sebuah proses yang terus berubah atau bergeser menuju pada semangat yang terkandung di dalamnya dan beberapa aspek penting yakni: efektivitas, efisien, praktis,sederhana, menghargai kehidupan dan menghargai waktu. Oleh karena itu, maka keluarga Kristen perlu mengembangkan sikap yang memadai yakni terbuka dan mau menerima dari semua pihak termasuk keluarga terhadap setiap proses perubahan yang diusung oleh zaman modern. Oleh karena itu sepertinya model keluarga sebagai “bejana tanah liat” yang dicetuskan oleh Marjorie Thomson (2000) dapat menjadi rujukan pembelajaran bagi keluarga peserta didik.
Pada dasarnya keluarga sebagai tanah liat ini, esensinya adalah keluarga memiliki sikap dan pemikiran yang tidak kaku, cenderung terbuka, dan dapat menerima perubahan. Keluarga dapat dan bisa dibentuk ulang untuk menerapkan model tersebut. Pada intinya masing-masing anggota keluarga harus menyadari bahwa mereka adalah insan-insan yang tidak sempurna, sehingga menyediakan diri untuk dibentuk oleh Allah dalam setiap tantangan. Dengan keterbukaan yang dimiliki tersebut, keluarga diharapkan dapat lebih menyerap semangat-semangat positif yang ingin dicapai oleh zaman modern. Melalui modernisasi keluarga juga dapat memanfaatkan aspek-aspeknya untuk sarana pengembang iman.
Ayat Mas hari ini!
Efesus 2:19
1. Lengkapilah bagian yang kosong di bawah ini! Demikianlah kamu bukan lagi _______ dan pendatang, melainkan ________ dari orang- orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah
2. Secara bergantian dengan teman sebangku, hafalkanlah ayat tersebut!
3. Pahami dan refleksikanlah makna ayat tersebut bagi anda!
Terimakasih.
Minggu, 20 Februari 2022
Menjadi Pelaku Kasih dan Perdamaian Bahan Alkitab: Yeremia 6:1-21; Matius 5:9; Roma 12:18
Nama: Vita Ria Pratiwi, S.Pd
Kelas: XII MM & OTKP
SMK KANAAN UNGARAN
Mengupayakan Kondisi Damai Sejahtera
1. Konflik di Indonesia Berbagai konlik pernah dan masih berlangsung di Indonesia hingga saat ini. Kita dapat mencatat konlik pada awal pembentukan Republik Indonesia dalam bentuk PRRI, Permesta, Darul Islam, dan lain-lain. Di Aceh dan Papua terjadi konlik karena masyarakat setempat merasa bahwa kekayaan alam mereka dikuras sementara rakyat sendiri tidak mencicipi hasilnya. Di Kalimantan pernah terjadi konlik antara suku Dayak dan Melayu melawan suku Madura yang dianggap terlalu menguasai sumber-sumber ekonomi masyarakat dan tidak menghargai masyarakat setempat. Di Maluku, Halmahera, Poso, terjadi konlik-konlik yang diduga terutama didasarkan oleh perebutan kekuasaan sosial-politik dan ekonomi namun kemudian ditutupi dengan alasan-alasan agama (Trijono, Dewi, & Qodir, 2004; Manuputy & Watimanela, 2004).
Konlik juga pernah terjadi karena masalah rasial, seperti yang pernah dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia. Sepanjang sejarah bangsa ini baru pertama kali penganiayaan, pemerkosaan, dan pembunuhan dialami oleh ratusan perempuan Tionghoa pada Tragedi Mei 1998. Peristiwa tersebut merupakan awal keruntuhan pemerintahan Orde Baru.
Ada pula konlik-konlik yang terjadi karena alasan-alasan agama. Wujudnya berupa perusakan dan penghancuran rumah-rumah ibadah dan berbagai fasilitas yang terkait; penangkapan dan pembunuhan terhadap umat dan tokoh agama lain; halangan dan larangan bagi umat beragama tertentu untuk menjalankan ibadah dan kehidupan keagamaannya.
Kejadian-kejadian seperti yang digambarkan tersebut sering kita temukan di surat kabar maupun media massa lainnya. Sekelompok orang menganggap dirinya, ajarannya, agama yang dipeluknya sebagai yang paling benar dan satu-satunya yang memiliki hak hidup, sementara yang lainnya harus ditutup, dilarang, bahkan kalau perlu dihancurkan. Kehadiran orang lain yang berbeda ras, suku, bahasa, kelas sosial, agama, pemikiran, pendapat, dan lainlain seringkali memang menimbulkan rasa gelisah, rasa terganggu, bahkan terancam
2. Konlik Antara Manusia dan Kerusakan Alam
Perebutan sumber-sumber alam yang terbatas telah menyebabkan konlik antarmanusia. Sebaliknya, konlik antarmanusia juga telah menyebabkan rusaknya alam semesta. Di masa Perang Vietnam, AS menjatuhkan apa yang disebut “agen oranye”, yaitu zat-zat kimia yang dimaksudkan untuk menghancurkan tumbuhtumbuhan di permukaan tanah sehingga tentara dan gerilyawan Vietkong tidak dapat bersembunyi di hutan-hutan. Agen orange ternyata tidak hanya mematikan pohon-pohon dan semak, tetapi juga mengakibatkan kerusakan pada manusia. Banyak orang yang dilahirkan dengan cacat tubuh dan wajah karena pengaruh “agen oranye” yang masuk lewat ibu yang mengandung mereka.
Ancaman yang paling hebat yang dihadapi umat manusia sudah tentu adalah bom nuklir yang kini semakin luas penyebarannya di seluruh dunia. Bom nuklir yang kekuatannya ribuan kali bom atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki berpotensi menghancurkan manusia, hewanhewan, tumbuhan, dan seluruh alam kita. Kini bom nuklir pun ditemukan di negara-negara Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Inggris, China, India, Korea Utara, Pakistan, dan Israel. Kemungkinan, Iran juga memilikinya walaupun belum diberitakan secara resmi.
Bagi bangsa Indonesia, ancaman lain dari konlik yang terjadi dan tidak diselesaikan dengan baik, adil dan tidak memihak adalah kehancuran negara dan bangsa yang pluralistik ini. Keberadaan bangsa kita yang sejak awal pembentukannya disadari harus mengakomodasi semua perbedaan, sangat ditentukan oleh kesediaan kita semua untuk mengakui semboyan bangsa kita, yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”. Tanpa kesediaan ini, akan sulit bagi bangsa kita untuk terus melangkah sebagai suatu kesatuan yang utuh.
3. Dialog Antariman
Sebuah cara yang sangat baik untuk membangun saling pengertian dan saling menerima di antara masyarakat kita yang pluralistik ini adalah dengan ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan dialog antariman. Dalam kegiatan ini melibatkan orang tua maupun muda untuk melakukan pertemuan-pertemuan dialogis maupun kerja sama dengan saudara-saudara mereka yang datang dari latar belakang etnis, suku, kelas sosial, dan keyakinan yang berbeda-beda. Di Jakarta ada sebuah organisasi yang dinamai “Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Beragama” yang didirikan dengan tujuan seperti di atas. Dalam situs internetnya, dikatakan bahwa“Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Beragama (WKPUB) bertujuan untuk membangun persaudaraan yang sejati melalui kerja sama lintas agama dengan berbagai komunitas umat beragama, utamanya di wilayah Jakarta Timur dan sekitarnya. Wadah ini bergerak di tingkat akar rumput dengan berbagai kegiatan yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kegiatan-kegiatan seperti di atas tentu akan sangat membantu setiap kelompok untuk lebih saling mengerti kelompok yang lain, menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi rasa curiga. Sebaliknya, mendorong semua pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan rasa damai dan pelayanan bagi pihak-pihak yang sangat membutuhkan.
Dalam Amsal 16:7 dikatakan, “Jikalau Tuhan berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itu pun didamaikan-Nya dengan dia.” Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa untuk hidup damai dengan sesama kita, bahkan dengan musuh kita, kita harus hidup dalam jalan yang diperkenan Tuhan. Itu berarti kita didorong, diharapkan, bahkan diwajibkan hidup dalam damai sejahtera Allah dengan sesama kita, bahkan juga dengan orang-orang yang membenci kita.
Surat Roma 12:18 mengingatkan kita: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Surat ini ditulis kepada jemaat Kristen di kota Roma. Mereka hidup sebagai kelompok minoritas di tengah-tengah mayoritas yang tidak mengenal Kristus dan bahkan memusuhinya. Kepada jemaat ini, Rasul Paulus menasihati agar mereka berusaha sedapat mungkin untuk hidup dalam perdamaian dengan orang lain. Mereka tidak perlu takut dan khawatir akan status mereka sebagai kelompok minoritas, melainkan berusaha secara aktif membangun jembatan penghubung antara mereka dengan orang lain, sehingga terciptalah saling pengertian dan keharmonisan di dalam masyarakat.
Roma 12:20 lebih jauh berkata demikian: “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” Berdasarkan ayat ini kita belajar bahwa usaha menghadirkan damai sejahtera harus dimulai dari diri kita sendiri. Dengan mengusahakan perdamaian, dengan memberikan makan dan minum bagi mereka yang membutuhkan, bahkan bagi orang-orang yang membenci kita sekalipun, kita akan mampu menghadirkan kehidupan bersama yang damai.
RANGKUMAN
Kasih dan perdamaian tidak dapat hadir dengan sendirinya. Kita masing-masing perlu memulainya. Kita perlu mengembangkan kebiasaan hidup yang mewujudkan kasih dan perdamaian. Rangkaian konlik, kekerasan, dan kebencian di dunia perlu diputuskan. Membangun jembatan perdamaian dan saling pengertian adalah sebuah langkah konkret untuk mengusahakan terciptanya kasih dan perdamaian di dunia ini.
Kabar Baik di Tengah Kehidupan Bangsa dan Negara Bahan Alkitab: Mazmur 137; Nehemia 2: 1-20
Penerapan Damai Sejahtera di Indonesia
Pemantapan dan Aplikasi
RANGKUMAN
Damai Sejahtera Menurut Alkitab Bahan Alkitab: Imamat 26:1-46; Yohanes 14:23-31
Nama: Vita Ria Ptariwi, S.Pd
Kelas : XII MM & OTKP
SMK KANAAN UNGARAN
Pengertian Damai Sejahtera Menurut Alkitab
Dalam kitab Imamat 26:1-46 dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
(1). Ayat 1-13 memuat janji-janji berkat dan penyertaan Allah bila bangsa Israel taat dan menjalankan perintah-perintah-Nya. Hal ini terlihat dalam ayat 6:“Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apa pun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu.”
(2). Ayat 14-39 memuat peringatan akan penghukuman Allah jika bangsa Israel lalai atau menyimpang dari perintah-perintah Allah. Peringatan ini kita temukan dalam ayat14-19“Tetapi jikalau kamu tidak mendengarkan Daku, dan tidak melakukan segala perintah itu,... maka ... Aku akan mendatangkan kekejutan atasmu... Aku sendiri akan menentang kamu, sehingga kamu akan dikalahkan oleh musuhmu, ... Aku akan lebih keras menghajar kamu sampai tujuh kali lipat karena dosamu, ... dan Aku akan mematahkan kekuasaanmu yang kaubanggakan dan akan membuat langit di atasmu sebagai besi dan tanahmu sebagai tembaga.”
(3). Ayat 40-46 berisi janji-janji Allah untuk mengampuni dan menerima mereka kembali sebagai umat-Nya. Allah itu setia, dan selalu ingat akan perjanjian-Nya dengan leluhur Israel. Seperti yang dikatakan Allah, “Tetapi bila mereka mengakui kesalahan mereka dan kesalahan nenek moyang mereka dalam hal berubah setia yang dilakukan mereka terhadap Aku ... maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub; juga perjanjian dengan Ishak dan perjanjian-Ku dengan Abraham pun akan Kuingat dan negeri itu akan Kuingat juga”(ayat 40-42).
Secara singkat, dapat kita simpulkan bahwa baik Imamat maupun Injil Yohanes mengingatkan kita bahwa ketaatan untuk melakukan apa yang telah diperintahkan Tuhan kepada kita akan menghadirkan damai sejahtera. Dengan kata lain, damai sejahtera tidak akan hadir begitu saja kecuali melalui kerja keras kita dalam memberlakukan kehendak Allah di dalam seluruh kehidupan dan keberadaan kita, baik secara pribadi maupun sebagai gereja.
Memahami Makna “Syalom”
Kata syalom dalam bahasa Ibrani biasanya diterjemahkan menjadi ”damai” atau ”damai sejahtera”. Dalam bahasa Yunani, bahasa yang digunakan dalam penulisan Perjanjian Baru, kata ini diterjemahkan menjadi eirene. Kata syalom atau “damai sejahtera” sering dipergunakan untuk memberikan salam kepada sesama. Dalam bahasa Ibrani orang mengucapkan syalom aleikhem, yang artinya “damai sejahtera bagimu”. Ucapan ini dijawab dengan kata-kata aleikhem syalom. Kata ini mirip sekali dengan kata “salam alaikum” atau “assalamu alaikum” dan “wa alaikum salam” dalam bahasa Arab, bukan? Kita tidak perlu heran. Bahasa Arab memang berasal dari rumpun yang sama dengan bahasa Ibrani seperti halnya bahasa Tagalog dengan bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab kata syalom diterjemahkan menjadi salam, kata yang sama yang dipergunakan dalam bahasa Indonesia yang sangat diperkaya oleh kosakata dari bahasa Arab karena pengaruh agama Islam. Kata ini dapat kita bandingkan dengan salam Horas! di kalangan masyarakat Batak; Ya’ahowu! di dalam masyarakat Nias.
Sejauh ini kita sudah membahas bagaimana kata “damai sejahtera” digunakan dalam kehidupan sehari-hari bagi orang Yahudi. Tetapi, apakah arti “damai sejahtera” itu sendiri? Alkitab menerjemahkan kata “syalom” menjadi “damai sejahtera”. Bukan semata-mata “damai” saja, meskipun kata syalom itu sendiri memang berarti “damai” atau “perdamaian”. Arti kata “syalom” memang jauh lebih luas daripada sekadar “damai” saja. Berikut ini adalah sejumlah kata dan konsep yang digunakan untuk menerjemahkan kata “syalom”, sehingga kita dapat membayangkan kekayaan makna yang dikandungnya.
1. Persahabatan Syalom antara sahabat berkaitan dengan hubungan yang akrab (Zakharia 6:13). Dalam Mazmur 28:3 orang diingatkan akan sahabat yang mulutnya manis, tetapi niatnya jahat:“Janganlah menyeret aku bersama-sama dengan orang fasik ataupun dengan orang yang melakukan kejahatan, yang ramah dengan teman-temannya, tetapi yang hatinya penuh kejahatan.” Kata “ramah” di sini merujuk kepada ucapan yang penuh syalom. Dalam versi bahasa Inggris penggunaan kata ini menjadi lebih jelas: Dalam 1 Raja-raja 2:13 dikisahkan pula tentang Adonia yang menghadap kepada Batsyeba, ibu Salomo, dan ditanyai, “Apakah engkau datang dengan maksud damai?” Ia menjawab,“Ya, damai!” Namun pada kenyataannya tidak demikian. Ia datang dengan niat jahat.
2. Kesejahteraan Kata syalom juga berarti kesejahteraan yang menyeluruh, termasuk kesehatan dan kemakmuran yang semuanya berasal dari Tuhan. Hal ini dapat kita temukan dalam 2 Raja-raja 4:26 ketika hamba Elisa bertanya kepada perempuan Sunem dalam cerita ini, “Selamatkah engkau, selamatkah suamimu, selamatkah anak itu?”Dalam bahasa aslinya, bahasa Ibrani, pertanyaan ini berbunyi, “Apakah engkau memiliki damai [sejahtera]?” Maksud pertanyaan ini mirip dengan menanyakan kesejahteraan orang lain seperti dalam pertanyaan, “Apa kabar?” Maksudnya tentu bukan hanya sekadar menanyakan berita tentang orang yang dimaksudkan, melainkan menanyakan keberadaan menyeluruh orang tersebut.
3. Keamanan Dalam Hakim-hakim 11:31, Yefta mengucapkan kaulnya bahwa bila ia kembali dari medan perang “dengan selamat” (dengan aman, dalam syalom), maka makhluk pertama yang keluar dari pintu rumahnya untuk menemuinya akan dipersembahkannya kepada Tuhan sebagai korban bakaran. Dalam Yesaya 41:3, Tuhan berbicara tentang utusan-Nya yang akan mengalahkan lawan-lawannya. “Ia akan mengejar mereka dan dengan selamat (dengan syalom) ia melalui jalan yang belum pernah diinjak kakinya.”
4. Keselamatan Akhirnya kata syalom juga digunakan dalam kaitan dengan “keselamatan”. Dalam Yesaya 57:19 dikatakan, “Aku akan menciptakan pujipujian. Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang dekat -- irman TUHAN -- Aku akan menyembuhkan dia!” Berita “damai sejahtera” yang diberitakan berkaitan erat dengan kesembuhan yang Tuhan janjikan. Keselamatan yang utuh dapat dilihat dari penggunaan kata “damai sejahtera” dalam hubungannya dengan “keadilan” (Yesaya 60:17) atau seperti dalam Mazmur 85:11 yang menyatakan “Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.”
Uraian di atas telah menggambarkan secara lebih luas dan mendalam apa yang dimaksudkan dengan memberlakukan apa yang Allah kehendaki di dalam hidup kita seperti yang telah kita lihat dalam Kitab Ulangan dan Injil Yohanes. Kita sudah melihat bahwa damai sejahtera bukanlah sesuatu yang akan hadir secara otomatis di dalam hidup kita, melainkan harus kita upayakan dengan kerja keras dan kesungguhan.
RANGKUMAN
Memahami arti damai sejahtera akan menolong kita untuk lebih mengerti bagaimana caranya mengukur apakah suatu komunitas atau jemaat memiliki damai sejahtera dan memberlakukannya di dalam hidupnya sehari-hari. Jikalau kita memberlakukan kehendak Allah maka damai sejahtera Allah akan hadir di dalam hidup kita.
Rabu, 15 September 2021
BAB III Gereja yang Hidup di Dunia Bahan Alkitab: Matius 28:16-20; Kisah 2:44-47; 6:1-6; 1 Korintus 11:20-34
BAB III
Gereja yang Hidup di Dunia Bahan Alkitab: Matius 28:16-20; Kisah 2:44-47; 6:1-6; 1 Korintus 11:20-34
Mata pelajaran: PABP
Kelas: IX (Sembilan)
Guru: Vita Ria P., S.Pd
Kompetensi Dasar
|
3.2 |
Menjelaskan karya Allah melalui perubahan-perubahan baru yang
dihadirkan gereja di tengah-tengah dunia |
|
4.2 |
Membuat refleksi terhadap perubahan-perubahan baru yang
dihadirkan gereja di tengah-tengah
dunia |
Menyanyikan
lagu NKB 200: 1-3 ”Di Jalan Hidup yang Lebar, Sempit”.
Sebaliknya,
patut disayangkan bahwa ada gereja yang tidak mengembangkan kreativitasnya
untuk menghadirkan program-program untuk orang muda dan remaja.
Kegiatan-kegiatan yang disediakan hanyalah persekutuan remaja berupa kebaktian
remaja, persekutuan doa, vocal group, dan kegiatan-kegiatan sejenis itu. Di
banyak kota besar gereja-gereja yang tidak mengembangkan pelayanan yang kreatif
untuk orang muda seringkali kehilangan orang-orang muda dan remajanya yang lari
ke gereja-gereja lain.
Materi
B.
Sumber: Dok. Kemdikbud Gambar
3.1 Petrus berkhotbah pada hari Pentakosta
Gereja
yang Memberitakan
Dalam Kisah Para Rasul pasal 2 digambarkan bahwa pada hari Pentakosta yang pertama, tiga ribu orang mengaku percaya dan dibaptiskan. Semua ini dimulai ketika Petrus memberitakan tentang Yesus yang bangkit kepada orang banyak yang ada di Yerusalem. Dalam Kisah 2:14 dikatakan, “Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: ‘Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.’
Tugas yang mereka laksanakan
disebut dalam bahasa Yunani sebagai kerugma atau “pemberitaan”. Kerugma sendiri
sebetulnya berarti “pengumuman”, seperti yang biasanya disampaikan oleh petugas
kerajaan yang menyampaikan berita-berita penting pada masa itu, karena saat itu
belum ada surat kabar atau media massa lainnya.
pemberitaan apa yang disampaikan oleh
gereja? Dalam contoh dari Kisah 2:14 kita melihat bahwa Petrus memberitakan
tentang siapa Yesus itu dan apa makna kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya.
Di dalam kebaktian-kebaktian kita sekarang mungkin kita mendengar berbagai
pemberitaan yang lain. Misalnya khotbah yang berisi penghiburan untuk jemaat
yang sedang berduka cita, atau pengajaran tentang bagaimana menjalani kehidupan
sebagai orang Kristen, atau tentang tanggung jawab orang Kristen dalam
kehidupan di masyarakat dan bagaimana menjalin hubungan dengan orang-orang lain
yang berbeda keyakinan, dan lain-lain.
C. Gereja yang Bersekutu
Di atas sudah dijelaskan bahwa
pemberitaan atau kerugma disampaikan dalam konteks ibadah. Itulah yang terjadi
dalam kehidupan orang Kristen perdana dan yang biasa kita sebut sebagai
“khotbah” sekarang. Dalam Alkitab Perjanjian Baru, kita dapat menemukan 106
kata “memberitakan”.
Dalam 1 Korintus 1:23 kita menemukan
ucapan Rasul Paulus tentang apa atau siapa yang ia beritakan, yaitu, “tetapi
kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu
sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan…” Bagaimana bentuk
ibadah yang dilakukan orang-orang Kristen perdana? Apakah ibadah mereka sama
dengan ibadah gereja kita sekarang? Ternyata tidak! Ibadah mereka sangat
berbeda dengan ibadah yang kita kenal sekarang. Ibadah yang umumnya terdapat di
gereja-gereja sekarang sudah berkembang jauh karena berkembangnya pemahaman
tentang arti liturgi yang dimiliki oleh masing-masing gereja.
D. Gereja yang Tidak Membeda-bedakan
kisah Para Rasul melukiskan
kehidupan umat Kristen perdana yang indah. Mereka tidak egois melainkan
membagi-bagikan harta mereka kepada semua orang dan hidup dengan secukupnya,
sehingga setiap orang dapat hidup dengan cukup pula. Tidak mengherankan apabila
dalam ay. 47 dikatakan bahwa “… mereka disukai semua orang”. Orang-orang yang
bukan Kristen, yang ada di sekitar mereka dan melihat kehidupan kelompok baru
ini, tampak senang dengan mereka.
Dalam Perjamuan Kasih ini tergambar
persekutuan yang sangat erat dan mendalam antara orang-orang Kristen perdana
ini. Tidak ada pembeda-bedaan di antara mereka. Orang-orang dari kelas atas
bergabung dengan mereka yang dari kelas bawah. Orang seperti Onesimus, seorang
budak yang melarikan diri dari rumah tuannya, disapa 71 sebagai anak dan buah
hati oleh Rasul Paulus (lih.: Flm.). Dalam Galatia 3:28, Paulus mengatakan,
“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau
orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah
satu di dalam Kristus Yesus.” Sekat-sekat yang memisahkan manusia berdasarkan
ras (Yahudi dan Yunani), kelas (hamba dan orang merdeka), maupun jenis kelamin
(laki-laki dan perempuan), kini dihapuskan oleh kasih Yesus Kristus yang
mendamaikan kita semua.
E.
Pdt.
Dr. Martin Luther King, Jr. dan Perjuangannya
Pdt. Dr. Martin Luther King, Jr.
(1929-1968),seorang pendeta Gereja Baptis, adalah seorang tokoh pejuang hak
asasi manusia dari Amerika Serikat. Ia berjuang untuk hak-hak orang-orang kulit
hitam yang tidak dianggap sebagai manusia yang setara dengan orang-orang kulit
putih, karena mereka adalah keturunan budak. Seseorang yang dilahirkan dari
pasangan campuran, akan melahirkan keturunan yang selamanya dianggap “cacat”,
karena darah pasangan yang berkulit hitam. Ini disebut sebagai “Aturan Setetes
Darah”. Artinya, bila ada setetes saja darah orang kulit hitam pada diri
seseorang, maka hal itu akan membuatnya tidak layak digolongkan sebagai orang
kulit putih.
Pada masa itu, orang-orang kulit hitam
dilarang masuk ke tempat-tempat umum, restoran-restoran yang disediakan khusus
untuk orang-orang kulit putih. Gereja mereka pun dipisahkan oleh warna kulit
mereka. Ada gereja-gereja yang dikhususkan untuk orang kulit putih yang tidak
boleh dimasuki oleh orang kulit hitam. Bila mereka naik bus, mereka harus duduk
di belakang. Apabila ada orang kulit putih yang naik ke dalam bus itu, mereka
harus berdiri dan memberikan tempat duduk mereka kepada orang itu,
meskipun
misalnya yang naik itu seorang laki-laki muda yang sehat dan kuat, dan orang
kulit hitam itu seorang perempuan tua rentah dan sakit.
Pada suatu malam yang dingin di kota
Montgomery, Alabama, Amerika Serikat, pada bulan Desember 1955, Rosa Parks,
seorang p e r e m p u a n k u l i t hitam, menolak untuk menyerahkan kursinya
di bus kepada orang kulit putih yang baru naik. Hari itu ia sangat lelah
setelah bekerja seharian Karena itu ia menolak untuk berdiri. “Kamu tidak mau
berdiri?” tanya sang sopir. Rosa Parks menatap lurus pada wajahnya dan berkata,
“Tidak.” “Kalau begitu,” kata Blake, sopir itu, “saya akan lapor ke polisi dan kamu
akan ditahan.” Dan Parks menjawab perlahan, “Silakan.”
Parks ditahan dan didenda $10.
Hal ini kemudian memicu gerakan antidiskriminasi besar-besaran di seluruh AS.
Pdt. Dr. Martin Luther King, Jr., mengorganisasikan sebuah boikot bus yang
kemudian menyebar di seluruh wilayah selatan AS. Selain itu, Pdt. King juga
menggerakkan gereja dan orang-orang kulit hitam untuk melawan undang-undang
yang menjadikan mereka bukan warga negara. Pada 28 Agustus 1963, ia mengadakan
“Mars di Washington”, sebuah unjuk rasa untuk menuntut hak-hak orang kulit
hitam untuk pekerjaan dan kemerdekaan. Unjuk rasa ini diikuti antara 200.000
hingga 250.000 orang, kebanyakan orang kulit hitam, tetapi juga ada beberapa
ribu orang kulit putih yang bersimpati dengan perjuangan mereka. Dalam “Mars di
Washington” itu, Pdt. King menyampaikan pidatonya yang sangat terkenal, yang
berjudul “Aku Bermimpi”. Dalam pidatonya itu, ia antara lain mengatakan,
Pdt. King dibunuh pada 4 April 1968 oleh orang yang membencinya. Namun menjelang ajalnya, King berkata, “Saya memaafkan orang itu.” Perjuangan Pdt. King pada tahun 1950-an hingga 1960-an itu baru terlihat buahnya ketika Barrack Obama, seorang berdarah campuran kulit putih (ibunya) dan Afrika (ayahnya), terpilih menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat terpilih pada tahun 2008. Semua ini rasanya tidak mungkin terjadi apabila Pdt. King tidak berjuang untuk hak-hak asasi orangorang kulit hitam. Ini pun tidak mungkin terjadi, apabila Pdt. King tidak terinspirasi oleh ajaran Tuhan Yesus.
G.
Nyanyian Penutup:
“Mengasihi Lebih Sungguh” Lewat lagu ini,
siswa diajak untuk lebih bersungguh-sungguh lagi dalam mengasihi, mengampuni
dan melayani sesama. Ini bukan perintah yang sederhana dan mudah, sebab Tuhan
Yesus sendiri mengatakan, “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia
akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan
karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
H.
Doa
Penutup
Tuhan, ajarlah agar kami rela
melakukan kehendak-Mu, apapun yang mungkin terjadi. Tambahkanlah jumlah
orang-orang yang berkehendak baik dan yang memiliki kepekaan moral. Berikan
kami keyakinan yang diperbarui akan prinsip antikekerasan, dan jalan kasih
seperti yang diajarkan oleh Kristus. Amin
Rabu, 01 September 2021
Tugas dan Tanggung Jawab Gereja
Pengertian dan Fungsi Panggilan Gereja
Landasan hidup gereja adalah pelayanan yang penuh cinta kasih persaudaraan di antara sesama manusia (Kisah. 4:32). [3] Panggilan dan fungsi gereja bukan hanya mengenai spiritual saja tetapi gereja juga harus mampu menyikapi tantangan jaman ditengah realita kehidupan, politik, ekonomi, kekerasan, hak azasi, gender, ekologi, globalisasi, dan sebagainya.
Tugas dan Tanggung Jawab Gereja
Dalam
menjalankan misinya, gereja terpanggil dalam tri tugas yakni koinonia,
marturia, dan diakonia. Dalam menjalankan tri tugas gereja tersebut, diharapan akan
dapat menyentuh semua aspek umat dan tidak ada yang tertinggal, itulah yang
disebut dengan pelayanan holistik. Ketiga tugas gereja tersebut tidak dapat
dipisahkan dalam mendukung hakekat gereja yang kudus. Artinya tidak ada yang
lebih penting dari antara ketiganya tetapi sama-sama penting dan harus samasama
dijalankan dalam menjalankan tugas panggilan gereja.
Koinonia
Koinonia merupakan hidup kebersamaan orang-orang di dalam iman yang sama yakni pada Yesus Kristus. Dalam persekutuan itu mereka menerima anugerah dari Kristus yang kemudian diteruskan kepada seluruh ciptaan. Koinonia itu adalah Tubuh Kristus yang sekaligus menunjukkan manifestasi karya penyelamatan Allah bagi yang bersekutu. Kononia itu dibentuk oleh pengikut Kristus yang selalu menghadapi hal-hal yang diketahui. Persekutuan yang dimaksud bukanlah persekutuan biasa, seperti yang kita lihat dan kenal dalam masyarakat. Persekutuan ialah persekutuan “yang penuh” yang timbul oleh iman bersama dari anggotaanggotanya kepada Kristus.[4]
Marturia
Marturia
berarti kesaksian, saksi itu dipanggil untuk memberi kesaksian. Sebagai saksi,
maka bukanlah orang yang memberi kesaksian tersebut menjadi pusat perhatian,
tetapi Dia yang disaksikan. Tujuan memberi kesaksian bukanlah untuk kemuliaan
atau kepentingan diri sendiri, bukan pula untuk kebenaran atau keadaan diri
sendiri, tetapi siapa yang disaksikan. Dalam dunia Kristen modern ‘kesaksian’
berarti menceritakan tentang apa yang dikerjakan Kristus atas hidup seseorang menjadi
pengalaman orang lain.[5]
Tugas marturia sering dipahami dalam arti sempit sebagai penginjilan kepada non-kristen. Tetapi merujuk pada makna marturia dalam Perjanjian Baru, penginjilan hanyalah salah satu bagian dari marturia. Tugas panggilan marturia mencakup kesaksian dalam ajaran yang benar dan tindakan yang benar-benar mengacu pada firman Tuhan. Tugas marturia juga menyangkut keterbukaan gereja secara positif, kritis dan teologis terhadap berbagai kenyataan kehidupan.[6]
Diakonia (Pelayanan)
Diakonia
mencakup arti yang luas, yaitu semua pekerjaan yang dilakukan dalam pelayanan
bagi Kristus di jemaat, untuk membangun dan memperluas jemaat, oleh mereka yang
dipanggil sebagai pejabat dalam tugas-tugas gereja dan oleh anggota jemaat
biasa. Dalam diakonia secara luas ini terdapat tempat diakonia dalam arti
khusus, yaitu memberi bantuan kepada semua orang yang mengalami kesulitan dalam
kehidupan masyarakat. [7]Apa
yang kita pahami dari bahasan ini menjadi jelas maksud dari melayani di dalam
jemaat. Setiap karunia atau kharisma merupakan pemberian yang dipercayakan
kepada setiap orang dengan maksud supaya mereka yang mendapat karunia itu
memamfaatkannya dan menggunakan karunia yang Tuhan berikan untuk melayani
Tuhan. Yesus menyimpulkan: “bahwa Anak manusia datang bukan untuk dilayani,
melainkan untuk melayani dan memberi nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak
orang” (Mat. 20:28).
[1] Herman Cremer, Biblico-Theological Lexicon of the New Testament Greek (Edinburrgh & New York: T&T Clark & Charles Sribner’s Sons, 1891), 332
[2] Anreas A. Yewangoe, Tidak Ada Gheto: Gereja di dalam Dunia (Jakarta: BPK-Gunung Mulia & Litkom PGI, 2009), 4
[3] T. Kacobs, Dinamika Gereja (Yogyakarta: Kanisius dan Nusa Indah, 1979), 36.
[4] 5 J.L. Ch. Abineno, Pedoman
Praktis Untuk Pelayanan Pastoral (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 71.
[5] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini” (Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF, 1996), 340.
[6] Viktor Tinambunan, Gereja & Orang Percaya (Pematang Siantar, LSAPA STT HKBP, 2006), 65.
[7] A. Noordegrraaf, Orientasi
Diakonia Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 34.
Minggu, 08 Agustus 2021
Bertumbuh Sebagai Keluarga Allah Bacaan Alkitab: Yohanes 15:1-8; Lukas 8:4-15, Mazmur 1:1-6
Bertumbuh Sebagai Keluarga Allah
Bacaan Alkitab:
Yohanes 15:1-8; Lukas 8:4-15, Mazmur 1:1-6
Mapel : PAKBP
Kelas : XI MM-OTKP
1. Bertumbuh Sebagai Keluarga Allah
A. Keluarga yang Bertumbuh
Apa
yang kamu pahami dengan bertumbuh sebagai keluarga Allah?
Bertumbuh sebagai keluarga Allah berarti keluarga bertumbuh di dalam Kristus yang mempunyai makna lebih mengenali Dia, lebih mengasihi dan menaatiNya. Keluarga Kristen merupakan pusat dan tujuan dari perjanjian Allah, yakni untuk menjadi saksi bagi dunia. Karena itu di dalam anugerah Allah, kita sebagai anggota keluarga Kristen harus melakukan yang terbaik dalam membangun keluarga yang berkenan kepada Allah. Keluarga yang berkenan kepadaNya adalah keluarga yang berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus. Seperti pengajaran Tuhan Yesus yang menggambarkan bahwa Allah memiliki tujuan yang jelas bagi setiap manusia ciptaanNya termasuk keluarga, yaitu agar umat manusia bertumbuh, lalu menghasilkan buah (Yohanes 15:1-8).
a.
Berakar
Berakar
menunjuk pada pohon
dan tanaman lain
yang akarnya tertancap jauh di dalam tanah. Akar berfungsi untuk memungkinkan tanaman
bertahan hidup dan untuk
memperkuat atau memperkokoh berdirinya satu tanaman.
Sama halnya dengan
keluarga yang berakar
dalam Kristus, sumber kehidupan.
Keluarga yang mendasarkan dan menjadikan Kristus sebagai fondasi dalam
kehidupan keluarga, dan membiarkan Kristus menjadi Kepala keluarga yang
memimpin kehidupan keluarga. Dengan demikian, keluarga akan mampu menghadapi setiap persoalan hidup yang menerpanya.
Keluarga yang berakar dalam Kritus juga
berarti:
1) Menjadikan firman Allah
sebagai tempat tinggal
keluarga.
2)
Menyampaikan
pengalaman atau kesaksian iman para
leluhur kepada anggota keluarganya.
b. Bertumbuh
Tanaman dikatakan bertumbuh apabila ia menampakkan perubahan. Kunci
untuk bertumbuh bagi keluarga Kristen adalah mempelajari firman Tuhan,
memperkatakan firman Tuhan dan melakukan firman Tuhan dalam hidup sehari-hari.
Beberapa aspek pertumbuhan dalam
keluarga adalah sebagai berikut:
1) Keluarga sebagai
tempat bernaung kudus, artinya keluarga memberi perlindungan terhadap
nilai-nilai yang merusak budaya keluarga.
2) Keluarga yang menyambut kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menghadirkan simbol atau objek yang dapat mengingatkan kehadiran Allah (salib, gambar Kristen, lagu rohani, dan lain-lain).
3) Keluarga yang mencari tuntunan Allah yang dilakukan dalam berbagai pertemuan dan kebaktian keluarga
4) Keluarga yang menopang kehidupan religius/rohani masing-masing anggota keluarga.
Terdapat hambatan yang menyebabkan orang tidak bertumbuh, yaitu banyak orang Kristen datang beribadah dan sangat senang mendengar khotbah, namun hanya sekedar untuk kepuasan intelektual, tanpa memiliki sukacita dan kerinduan yang besar untuk mempraktekkannya dalam kehidupan. Hambatan lain adalah responnya terhadap firman Tuhan.
c. Berbuah
Seperti pohon yang menghasilkan buah, kehidupan keluarga kita pun harus
menghasilkan buah kalau kita sudah berakar dan bertumbuh sebagai keluarga
Allah. Buah yang dikehendaki Allah untuk dihasilkan oleh keluarga adalah
melakukan kehendakNya sehingga
keluarga menjadi kesaksian bagi sesama di dunia
ini. Buah yang dihasilkan dalam keluarga dapat berupa:
1) Pencerminan kasih Allah dalam kehidupan sebagai
perwujudan nyata realisasi keluarga Allah.
2) Penerimaan dan komitmen dalam keluarga untuk mengasihi tanpa syarat.
3) Pengukuhan dan dorongan antar anggota keluarga untuk menemukan kelebihan dan bakat masing-masing sebagai karunia Tuhan.
B.
Penutup
Rangkuman
1. Berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus adalah suatu hal yang diinginkan Tuhan terjadi pada setiap manusia ciptaanNya, termasuk keluarga. Individu dan keluarga tidak dapat bertumbuh dan berbuah kalau tidak berakar di dalam Kristus. Bertumbuh dalam hubungan dengan Kristus mempunyai makna lebih mengenali Dia, lebih mengasihi dan menaatiNya.
2. Bertumbuh sebagai keluarga Allah berarti bertumbuh dalam pengenalan akan Allah melalui karyaNya, firmanNya dan pengorbanan AnakNya sebagai korban tebusan keselamatan bagi umat manusia.
Gbu all...
Kamis, 05 Agustus 2021
Hidup Berpengharapan
|
Modul 2 |
|||||||||||||
|
Mapel |
Pendidikan
Agama Kristen & Budi Pekerti |
||||||||||||
|
Kelas/Semester |
VIII /
Semester 1 |
||||||||||||
|
Tema |
BAB 2 - Hidup
Berpengharapan |
||||||||||||
|
Pembukaan Shalom anak – anak kelas depalan, berjumpa kembali dengan pelajaran
Pendidikan Agama Kristen & Budi Pekerti. Untuk modul 2 kali ini kita akan
membahas u materi Bab 2 – Hidup
Beriman. Namun sebelumnya kita berdoa terlebih dahulu supaya Tuhan menyertai
belajar kita. |
|||||||||||||
|
Tujuan pembelajaran Setelah mengikuti proses pembelajaran,
peserta didik diharapkan dapat: ü Memahami
makna hidup berpengharapan ü Membandingkan
ciri-ciri orang hidup berpengharapan dan tidak berpengharapan ü Menunjukkan
contoh perilaku berpengharapan ü
Menjabarkan pentingnya memiliki pengharapan ü Menggali
penyambutan Simeon atas kelahhiran tuhan Yesus dalam Injil Lukas 2:23 |
|||||||||||||
|
Kegiatan Pembelajaran Kegiatan 1 : Memuji Tuhan “ Pelangi
kasihNya” dan membaca cerita Ibu Monika dan keluarganya. Kegiatan 2 : Melakukan pendalaman
Alkitab Lukas 2:23 – 32
; belajar dari Simeon Kagiatan 3 : Doa pentutup dan
mengerjakan LKPD |
|||||||||||||
|
Materi A. Membaca Cerita Di kota Thagaste,
Afrika Utara, tinggallah keluarga dengan tiga orang anak. Sang ibu bernama Monika. Ia adalah
seorang Kristen yang taat. Sementara sang bapak bernama Patrisius, seorang
pejabat tinggi di pemerintahan yang membenci kekristenan. Tak segan-segan ia mencemooh istrinya
bila hendak mengajarkan iman Kristen kepada anak-anaknya. Di bawah pengaruh
buruk sang bapak, anak sulungnya hidup dalam pesta pora, foya-foya, dan
pergaulan bebas. Walaupun sang ibu terus menasihatinya, anak itu tetap saja bandel. Melihat perilaku anak sulungnya,
Monika merasa sangat sedih. Segala cara sudah ia coba untuk menyadarkan anak
sulungnya. Namun, Monika selalu gagal, tapi, ia tidak putus asa. Dengan
sabar, ia terus berusaha membimbing anaknya. Ia juga tidak pernah putus berdoa bagi
anak dan suaminya. “Kiranya Tuhan yang mahabaik dan mahakasih, melindungi dan
membimbing suami dan putraku ke jalan yang benar dan dikehendaki-Nya,”
demikian ia berdoa. Doa itu ia naikkan bertahun-tahun lamanya dengan tekun
dan tabah. Suatu hari
Patrisius sakit keras.
Sesaat sebelum meninggal dunia, ia bertobat dan meminta agar dibaptis.
Sayangnya, hal tersebut tidak membuat anak tertuanya berubah. Ia tetap hidup
dalam dunia kelam, tidak mau bertobat dan terus menyakiti hati ibunya. Hingga
suatu saat sang anak memutuskan untuk meninggalkan
ibunya dan pergi ke Italia. Hati Monika benar-benar hancur. Ia begitu sedih
harus berpisah dari anaknya apalagi di usianya yang ke-29 tahun, anaknya
belum berubah. Monika tidak kehilangan pengharapan. Ia terus mendoakan anaknya. Saat itu pun tiba.
Di Italia, tepatnya di Kota Milan,
sang anak bertemu dengan Uskup Ambrosius yang
kemudian membimbingnya secara pribadi. Akhirnya tepat pada 24 April 387, doa Monika yang dinaikkan lebih dari 20 tahun itu akhirnya terjawab. Hari itu, anaknya memberikan diri
untuk dibaptis, memutuskan hidup baru, dan bertobat untuk kemudian
meninggalkan dosa-dosanya. Tujuh bulan
kemudian, sang anak kembali ke Afrika Utara
dan menjadi Uskup di Hippo pada usia
41 tahun. Sang
anak adalah Agustinus, yang kemudian dikenal sebagai seorang Bapa Gereja
yang disegani dan dihormati. Seseorang yang kemudian sangat berpengaruh dalam
sejarah gereja. Terima kasih
kepada Ibu Monika, yang tidak
pernah kehilangan pengharapan dan tak sekalipun putus asa untuk mendoakan anaknya. Pengharapan yang
mengubah hal yang
sebelumnya mustahil menjadi kenyataan. (Sumber:
Augustine of Hippo
oleh Peter Brown,
1967). B.
Belajar dari tokoh Simeon ( Lukas
21 : 23 – 32) Ada
seorang bernama Simeon. Lukas menyebut Simeon sebagai “seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel”
(Lukas 2:25). Ia dengan setia
terus beribadah kepada
Tuhan, berdoa, menyembah, dan
melayani Tuhan di Bait Allah.
Simeon percaya saatnya akan tiba bagi
Allah untuk memenuhi janji-Nya. Kepercayaan yang terus dipegang dan
dipeliharanya sampai masa tuanya. Tentu tidak
mudah bagi Simeon untuk terus mempertahankan
keyakinannya itu. Apalagi di tengah ketidakjelasan nasib bangsanya, juga
keadaan fisiknya yang semakin menurun karena usia lanjut. Akan tetapi, Simeon
tetap berpengharapan Ia tetap teguh meyakini bahwa ia akan melihat Sang
Mesias yang ditunggu- tunggu itu (Lukas 2:
26). Pengharapan
Simeon tidak sia-sia. Suatu hari, Roh Kudus menggerakkan hatinya untuk datang
ke Bait Suci. Di sana, ia bertemu dengan Maria dan Yusuf yang sedang membawa bayi Yesus.
Sebagaimana aturan dalam hukum Taurat, beberapa hari setelah dilahirkan,
setiap bayi laki-laki harus dibawa ke Bait Suci untuk diserahkan kepada
Allah. Begitu melihat bayi Yesus,
Simeon segera menggendong-Nya. Sambil memuji Allah ia pun berseru,“Sekarang,
Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi
dalam damai sejahtera, sesuai
dengan firman-Mu, sebab
mataku telah melihat
keselamatan yang dari pada-Mu, yang
telah Engkau sediakan di hadapan segala
bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi
bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi
umat-Mu, Israel” (Lukas
2:29-32). Pujian ini adalah ungkapan sukacita Simeon bahwa ia boleh mengalami
bagaimana janji Allah digenapi, bukan hanya bagi dirinya, tetapi
juga bagi seluruh
umat Israel. |
|||||||||||||
|
Lembar Kerja
Peserta Didik (LKPD) Amatilah peristiwa – peristiwa yang ada diseiktarmu, kemudian
tulisakan di bawah ini lima ciri
hidup orang yang
memiliki harapan, dan
kolom satunya diisi
dengan lima ciri hidup
orang yang tidak
memiliki harapan.
*ketentuan tugas disesuaikan dengan
keadaan siswa masing – masing sekolah. |
|||||||||||||
SENI TARI KELAS 9
Tari Kreasi kelas 9
-
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) Kompetensi Dasar 3.1. M engampuni dan menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus . Anak-anak,...
-
MODUL PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN BUDI PEKERTI KELAS VII SEMESTER 1 Mata Pelajaran ...

